Memahami Hakikat Musibah
amirfath.com, Opini (20), Des 2020 – Hari itu tiba-tiba datang seseorang menceritakan perjalanan hidupnya yang penuh kemudahan. Ia mengatakan bahwa tadinya semua usaha yang ia lakukan selama ini aman-man saja. Semua target uasaha selalu tercapai. Maka ia semakin mempercepat pengembangan usaha baru. Berbagai pintu usaha mulai ia lakukan. Dari usaha restoran, ekspor impor sampai usaha property yang bisa meraup keuntungan miliaran rupiah. Namun apa yang kemudian menimpanya? Tiba-tiba ia tertipu. Seketika ia harus menanggung hutang di luar kemampuannya. Karenanya hari itu ia nampak tidak cerah. Ia meminta nasihat apa yang bisa memberikan motivasi buat bekal hidup selanjutnya. Terlihat dari garis wajahnya kerutan yang menydihkan. Menggambarkan betapa jalan usaha yang tempuh selama ini sangat melelahkan.
Saya katakan : Hidup ini seperti roda yang berputar. Dan kita yang mengendalikannya. Semkain lamban roda itu berputar maka akan semakin lamban mencapai tujuan. Sebaliknya semakin cepat roda itu berputar semakin cepat pula ia akan mencapai tujuan. Tapi ingat ketika anda mulai masuk jalur cepat, anda harus segera pasang seat belt, lalu pasang mata dan pasang telinga. Karena tidak mustahil di jalur cepat itu tiba-tiba ada lubang. Ingat ketika anda berlari cepat maka lubang sekecil apapaun akan sangat terasa memukul anda. Tetapi perlu dicatat bahwa lubang-lubang itu untuk membuat anda terhentak supaya tidak ngantuk atau tertidur. Demikianlah hidup yang menimpa anda. Itu ibarat lubang-lubang yang akan membuat anda terhentak supaya tiak terlena dengan apa selama ini anda rasakan nyaman dan melenakan.
Lebih dari itu anda harus tahu, bahwa di atas segala usaha dan kehebatan yang anda miliki ada ketentuan takdir. Kita semua harus beriman terhadap takdir tersebut. Karenanya itu termasuk rukun iman. Siapapun tidak akan bisa menghindar dari tekdir. Semua yang menimpa kita nyamana atau sengsara itu sejalan dengan garis takdirNya. Maka siapa yang tidak beriman kepada takdir ia akan mudah mengalami stress. Tidak sedikit orang bunuh diri karena tertimpa sebuah musibah. Sebab ia telah memastikan bahwa semua yang ia rencanakan harus terjadi. Dalam aturan agama Islam yang kita yakini ada tuntunan bahwa kita tidak boleh serba pasti. Karena itu kita diajarkan agar selalu mengucapkan insya Allah (jika Allah menghendaki) (Lihat QS. Al Kahfi: 24). Supaya kita sadar bahwa apa yang akan kita alami di masa-masa yang akan datang atau yang sedang kita jalani saat ini itu tidak lepas dari ketentuanNya.
Pelajaran lain lagi dari Nabi saw. adalah bahwa ketika kita ditimpa musibah hendaklah segara mengucapkan “qadarullah maa syaa’a” (ini ketentuan Allah sejalan dengan kehendakNya). Lalu Nabi mengajarkan agar jangan mengatakan “law faaltu kadzaa..” (sendainya saya melakukan begini…) niscaya tidak terjadi begini. Hindari sikap ini kata Nabi. Sebab dari sini syetan akan masuk. (lihat HR. Ibn Hibban, no. 1013). Kita harus segera mengatakan ini takdir Allah. Pun segera kembalikan kepadNya, supaya syetan tidak punya kesempatan untuk membaut kita menyesal, atau putusa asa bahkan bia jadibunuh diri karenanya bisikannya. Pun juga dengan mengembalikan kepada Allah swt. kita akan segera lebih tenang. Karena itu terjadi karena takdirNya. Siapapun, dan sehati-hati bagimanapun jika takdir itu memang harus menimpa maka tidak ada seorangpun yang bisa menghalnginya.
Dan boleh jadi sebuah musibah menimpa yang miskin atau salih. Maka tidak perlu mengatakan mengapa aku yang ditimpa kok bukan yang kaya itu? Atau mengakatakan mengapa aku yang ditimpa musibah padahal aku sudah salih, mengapa kok tidk yang bejat itu? Sebab masing-masing sudah ada garis takdirnya. Yang penting kita dalam kondisi ditimpa musibah segera bersabar, berihtisab (mengharap pahala dari Allah) dan berdoa. Dulu Nabi saw. pernah mengajarkan sebuah doa kepada Ummu Salamah, pada saat Abu Salamah terbunuh mati syahid dalam sebuah pertempuran. Bunyia doanya begini : innaa lillahi wa innaa ilaihi raaji’uun, allammu’jurnii fii mushiibatii wakhlufnii khairan minhaa (sunnguh kami semua milik Allah, dan kepadaNya kami pasti kembali. Ya Allah beri aku pahala dalam musibah ini dan beri aku ganti yang kebih baik). Lalu Ummu Salamahbertanya: apakah ada pengganti yang lebihbaik dari Abu Salamah wahar Nabi? Nabi menjawab: berdoalah. Ternyata doa Ummu Salamah dikabulkan dan ia kemudian mendapatakan Rasulullah saw, sebagai penggantinya. (lihat Al Mustakhjraj alaash shahih Muslim, no: 2056).