Jam
amirfath.com, Cerpen (12), Des 2020 – “Pa, jamnya perbaiki deh pa” kata istri saya tiba-tiba “kayaknya sudah pada rusak semua. Kita punya tiga jam duduk. Tapi ketiga-tiganya sudah tidak berfungsi lagi. Yang satu belnya tidak nyaring. Jadi untuk membangunkan kita kurang potensial. Yang satu lagi belnya nyaring, tapi sering kali keseleo, tidak tempat waktu satunya lagi belnya lebih nyaring, hanya saja tidak emmakai bateraai. Jadinyasering enggak dikasih tenanga, otomatis sering mati”
Saya memang sudah lama ingin memperbaiki jam itu, sebab ternyata kurang fungsinya jam, seringkali menyebabkan keacetan dalam banyak hal. Buktinya, saya sering terlambat untuk bangun melaksanakan sholat malam. Dan kalau saya tidur pagi, hampir bisa dipastikan bolos kuliah. Lebih-lebih kalau saya tidur siang, shalat berjama’ah Ashar kerap kali hangus.
Agaknya usulan istri saya itum memang harus segera saya laksanakan, namun sampai seekarang saya masih saja terbentur dengan banyak halangan. Entah program tesis, entah undangan si anuh, entah si fulan minta tolong. Dan lain sebagainya, akibatnya keinginan untuk memperbaiki jam itu selalu terbengkalai. Padahal sebenarnya istri saya itu, tidak hanya sekali dua kali mengingatkan saya masalah jam. Hampir setiap menjelang tidur, obrolan yang berlangsung berputar-putar disekitar benda yang satu ini. Wah, pokoknya serius deh.
Ini kisah yang sudah terjadi beberaoa bulan yang lalu, setelah itu diskusi tentang ja, hilan ditelan waktu. Dan selama itu kami berjalan tanpa jam, kegiatan di rumah dan lain sebagainya kami atur dengan semangat jam, yang kami kembangkan dari dalam diri sendiri, dan sekarang jam sudah tidak jadi soal. Karena hidup tanpa jam sudah boleh dikatakan biasa, akhirnya keinginan untuk memperbaiki jam itu juga terhenti, saya sendiri sudah lupa semuanya itu.
Baru kemarin, saya ingat lagi tentang jam yang pernah menjadi obrolan serius itu. Ingatnya saya ini bermula dari tetangga saya yang minta tolong untuk mengantarkan ke tempat memperbaiki jam. Dia ternyata juga menderita seperti saya, hanya saja bedanya punya dia bukan jam duduk, tapi jam tangan. Jumlahnya juga tiga, ketiga-tiganya rusak, sebagian pecah kacanya, sebagian lagi jatuh jarumnya, dan yang lain tanggalannya tidak berjalan. Ketepatan, saat tetangga saya itu membicarakan masalah tersebut, tetangga saya yang satunya lagi ada disampingnya. Akhirnya, persoalan tambah melebar, sbeab ternyata tetangga yang lain ini, juga sedang ke sana kemari mencari tukang jam yang baik. Tapi tidak dapaat-dapat katanya jam yang bisa beradzan yang tahun kemarin ia beli dari Saudi Arabia. Dirusakkan oleh anaknya. Memangnya ia punya anak agak dimanja, aoa saja yang disukai ia kasihkan, sementara anaknya memang suka mempreteli jam. Ya, sudah deh jadi.
Wal hasil, masalah jam bagi seorang yang mempunyai kegiatan penuh, adalah hal yang harus segera diselesaikan. Tapi bagi orang yang hanya berpandangan bahwa jam sekedar symbol gengsi, itu tidak menjadi soal. Saya sering kalau naik bis di Islamabad, melihat jam di gantung pada dindidng interior kendaraan itu. Biasanya ditaruh pada sisi bagian depan, sehingga para penumpang bisa melihantya. Tapi karena jam itu bagi para supir bis tersebut, bukan merupakan kebutuhan pokok, jadinya jam itu hanya sekedar hiasan. Akibatanya lagi jam itusering saya lihat tidak aktif. Dan itu tidak mengundang persoalan, supirnya biasa-biasa saja. Sekalipun sudah sekian lama jam itu tidak bisa memberikan informasi waktu secara sempurna.
Saya melihat kawan-kawan saya juga banyak yang begitu, setiap tahun kalau musim haji tiba, mereka biasanya pergi ke Makkah untuk bekerja. Ya, macam-macam yang mereka kerjakan. Ada yang kerjanya berdagang, tapi rata-rata mereka berkerja sebagai pebimbing jama’ah haji. Dan biasanya juga, kalau mereka hendak pulang meraka tak lupa membawa oleh-oleh. Di antara oleh-oleh itu yang mereka borong, adalah jam tangan karenanya kalau mereka baru balik dari tanah suci kita menyaksikan mereka keren-keren, terutama jam tangannya. Kualitas ekspor tapi apa yang mereka inginkan daru jam tangan itu. Tidak ada, sekedar gengsi. Sebab ternyata, mereka rata-rata tidak banyak terikat dengan berebagai kegiatan. Toh, kalaupun mereka sibuk dengan program kuliah, mereka juga sering terlambat datangnya ke kelas. Paling-paling mereka merasakan punya jam, ketika menjawab soal disaat ujian . karena tidak busa masing soal harus diselesaikannya teapt waktu, dan sedikit saja terpeleset, bakal kelabakan.
Dari sini saya melihat, mengapa umat Islam tidak maju-maju, sebab ternyata generasi mudanya yang belajar Islam, tidak bisa konsisten terhadap waktu yang ditunjukkan oleh jam-jam ditangan mereka.
Mereka memakai jam ternyata bukan untuk mengatur waktu, tetapi untuk diatur oleh waktu. Akhirnya, detik demi detik berlalu begitu saja tanpa arti, tanpa nilai yang bermakna.
Sementara di sisi lain, saya melihat orang-orang barat terlalu sibuk. Jam-jam mereka bisa dikatakan kepenuhuan, hampir meledak dari saking banyaknya kegiatan. Ukurannya adalah uang, satu detik aja terbuang bagi mereka berarti sekian miliyar telah hilang. Akibatnya merak seperti mesin, jiwa mereak terkekang, otak mereka terpaku pada satu arah. Akibatnya juga fatal, oke lah dari segi kemajuan materi boleh dibanggakan. Tapi yang namanya kemanusiaan mereka meronta-ronta, seperti perahu yang bunuh diri. Koran-koran disana bisa dikatakan sering memuat peristiwa bunuh diri semacam ini, belum lagi masalah moral, mereka sekarang sudah tak lebih dari binatang, bahkan lebih parah lagi.
Jadi pokoknya, mempunyai jam itu penting. Dan mengatur jam itu harus. Tapi keterlaluan mengatur jam sampai ketingkat menjadi seperti jam, itu malah merusak kemanusiaan.
Ya, biasa-biasa sajalah punya jam.