Friday, July 18

Memimpin Dengan Keteladanan

amirfath.com, Artikel (14), Des 2020 – Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (Rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dia banyak  menyebut  Allah (Al Ahzab:21).

                Ayat ini masih berkaitan dengan kisah perang Ahzab. Perang dimana kaum muslimin dikepung oleh pasukan koalisi yang terdiri dari orang-orang musyrik Quraish Makkah, Guthafan dan kaum Yahudi bani Quraidzah. Mereka bersepakat untuk memerangi Rasulullah saw. dan sahabat-sahabatnya di kota Madinah. Dalam peristiwa ini nampak kepribadian Rasulullah saw. sebagai seorang pemimpin yang tidak pernah gentar menghadapi segala kekuatan musuh. Apapun koalisinya dan sehebat apapun senjata serta jumlah pasukan yang mereka punya. Rasulullah saw.  tetap tidak mau menyerah, melainkan justru terus melangkah ke depan menghadapi pasukan koalisi tersebut. Dalam situasi seperti ini ayat di atas menceritakan kepribadian Rasulullah saw.  sebagai pemimpin teladan. Inilah sebuah agenda besar bagi siapapun yang mengaku diri sebagai seorang pemimpin, bahwa seorang pemimpin tidak bisa tidak harus membuktikan dirinya sebagai contoh teladan dalam segala hal.

Keteladanan, Sebuah Agenda Besar

                Mengapa “keteladanan” dikatakan agenda besar? Sebab:

  • Hampir setiap pergantian kepemimpinan para calon pemimpin tidak pernah berbicara tentang keteladanan. Yang mereka bicarakan hanyalah janji-janji semu yang tidak menukik pada akar persoalan.
  • Sejarah membuktikan bahwa setiap persoalan kebangsaan ujung-ujungnya adalah karena kedzaliman seorang pemimpin. Maka solusi utama untuk meneyelesaikan persoalan bangsa yang mengalami krisis multidimensional adalah menegakkan keteladanan dalam diri seorang pemimpin.
  • Allah telah mengatur alam ini dengan penuh keseimbangan, demi kesejahteraan seluruh makhlukNya di alam ini. Tidak satupun mahluk yang Allah dzalimi. Maka jika terjadi kerusakan dan kekacauan pasti ada pihak-pihak yang berbuat dzalim. Biasanya kedzaliman ini bermula karena hilangnya keteladanan dari seorang pemimpin. Karena rakyat tidak akan berani berbuat dzalim jika pemimpinnya adil.

Inilah rahasia mengapa Allah swt. Pada ayat di atas menekankan tentang pentingnya keteladanan. Adalah tabiat manusia selalu meniru dan ikut apa yang dikatakan dan diperbuat pemimpinnya. Karena Allah swt. Menginginkan kebaikan kepada semua mahlukNya, maka diutuslah orang-orang  terbaik dari para nabi dan dan rasul sebagai pemimpin, sekaligus contoh teladan dalam mentaatiNya. Dari sini nampak bahwa agenda utama kepemimpinan bukan kepandaian berdiplomasi melainkan kesungguhan dan kejujuran dalam menjadi contoh teladan.

                Tanpa keteladanan persoalan apapun yang dihadapi suatu bangsa tidak akan pernah selesai. Silahkan kumpulkan para profesor, doktor dalam segala disiplin ilmu yang mereka kuasai dan silahkan mereka berseminar untuk mencari solusi dan berbagai krisis yang terjadi, sungguh bisa dipastikan bahwa ujung tombak solusi terbaik dan efektif adalah keteladanan seorang pemimpin. Dengan demikian jelaslah bahwa jika terjadi krisis di sebuah negeri itu sebab utamanya adalah kedzaliman seorang pemimpin.

Hakikat Keteladanan

                Para ulama tafsir ketika membahas mengenai makna “uswatun hasanah” mengartikannya dengan qudwah shalihah (teladan yang baik). Imam Al Qurthuby mengatakan: Uswah artinya yang diikuti dalam segala perbuatan dan keadaan yang dijalaninya. Imam An Nasafi memberikan contoh keteladanan Rasulullah seperti ketegarannya yang tidak pernah goyah pada saat menghadapi pasukan musuh. Kesimpulannya adalah bahwa Rasulullsh saw.  benar-benar teladan dalam segala sisi kehidupannya: teladan ketika berperan sebgai ayah bagi anak-anaknya, teladan bagi para istrinya, teladan bagi sahabat-sahabatnya dan teladan ketika menjalankan roda kepemimpinannya.

