Kekuasaan Yang Menolong
amirfath.com, Opini (11), Des 2020 –
وَقُلْ رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَانًا نَصِيرًا(الإسراء80)
Dan katakanlah: “Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.
Imam Ibn Katsir ketika menafsirkan ayat ini mengutip beberapa riwayat di nataranya sebagai berikut: Imam Ahmad meriwayatkan sebuah hadits dari Ibn Abbas, bahwa Rasulullah saw. waktu itu sedang di Makkah lalu diperintahkan hijrah ke kota Madinah, maka diturunkanlah syat di atas. Qatadah mengatakan: maksud kata ادخلني adalah kota Madinah dan maksud kata اخرجني adalah kota Makkah. Ibn Abbas menafsirkan: maksud ادخلني adalah alam barzakh, dan maksud اخرجني adalah alan akhirat.
Kata سلطانا نصيرا juga mengandung banyak penfasiran: Imam Hasan Al Bashri menjelaskan bahwa ini janji dari Allah akan dicabutnya kekuasaan Persia dan Romawi lalu akan diberikan kepada RasulNya. Qatadah mengatakan maksudnya adalah kekuatan untuk melaksanakan Al Qur’an, menjaga larangan dan perintah-perintah yang terdapat di dalamnya serta menegakkan agama. Sebab semua ini tidak mungkin tegak tanpa adanya kekuatan. Mujahid berkata: maksudnya adalah bukti-bukti kebenaran yang jelas (حجة بينة) .
Hijrah Dan Kekuasaan
Dari semua penjelasan ini nampak bahwa ayat di atas masih berkait erat dengan peristiwa hijrah. Peristiwa yang menjadai titik perubahan yang menentukan dalam sejarah Islam. Dari hijrah umat Islam benar-benar pindah dari kondisi lemah di kota Makkah kepada kondisi kuat di kota Madinah. Dari hijrah Islam menjadi rahmat, tidak saja bagi penduduk Arab dan sekitarnya, tetapi bagi semua umat manusia di seluruh alam. Umat Islam yang tadinya dibantai habis-habisan di kota Makkah, dengan hijrah mereka tidak saja mampu membuka kota Makkah, melainkan juga mampu membuka kerajaan Persia dan Romawi. Kemanusiaan yang tadinya dihancurkan oleh peradaban jahiliah, hijrah kemudian menawarkan Islam yang menyelamatkan kemanusiaan.
Tidak sedikit para ulama sejarah yang mengatakan bahwa disambutnya Rasulullah dengan sabutan yang meriah di hari hijrahnya ke kota Madinah, adalah bukti dinobatkannya sebagai pemimpin. Karenanya kemudian kota Madinah langsung menjadi pusat kekuatan Islam. Tidak lama dari tibanya Rasulullah saw. ke kota Madinah, Piagam Madinah yang menjadi panduan kehidupan bermasyarakat dan bernegara kemudian dilahirkan. Di antara isinya: (1) keharusan bersatunya umat Islam (2) kesamaan hak antara anggota umat Islam (3) keharusan tolong-menolong sesame umat Islam, jauh dari tindak kedzaliman dan permusuhan (4) tidak boleh menyerahkan orang mukmin kepada musuh umat Islam (5) membangun masyarakat yang kuat dan rapi (6) perlindungan bagi siapa saja yang mau hidup di bawah kepemimpinan Islam, jauh dari tindak kedzaliman (7) perlindungan bagi non muslim, jiwa dan hartanya, serta bebas baginya melaksanakan ajaran agamanya (8) semua harus membayar pajak, baik muslim maupun non muslim (9) semua harus tolong menolong untuk melindungi negara dari serangan (10) semua harus membiayai kebutuhan meliter untuk keamanan Negara (11) siapa saja yang didzalimi harus dibela oleh Negara, baik ia seorang muslim maupun non muslim (12) Bila jalan damai akan membawa kepada kemaslahatan Negara dan umat, maka ambillah jalan damai (13) dosa atau kesalahan seseorang harus ditanggung sendiri, tidak boleh ditimpakan atas orang lain (14) boleh pindah-pindah dari wilayah ke wilayah lainnya atau dari negeri ke negeri lainnya dan tetap di bawah lindungan Negara (15) tidak ada perlindungan bagi pelaku kedzaliman dan permusuhan (16) masyarakat tegak di atas fondasi tolong-menolong dalam kebaikan dan ketakwaan, bukan tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan.
Apa yang menarik dari penjelasan di atas adalah bahwa kehdiran Islam di muka bumi ini bukan semata sebagai tuntunan ritual yang mati di pojok masjid, melainkan sebagai kehidupan yang memberikan kedamaian dan menegakkan keadilan dalam rumah tangga, dalam taransaksi bisnis dan dalam bernegara. Karenanya setiap kedzaliman harus dilawan. Riba diharamkan karena didalmnya mengendung praktik mencekik orang lain. Zina diharmkan karena merusak nasab manusia. Korupsi dilarang karena itu tindak mengambil hak orang lain secara tidak fair. Islam datang sebagai pedoman dari Allah Sang Pencipta yang maha mengetahui. Tidak mungkin manusia setelah diiciptakan lalu Allah biarkan hidup begitu saja, tanpa tuntunanNya. Itulah rahasia mengapa Allah turunkan Al Qur’an, itu tidak lain sebagai pedoman. Bukan hanya Alk Qur’an, Allah juga mengutus nabi-nabi sebagai contoh hidup bagiamana cara mengemalkan pedoman tersebut. Maka tidak mungkin selamat manusia yang hidup berdasarkan karangan otaknya sendiri. Denagn demikian kehadiran Islam bagi manusia adalah rahmat yang nyata. Tidak saja untuk diamlakan secara ritual melainhkan harus dibuktikan pula secara sosial.
