Sunday, August 24

Kampus

amirfath.com, Cerpen (13), Des 2020 – Terdengar kampus mahasiswi International Islamic University mau pindah, semua orang pada heboh. Setiap hari di depan kampus lama itu, terlihat sekelompok mahasiswi demonstrasi. Mereka menolak rancangan perpindahan itu. Mereka tidak setuju kalau kampus tersebut dipindah ke tempat yang cukup jauh. Jauh dari tempat perbelanjaan, juga jauh dari lalu lintas transportasi umum. Mereka agaknya sudah tahu bahwa kampus baru yang direncanakan itu adalah kawasan yang dikenal dengan “ Hajji Camp “ pusat penginapan jamaah haji sebelum berangkat dan sesudah kembali. Kalau itu memang benar maka wajar kalau mereka demonstrasi. Karena kawasan itu benar-benar terpencil. Masuk ke wilayah terdalam dari bagian kampong. Di sekitarnya tak banyak perumahan. Yang lebih menonjol adalah pemandangan sawah dan binatang ternak yang berkeliaran.

            Istri saya, seperti juga istri kawan-kawan saya yang masih kuliah, termasuk yang kena beban dengan perpindahan itu. Karena pikirnya, ia tidak mungkin ikut pindah ke kampus baru itu. Ya tentunya karena ia harus selalu menemani saya sebagai suaminya. Sementara rumah saya bisa dikatakan jauh dari kampus baru tersebut. Oikir punya piker, ia kemudian memutuskan untuk setiap hari berangkat menuju kuliah. Sekalipun harus menempuh perjalanan sekitar satu setengah jam lamanya.

            Suatu hari saya pernah ngobrol-ngobrol dengannya:

            “ Bagaimana ma, dengan jampus barunya ? “

            “ Ah, jauh sekali pa”, jawabnya, “ saya enggak tahu, kenapa setiap kali saya berangkat atau kembali, kepala saya selalu pusing. Mungkin karena kejauhan kali pa ? “

            “ Kejauhan bagaimana sih ma ? “

            “ Ya, pokoknya capek deh. Dan capeknya itu bukan masalah naik bisnya, melainkan karena muter-muternya ke sana kemari, untuk menjemput mahasiswi di sektor mereka masing-masing. Padahal seandainya langsung saja, itu hanya menempuh sekitar dua puluh menit. Sebab kemarin, kawan saya mencoba mengendarai taksi. Ternyata hanya dua puluh bisa sampai ke tujuan. “

            “ Mama mau naik taksi setiap hari ?”

            Ia tersenyum saja.

            “ Ya, kalau mau naik taksi setiap hari ke sana, siap-siap saja kita tidur di lapangan. Kita dirikan kemah di sana. “

            “ Maksudnya ? “

            “ Ya, bayangkan saja. Naik taksi setiap hari berapa ? Sementara setiap bulan kita harus bayar sewa rumah. Nah kalau biaya untuk sewa rumah sudah kita habiskan untuk ongkos taksi, brarti kita kan harus siap-siap untuk tidak punya rumah. Nah kalau kita tidak punya rumah, siap-siap saja kita mendirikan kemah di lapangan. “

            Istri saya tersenyum lagi. Ia sepertinya terhibur dengan omongan saya itu. Di celah-celah senyumnya tersirat rasa ingin tertawa yang ditehan-tahan.

            “ Begitu kan ma ? “ kata saya lagi, “ Kita pada akhirnya memang harus menerima kenyataan. Kita tidak bisa melaksanakan diri untuk tersebut sesuatu di luar keampuan kita. Karena kita diciptakan memang dengan keterbatasan-keterbatasan. Dengan demikian kita hanya bisa bersabar dan tawakal. Sehingga kita tidak akan pernah mengeluh dengan segala proses yang harus kita jalani. Bagaimanapun capeknya. “

            Sambil menikmati makanan ringan yang ada di depannya, istri saya hanya mengangguk-angguk. Wajahnya ceria sekali. Senyumnya menandakan bahwa ia hanya menguji sya dari obrolan itu. Saya pun memahami bahwa istri saya itu hanya bergurau. Sebab ia sangat mengetahui bagaimana kondisi ekonomi saya yang sebenarnya. Karenanya, sejak saya kawin dengan dia, setahun yang lalu, ia tidak pernah minta kepada saya sesuatu yang tidak bisa saya jangkau harganya. Ia tidak pernah minta perhiasan-perhiasan mas yang mahal. Dan kalau saya mengajak jalan-jalan, ia pernah minta naik taksi. Ia menerima kalau saya mengajaknya mengendarai kendaraan umum. Bahkan akhir-akhir ini saya sering mengajaknya mengendarai sepeda pedal. Ia pun mau. Tanpa sedikitpun keberatan.

            “ Mama sebenarnya hanya gurau saja pa “ katanya terus terang.

            “ Bagi mama semuanya itu adalah hal yang wajar. Sebab masih bisa saya lakukan. Mama sedikitpun di hati mama tidak merasa sedih dan keberatan. Sebab bersikap sedih terhadap kenyataan yang telah Allah takdirkan berarti tidak setuju terhadap keputusan Allah. Dan itu adalah sikap yang fatal.”

            “ Nah itu sikap yang benar ma. “ kata saya sepontan mengontari ungakapannya.

            Dan ternyata istri saya benar-benar konsisten dengan perkatannya. Setiap hari ia rajin kuliah. Sampaipun dalam keadaan kurang sehat, ia tidak suka bolos. Hujan dan panas baginya bukan rintangan. Ia terus saja kuliah. Ia bangun pagi-pagi benar untuk mengejar bis jemputan. Itu pun tidak menghalangi dia dalam melaksanakan tugas-tugas rumah. Ia masih saja sempat mencuci pakaian saya. Ia masih saja sempat membersihkan kamar dan dapur. Sungguh saya terkesan dengan kegigihan dan kesabarannya. Dan sungguh dari sini saya tahu hakikat istri saya berkat perpindahan ke kampus baru itu.

          

About Post Author