Friday, July 18

Hakikat Istighfar

amirfath.com, Opini (03), Des 2020 – Di dalam Al Qur’an banyak cerita bahwa para nabi selalu mengajak kepada istighfar. Nabi Saleh berkata kepada kaumnya (Tsamud): “Hai kaumku, sembahlah Allah, sekali-kali tidak ada bagimu Tuhan selain Dia. Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya, karena itu mohonlah ampunan-Nya, kemudian bertobatlah kepada-Nya. Sesungguhnya Tuhanku amat dekat (rahmat-Nya) lagi memperkenankan (do`a hamba-Nya)” (QS. Huud:61). Kepada kaum Aad, Nabi Huud berkata: “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya Dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan Dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa” (QS. Huud:52). Nabi Nuh berkata: ”Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun (QS. Nuuh:10).

Banyak orang mengira bahwa istighfar atau taubat itu cukup hanya dengan lisan saja. Sementara perbuatannya tetap berlanjut dalam dosa-dosa. Istighafar seperti ini menurut para ulama adalah istighfar setengah hati. Imam Al Ashfahani dalam bukunya ”Al Mufradaat” berkata: Taubat adalah sikap meninggalkan dosa karena dosa itu memang buruk, penyesalan yang dalam karena dosa tersebut, tekad untuk tidak mengulangi lagi, dan kesungguhan untuk melakukan amal saleh sebagai tebusan atas dosa-dosa, maka jika keempat syarat ini dipenuhi lengkaplah taubat tersebut”. Khusus mengenai istighfar, Al Ashfahani menerangkan: ”Istighfar artinya adalah memohon ampunan dengan ucapan dan perbuatan. Maka perintah Allah ”istghfiruu rabbakum innahuu kaana ghaffaaraa” (“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, –sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun”) (QS. Nuuh:10), itu perintah untuk memohon ampunan dengan lisan dan perbuatan. Siapa yang mengatakan bahwa itu cukup dengan lisan saja, jelas itu perbutan para pendusta”. 

Imam An Nawawi dalam bukunya Riyadhushshslihin berkata: Taubat adalah wajib atas setiap dosa. Bila dosa itu berhubungan dengan Allah, syaratnya ada tiga: Pertama, tinggalkan dosa-dosa tersebut. Kedua, menyesal atas dosa-dosa yang telah dilakukan. Ketiga, bertekad untuk tidak mengulagi lagi. Tetapi bila dosa-dosa tersebut besifat sosial, ditambah satu syarat lagi: hendaklah menyelesaikannya secara sosial, dengan mengembalikan hak-haknya jika berupa harta, atau minta maaf jika berupa ghibah atau sikap yang menyakitkan hatinya.

Jelas sekali dari keterangan di atas bahwa istighfar atau taubat bukan hanya lisan, melainkan harus dibuktikan dengan perbuatan. Benar, Rasulullah saw. –seperti dalam riwayat Imam Bukhari – setiap hari membaca istighfar secara lisan tujuh puluh kali, dalam riwayat Imam Muslim seratus kali, tetapi perhatikan juga bagaimana Rasulullah saw. bersungguh-sungguh mentaati Allah swt., menegakkan shalat tahajjud sampai bengkak kakinya. Tidak pernah menolak setiap ada pengemis. Selalu memberi sedekah tanpa rasa takut miskin. Sabar dalam setiap ujian Allah seberat apapaun yang ia hadapi. Tidak pernah menykiti istri-istrinya, bahkan juga pembantunya.

Imam Bukhari Muslim juga meriwayatkan kisah pertobatan seseorang yang menyesal karena membunuh seratus orang. Sang guru yang alim memberikan nasihat agar ia segera hijrah ke tempat yang banyak orang salihnya. Dan tinggalkan segera kampung di mana ia suka berbuat dosa di dalamnya. Orang tersebut benar-benar mentaatinya. Ia berangkat menuju kampung orang-orang saleh. Di tengah jalan ia meninggal dunia. Singkat cerita disebutkan dalam riwayat tersebut bahwa Allah mengampuni dosanya. Perhatikan bahwa istighfar tidak cukup hanya dengan lisan, melainkan membutuhkan sebuah hijrah yang jujur dari dosa-dosa.   

Banyak kisah sahabat Nabi saw. yang sangat mengesankan bagaimana mereka menebus dosa setelah bertaubat. Sebut saja misalnya Umair bin Wahab, setelah masuk Islam, ia sadar bahwa semasa kafirnya sangat memusuhi Nabi bahkan ia pernah bertekad untuk membunuhnya. Mengingat dosa ini, Umair minta izin kepada Rasulullah saw. untuk berdakwah langsung di tengah masyarakat Quraisy di Makkah. Rasulullah mengzinkannya. Umair berangkat. Di Makkah Umair siang dan malam berdakwah sampai tak terhitung jumlah orang-orang kafir yang masuk Islam karenanya. Wallahu a’lam bishshawab.         

About Post Author