Contoh-contoh Kekuasan Yang Menolong dalam Al Qur’an
Ada beberapa contoh kekauasaan yang menolong dalam Al Qur’an, dinataranya: Pertama, kekuasaan Nabi Sulaiman as. Nabi Sulaiman berdoa agar diberi kerajaan yang tak tertandingi baik sebelumnya maupun sesudahnya. Allah swt. mengabulkan dioanya. Nabi Sulaiman menjadi pemimpin yang benar-benar menyelamatkan. Tidak ada satupun dari rakyat dan penduduknya yang didzalimi. Sebab Nabi Sulaiman berkuasa bukan untuk kepentingan nafsunnyam melainkan untuk mengajak orang lain supaya mentaati Allah swt. Sang pencipta langit dan bumi. Dengan kekuasaannya itulah Nabi Sulaiman kemudian bisa membuat Ratu Bulqis tunduk dan beriman kepada Allah swt. Ratu Bulqis tadinya seorang penyembah matahari. Dan dia seorang ratu yang dipatuhi. Bayangkan siapa yang bisa menyelamatkannya dari kesesatan kalau bukan seorang yang mempunyai kekuasaan yang sama atau lebih. Nabi Sulaiman mempuanyai kekuasaan yang lebih. Maka dengan mudah Ratu Bulqis kemudian ditundukkan. Berbeda dengan kekuasaan yang berada di tangan orang-orang kafir atau para pendurhaka. Mereka berkuasa semata untuk kepentingan dirinya. Setiap kekuasaan yang dirancang hanya untuk kepentingan peribadi, pasti akan selalu identik dengan kedzaliman. Karenanya Fir’un dalam Al Qur’an, selalu diceritakan sebagai contoh manusia dzalim.
Kedua, kekuasaan Dzulqarnain. Ini diceritakan dalam surah Al Kahfi. Bahwa dengan kekuasaannya Dzulqarnain berjalan dari ujung barat dan timur, untuk mengajarkan hakikat tauhid. Inilah tujuan diciptakannya manusia, yaitu untuk mengagungkan Allah swt. Sayangnya tujuan ini banyak tidak dipelajari oleh manusia. Akibatnya banyak manusia yang hidup tanpa ikut aturanNya. Disangkanya Allah menciptakan manusia tanpa tujuan. Sehingga ia mengira bahwa manusia dipersilahkan hidup menurut caranya sendiri. Dzulqarnain hadir untuk memperkenalkan hakikat tauhid ini. Kekuasaan yang mendukungnya benar-benar digunakan untuk menjadi media efektif dalam menanamkan akidah tauhid. Bukan hanya itu Dzulqarnain dengan ilmunya yang luas telah menyelamatkan rakyatnya dari kedzaliman Ya’juj dan Ma’juj. Lubang tempat lewatnya Ya’juj dan Ma’juj untuk bertindak dzalim ditutup rapat dengan baja. Suatu kenyataan bahwa kekuasaan harus dibuktikan dengan perbuatan, bukan semata jargon dan janji-janji yang semu. Perhatikan bagaimana Dzulqarnai benar-benar turun ke bawah, bahkan sampai keliling dunia, hanya untuk mengentaskan manusia. Mengentaskan dari akidah yang salah kepada akidah tauhid. Inilah risalah kekuasaan yang paling mulia sepanjang sejarah manusia, di mana akhir-akhir ini risalah tersebut hampir tidak dipentingkan, kalau tidak dicampakkan dari kekuasaan yang ada. Karenanya sampai kapanpun sebuah kekuasaan tidak dianggan menolong, jika tidak menyelamatkan rakyatnya dari kesesatan. Silahkan utamakan langkah pengentasan ekonomi, atau perogram sosial lainnya, tetapi jika tidak diimbangin dengan pengentasaan akidah, itu tidak pernah memberikan pertolongan hakiki.
Ketiga, nabi Yusuf as. Begitu malihat bahwa kerajaan Mesir sangat membutuhkan seorang yang bisa membangun kondisi ekonominya, ia segera tampil dan meminta secara khusus agar dipilih sebagai menteri keuangan. Lalu ia menjelaskan bahwa wilayah keuangan ini sangat membutuhkan seorang yang mempunyai dua sifat: hafiidzun aliim حفيظ عليم . Kata حفيظ artinya menjaga amanah dan menjaga kehormatan dirinya dari berbagai tuduhan dan dosa-dosa. Karenanya nabi Yusuf tidak mau keluar dari penjara sampai terbutki bahwa ia benar-benar bersih dari apa yang selama ini dituduhkan. Kata عليم artinya mempunyai ilmu dan wawasan yang luas. Sudah terbukti keluasan ilmu nabi Yusuf ketika ia diminta untuk mentakwil mimpi raja. Bukan hanya itu, nabi Yusuf selama dipenjara tidak pernah mengabaikan kesempatan kecuali mengajarkan tauhid kepada siapa saja yang ia temui. Suatu bukti nyata yang menunjukkan bahwa keilmuan nabi Yusuf bukan sekedar sebuah pengalaman, melainkan sebuah keilmuan yang dibangun di atas akidah tauhid. Bahwa membangun ekonomi negara tidak cukup hanya dengan bermodal pengetahuan dan pengalaman, melainkan lebih dari itu harus mempunyai akidah yang benar sehingga ekonomi yang dibangun tidak sekadar tegak di atas pengalaman yang rentan melainkan juga mendapatkan keberkahan dari Allah swt. Inilah makna ayat: Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya (QS. Al A’raf:96). Wallahu a’lam bish shawab.