Dakwah dan Ujian
amirfath.com, Artikel (21), Des 2020 –
الم(1)أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ(2)وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ(العنكبوت 3)
Alif laam miim. Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta.
Ayat di atas adalah pembuka surah Al Ankabuut. Di dalamnya Allah menegaskan kepastian adanya ujian bagi orang-orang beriman. Kata يفتنون artinya diuji, sinonimnya kata الابتلاء . Banyak ayat menggunakan kata الابتلاء maksdunya adalah ujian. Dalam surah Muhammad: 31 Allah berfirman: وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ حَتَّى نَعْلَمَ الْمُجَاهِدِينَ مِنْكُمْ وَالصَّابِرِينَ وَنَبْلُوَ أَخْبَارَكُمْ(31) (Dan sesungguhnya Kami benar-benar akan menguji kamu agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan agar Kami menyatakan (baik buruknya) hal ihwalmu). Dalam surah Al Baqarah: 124, Allah menegaskan akan menguji nabi Ibrahim: وَإِذِ ابْتَلَى إِبْرَاهِيمَ رَبُّهُ بِكَلِمَاتٍ فَأَتَمَّهُنَّ (Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya).
Iman identik dengan ujian. Imam dikatakan iman setelah diuji. Ibarat emas, ia nampak emas setelah dibakar. Ketegaran iman akan nampak semakin kokoh ketika mengalami ujian. Sebaliknya orang yang mempunyai iman lemah, ia akan semakin rapuh ketika menjalani ujian. Ujian apa saja: bisa berupa kemiskinan atau kekayaan. Dalam surah Al Baqarah:155, Allah menceritakan macam-macam ujian yang akan menimpa manusia: “Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar”. Dalam surah Al Mulk: 2, ditegaskan ujian yang lebih luas, bahwa hidup dan mati adalah ujian. Allah berfirman: Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun. Dalam surah Al An’am:165, dijelaskan bahwa ujian itu bisa berupa perbedaan derajat dan kondosi antar masing-masing manusia: Dan Dialah yang menjadikan kamu penguasa-penguasa di bumi dan Dia meninggikan sebahagian kamu atas sebahagian (yang lain) beberapa derajat, untuk mengujimu tentang apa yang diberikan-Nya kepadamu. Sesungguhnya Tuhanmu amat cepat siksaan-Nya, dan sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Dalam surah Al Maidah:48, nampak bahwa perbedaan akidah dan keyakinan meruypakan ujian: “Dan Kami telah turunkan kepadamu Al Qur’an dengan membawa kebenaran, membenarkan apa yang sebelumnya, yaitu kitab-kitab (yang diturunkan sebelumnya) dan batu ujian terhadap kitab-kitab yang lain itu; maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk tiap-tiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Sekiranya Allah menghendaki, niscaya kamu dijadikan-Nya satu umat (saja), tetapi Allah hendak menguji kamu terhadap pemberian-Nya kepadamu, maka berlomba-lombalah berbuat kebajikan. Hanya kepada Allah-lah kembali kamu semuanya, lalu diberitahukan-Nya kepadamu apa yang telah kamu perselisihkan itu”.
Dakwah: Sebuah Deklarasi Iman
Kalimat أَنْ يَقُولُوا ءَامَنَّا artinya mendeklarasikan iman. Didalamnya tercakup makna: (a) Mengakui dalam hati التصديق بالقلب bahwa ia beriman kepada Allah swt. Bahwa Dialah Allah yang pantas disembah dan dipatuhi. SelainNya hanya mahluk, tidak pantas dituhankan. Iman tersebut benar-benar terhunjam dalam hati secara jujur. Ibarat pohon yang baik, akarnya terhunjam ke bumi dan tangkainya menjulang kelangit. Allah berfirman dalam surah Ibrahim: 24 : كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ (seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit). Kejujuran iman ini membangun kesadaran akan keagungan Allah swt. Dalam dirinya sehingga terbangun خشية (rasa takut) kepadaNya. Banyak orang mengaku beriman kepada Allah, tetapi kerena iman tersebut masih lemah, maka khasyyah belum teumbuh. Itulah mengapa kita melihat banyak orang yang beriman, berani melakukan maksiat.
