Bekal Kita Hanya Hati
amirfath.com, Opini (19), Des 2020 – Allah swt. berfirman : “di hari itu harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (QS. Asy Syu’ara: 88-89). Benar segela apa yang paling manusia banggakan pada hari Kiamat nanti tidak berguna. Kecuali hati yang bersih. Pertama, bersih dari kemusyrikan, sehingga ia hanya memurnikan tauhid kepada Allah swt. Baginya semua selain Allah hanya makhluk, maka tidak pantas dituhankan. Makhluk serba terbtas kemampuannya. Berbeda dengan Allah maha luas kekuasaanNya. Maka tidak ada tempat bergantung kecuali kepadaNya ( Allahush shamad ) (QS. Al Ikhlash : 2). Maka salah orang yang menyembah makhluk, sebab makhluk tidak punya kepastian. Akibatnya, hati mereka menjadi keras karena digantungkan kepada materi dan benda-benda. Sebaliknya, jika hati tersebut digantung kepada Allah yang ghaib, maka ia akan menjadi lembut dan bijak. Inilah makna firman Allah dalam surah Al Baqarah, 74 : “Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi”.
Kedua, Bersih dari segala penyakit hati, seperti: kesombongan, dengki, hasud, riya’ dan sebagainya. Ini akibat dari ketergantungan kepada mteri, bahwa ketika seseorang terlalu bergantung kepada benda-benda maka ia akan penuh dengan penyakit-penyakit tersebut. Karenanya dalam surah Al Humazah: 2-3, ketika Allah swt. menggambarkan tentang pribadi pengumpat “al humazah – al lumazah”, Allah menyebutkan setelah itu bahwa sebabnya adalah karena ketergantungan kepada harta dan benda-benda. Allah berfirman : “alladzii jam’aa maalaw wa ad dadah, yahsabu anna maalahu akhladah” (dia yang suka menumpuk-numouk harta dan menghitung-hitungnya, dan ia yakin bahwa hartnya akan membuat dirinya semakin kekal).
Dalam ayat di atas kita mendapatkan bahwa manusia materialisme sangat mengandalkan dua hal: pertama harta “maal”, kedua, anak “banuun”. Karenanya mereka bekerja keras untuk menyiapkan dua hal tersebut. Mereka mati-matian memburu harta, sedemikian rupa sampai ke tingkat tidak sempat malaksankan shalat. Akibatnya hati mereka menjadi kering. Lalu mereka ceburkan diri dalam hiburan-hiburan, setelah itu mabuk-mabukan. Puncaknya mereka bunuh diri. Di sisi lain, untuk membuat bemper agar dirinya aman di masa lemah, mereka menyiapkan anak-anak yang akan melanjutkan usahanya. Anak dibina secara materi saja, sementara ruhani mereka tidak diurus. Mereka disekolahkan ditempat-tempat yang bergengsi untuk memburu status dunia, sementara mereka tidak sempat belajar dengan baik cara membaca Al Quran. Maka jiwa mereka menjadi hampa tanpa iman. Kalaupun mereka mengaku beriman, tetapi iman di hatinya sangat lemah, tidak berdaya dan tidak bisa melindungi akhlaknya.
Dari sini kita paham bahwa tidak cukup seorang hamba hanya berbekal materi. Sebab di puncak kemegahan meterialisme adalah kehancuran kemanusiaan. Silahkan lihat, bagaimana mereka menyikapi diri mereka menjadi mesin-mesin yang dipekerjkan di pabrik-pabrik tanpa batas. Sebagian di pekerjakan sebagai penjaja seks komersial. Sebgaian yang lain dipaksa untuk keluar dari fitrahnya sehingga menikah sesama jenis. Dan apa yang sedang melanda dunia barat di mana mereka melegalkan pernikahan sesam jenis adalah puncak kebejatan moral yang tak terampunkan. Sungguh Allah swt. sangat murka kepada kaum Nabi Luth as. adalah karena mereka telah keluar dari kemanusiaan mereka yang hakiki. Dan belum pernah dalam Al Quran, Allah swt. menisbahkan segala sifat yang paling buruk kecuali kepada kaum Nabi Luth as.
Ini semua adalah karena kesalahan dalam menyikapi hati. Ingat hati kita hanya satu. Dan tugasnya hanya untuk mengurus iman. Maka bersihkanlah darinya segala yang bukan iman. Apalagi urusn dunia. Hati akan segera lelah dan cape ketika dipakasa mengurus dunia yang serba masalah. Kasihanilah hati kita ini. Bekal kita hanya hati yang satu ini. Jauhkan urusan dunia dari hati kita, jangan sampai masuk ke dalamnya. Nabi saw, pernah berdoa: ya Allah biarkan urusan dunia ini sampai di tanganku saja, jangan sampai masuk ke dalam hatiku. Subhanllah, ternyata benar bahwa bahwa segala ketenangan di dapat ketika hati kita terjauhkan dari urusan dunia.