(b) Mengucapkan secara lisan القول باللسان bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah. Bahwa iman akan semakin terhunjam dalam dada, ketika diucapkan dengan lisan. Karenanya mendeklarasaikan dua kalimat syahadat adalah syarat masuk Islam. Itulah yang diminta Rasulullah saw. kepada pamannya Abu Thalib. Ya’ni bahwa Rasulullah saw. meminta kepadanya agar segera mengucapkan dua kalimat syahadat secara lisan sebelum meninggalnya. Sebab apapun yang telah ia lakukan untuk membela Rasulullah saw. kalau masih belum ada deklarasi secara lisan, iman tersebut belum lengkap. Termasuk beriman secara lisan, menyampaikan kebenaran yang ia yakini kepada orang lain. Sehingga orang-orang yang tidak beriman tertarik. Bukankah Rasulullah saw. siang dan malam selalu menyampaiakan kebenaran tersebut. Itulah perjuangan semua nabi. Dalam Al Qur’an kita sering menemukan kata قال atau قلت untuk bagi para nabi. Artinya bahwa para nabi itu telah mengatakan kepada kaumnya kebenaran. Disebutkan dalam surah Nuh, bahwa nabi Nuh malam dan siang telah menyeru kaumnya agar beristighfar. Itu menunjukkan bahwa memperomosikan keimanan secara lisan merupakan bagian tak terpisahkan dari hakikat keimanan yang diyakini.
(c) Mebuktikan dengan amal العمل بالجوارح. Tidak cukup iman itu hanya diletakkan dalam hati dan diucapkan secara lisan saja. Melainkan harus dibuktikan dalam bentuk perbuatan. Dalam surah Ash Shaf:3, Allah berfirman: Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tiada kamu kerjakan. Iman yang tidak didukung dengan amal, ibarat pohon yang tidak ditanam. Lama kelamaan pohon tersebut akan mati. Sebaliknya iman yang dibuktikan dengan amal, ia ibarat pohon yang ditanam dengan baik. Dalam surah Ibrahim: 24-24 Allah berfiman: Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.
Dalam Al Qur’an, Allah swt. selalu menyandingkan kata آمنوا aamanuu dan وعملوا الصالحات wa’amilush shaalihaat. Ini menunjukkan bahwa iman dan amal shaleh adalah satu kesatuan tak terpisahkan. Sejak dulu para ulama sepakat bahwa imana naik turun يزيد وينقص . Ketika mereka menjelaskan maksud pernyataan ini, dikatakan bahwa يزيد بالطاعة وينقص بالمعصية (iman bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan). Artinya bahwa naik turunnya iman sangat tergantung kepada amal yang kita lakukan. Semakin banyak amal shaleh yang kita kerjakan, semakin tinggi iman yang kita punya. Sebaliknya semakin sedikit kebaikan kita akan semakin banyak kemaksiatan yang kita perbuat. Karena menyia-nyiakan nikmat dan waktu termasuk dosa. Bila dosa kita bertambah maka iman otomatis akan turun. Itulah rahasia mengapa Allah swt. tidak menjadikan semua kebaikan sebagai fardhu ain melainkan ada yang kedudukannya sunnah. Sebab kalau semua difardhukan, kita tidak bisa mengetahui ukuran keimanan yang kita capai. Maka dengan adanya fardhu dan sunnah kita bisa tahu level standard iman kita. Bila kita hanya mencukupkan kepada yang fardhu-fardhu saja, berarti itu iman standard. Dan bila kita menambah di atas fardhu dengan amalan sunnah, berarti iman kita bertambah kuat. Semakin banyak amalan sunnah yang kita kerjakan, kita akan semakin sensitif atas perbuatan dosa, dan otomatis iman kita akan semakin kokoh.
(d) Mengajak orang lain supaya beriman kepada Allahالدعوة إلى الله . Inilah yang dimaksud dengan dakwah. Termasuk makna kata أن يقولوا آمنا menyampaikan dakwah agar manusia beriman kepada Allah. Dalam kisah Ashhaabul Kahfi (nomer:14) Allah menceritakan bahwa diantara yang mereka lakukan adalah: وَرَبَطْنَا عَلَى قُلُوبِهِمْ إِذْ قَامُوا فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا (dan Kami telah meneguhkan hati mereka di waktu mereka berdiri lalu mereka berkata: “Tuhan kami adalah Tuhan langit dan bumi; kami sekali-kali tidak menyeru Tuhan selain Dia, sesungguhnya kami kalau demikian telah mengucapkan perkataan yang amat jauh dari kebenaran”). Perhatikan kata فَقَالُوا رَبُّنَا رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرْضِ لَنْ نَدْعُوَ مِنْ دُونِهِ إِلَهًا لَقَدْ قُلْنَا إِذًا شَطَطًا ini sama maksudnya dengan kata أن يقولوا آمنا . Bahwa tugas kita sebagai insan beriman, tidak hanya tinggal diam, melainkan harus bergerak mengajarkan keimanan yang kita yakini. Seandainya dulu para sahabat nabi saw. setelah beriman, mereka diam saja, hanya sibuk beribadah di masjid dan tidak bersungguh-sungguh berdakwah, nisacaya kita hari ini tidak akan beriman. Berkat perjuangan mereka siang dan malam, mengajarkan keimanan dan kebenaran, kita hari ini menjadi manusia beriman. Adalah tugas kita sekarang mengajarkan keimanan kepada genarasi sesudah kita.
Umat Terdahulu Juga Diuji
Lalu Allah menegaskan bahwa ujian tersebut pernah Allah timpakan atas umat terdahulu. Allah berfirman: وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ artinya terlah kamu uji umat sebelum kamu. Maksudnya bahwa tidak ada kaum yang tidak Allah uji. Semua umat terdahulu telah mengalami ujian. Baik ujian itu berupa kesulitan maupun berupa kesenangan. Nabi Muhammad saw. telah menjelaskan bahwa paling beratnya ujian adalah untuk para nabi, lalu para wali Allah, lalu orang-orang saleh dan seterusnya. Karenanya kita membaca dalam Al Qur’an beberapa contoh bagiamana Allah menguji nabi-nabiNya. Dan kita tidak bisa membayangkan beratnya ujian yang mereka lalui. Nabi Nuh mislanya, ia diuji dengan menghadpi kaum yang sangat membangkang. Setiap kali menyampaikan ajaran Allah, Nuh dihina dan bahkan diejek secara demonstratif. Dalam surat Nuh kita menemukan bagaimana kaumnya benar-benar menolak kebenaran yang Nuh ajarkan. Bukan hanya itu, mereka juga menutup telinga mereka supaya tidak mendengar apa yang Nuh sampaikan. Kepala mereka ditutup dengan kain supaya tidakl melihat wajah Nuh. Simaklah Nabi Nuh bercerita kepada Allah swt: Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang, maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat (QS. Nuh: 5-7). Perhatikan betapa berat ujian yang Nabi Nuh jalani. Ini berlangsung tidak sebentar, melainkan secara terus menerus selama 950 tahun.
Demikian juga nabi Ibrahim, ia menghadapi kaum yang tidak hanya menolak ajakannya, melainkan lebih dari itu melemparkan nabi Ibrahim ke dalam api unggun yang sangat besar. Untungnya Allah swt. tidak mengizinkan keinginan mereka. Api itu segera Allah perintahkan untuk dingin dan menyelamatkan. Dalam surah Al Anbiya’: 69 Allah berfirman: “Hai api menjadi dinginlah, dan menjadi keselamatanlah bagi Ibrahim”. Maka nabi Ibrahim selamat. Belum lagi ujian agar nabi Ibrahim hijrah ke lembah yang gersang tidak ada pohonan dan penghidupan yaitu lembah kota Makkah. Ditambah dengan ujian di mana Allah memerintahkannya agar menyembelih sang putra yang disayangi Ismail as. Namun itu semua dijalani dengan sabar. Itulah sebabnya Allah menobatkan nabi Ibrahin sebagai imam. Allah berfirman dalm surah Al Baqarah 124: Dan (ingatlah), ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan), lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: “Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh manusia”. Ibrahim berkata: “(Dan saya mohon juga) dari keturunanku”. Allah berfirman: “Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang yang zalim”.
Nabi Yusuf lain lagi ujiannya. Sejak kecil jalan hidupnya penuh dengan liku-liku yang mengharukan. Pernah dilempar ke dalam sumur oleh saudara-saudaranya, nabi Yusuf kemudian selamat lalu dibeli oleh seorang bangsawan Mesir. Di istana kerajaan yang megah, Yusuf terkena fitnah. Ia dituduh berbuat mesum dengan wanita kerajaan. Itulah sebab yang membuat Yusuf kemudian mendekam dalam penjara sekian lama. Tetapi jarum jam sejarah tidak selamanya di bawah. Dan Yusuf tetap istiqamah mengajarkan tauhid kepada orang-orang yanga ia temui. Buah dari keistiqamahannya, Yusuf kemudian dipercaya sebagai mentri keuangan negara Mesir. Kejujurannya yang sempurna, membuat ekonomi Kerajaan Mesir terentaskan.
Ashhabul kahfi mengalami ujian yang lain lagi. Dalam surah Al Kahfi disebutkan bahwa mereka harus lari ke dalam gua untuk menyelamatkan iman yang mereka yakini. Padahal mereka tahu bahwa dalam gua tidak mungkin ada penghidupan. Tetapi itulah jalan terakhir untuk menghindari kedzaliman kaumnya yang berbuat syirik. Buah dari usaha mereka yang maksimal dan ketabahannya dalam menyelamatkan iman, Allah swt. menurunkan pertolonganNya kepada mereka. Mereka dibuat tertidur dalam jangka waktu 309 tahun. Selama tertidur, segala kebutuhan yang mereka inginkan dipenuhi. Maha suci Allah yang selalu memperhatikan hamba-hambaNya dan selalu memberikan pertolongan tak terhingga. Bayangkan bagaimana Ash habul kahfi bisa hidup tanpa makan dan tanpa minum dengan usia yang lebih panjang dari orang-orang yang makan dan minum. Wallahu a’lam bishshawab.