                Diantara keteladanan Rasulullah saw. yang disebutkan ulama tafsir pada saar menerangkan maksud ayat di atas adalah:

  • As Shabru fii thaa’atillah: sabar dalam mentaati Allah dan menegakkan ajaranNya
  • Al Mushabarah: bersungguh-sungguh dan pentang menyerah dalam menyelesaikan kedzaliman serta menghadapi kekuatan musuh yang mengancam.
  • Asy Syaja’ah: Berani menghadapi segala resiko demi tegaknya kebenaran dan keadilan.

Izinkan saya disini membahas mengenal keutamaan sisi-sisi keteladanan Rasulullah tersebut, untuk menjadi pegangan bagi siapa saja yang akan terjun ke dalam dunia kepemimpinan.

  1. As Shabru fii thaa’atillah. Tanpa ketaatan kepada Allah seorang pemimpin tidak akan pernah memimpin rakyatnya dengan baik. Sebab hanya Allah yang paling berhak ditaati. Dialah satu-satuNya Dzat yang mempunyai kebenaran mutlak. selainNya hanya mahluk yang tidak mempunyai daya apapun kecuali dariNya. Karenanya dulu sering diucapkan oleh para ulama: laa thaa’atali makhluqin fii ma’shiyatil khaaliq (tidak ada ketaatan bagi seorang mahluk –apapun jabatan dan kedudukannya- dalam berbuat maksiat kepada Sang Pencipta). Oleh sebab itu pemimpin yang dzalim tidak pantas ddidukung dalam kedzalimannya. Siapa yang mendukung kedzalimannya dia kelak harus juga menanggung dosa kedzaliman yang dilakukan. Karena itu pendukung Fir’aun juga akan mengalami adzab seperti yang dialami Fir’aun. Allah berirman: “Kepada mereka (selama dalam kuburnya) dinampakkan neraka pada pagi dan petang, dan pada hari terjadinya kiamat. (dikatakan kepada malaikat): “Masukkanlah Fir’aun dan kaumnya ke dalam azab yang sangat keras” (Al Mu’min 46).

Dari sini jelas, bahwa seorang pemimpin jangan mentang-mentang merasa jadi rasa, lalu merasa tidak perlu tuntunan Allah dan berbuat maksiat seenaknya. Ingat bahwa kepemimpinan adalah tanggung jawab. Di hari kiamat kelak seorang pemimpin harus mempertanggungjawabkan kepada Allah segala perbuatan yang dilakukan selama kepemimpinannya. Bukan hanya perbuatannya, penderitaan rakyat dan penduduknya jika itu terjadi karena kedzalimannya ia juga akan dimintai pertanggungjawaban. Karenanya Umar bin Khaththab ketika menjabat sebagai khalifah pernah menangis karena takut ditanya oleh Allah kelak tentang seekor kuda yang tergelincir di pojok Irak, akibat dia tidak memperbaiki jalan. Padahal Umar telah berbuat adil, dan semua rakyat merasakan lezatnya keadilan yang ia tegakkan.

  • Al Mushabarah. Setiap pemimpin pasti akan menghadapi banyak tantangan. Tantangan dari dalam maupun tantangan dari luar. Semua itu menuntut kesungguhan dan ketegaran dalam menghadapinya. Sebab setiap tantangan jika tidak dihadapi ia akan menyebarkan kerusakan dan kekacauan. Allah berfirman: yaa ayyuhalladziinan aamanuush birru washaabiruu wa raabithuu wattaqullaha la’allakum tuflihuun (Ali Imran 200). Dalam ayat ini setelah Allah memerintahkan agar bersabar lalu berfirman washaabiruu. Perhatikan bagaimana mushabarah adalah bagian tak terpisahkan dari kesabaran. Artinya bahwa kesabaran seseorang tidak lengkap tanpa didukung dengan al mushabarah. Sebab bagaimanapun tantangan pasti ada. Banyak orang sabar dalam menjalankan ibadah ritual. Tetapi seringkali gagal dalam menghadapi tantangan, mengapa? Karena jiwa mushabarahnya lemah.

                Seorang pemimpin tanpa al mushabarah, ia akan mudah menyerah. Sudah barang tentu al mushabarah yang dicontohkan Rasulullah saw.  bukan dalam mempertahankan kedzaliman melainkan dalam hal melawan musuh-musuh Allah dan memerangi kedzaliman . sayangnya, musibah terbesar dalam kepemimpinan sekarang adalah banyaknya para pemimpin yang berjiwa mushabarah untuk mempertahankan status quo dan membela kedzalimannya sendiri. Akibatnya bukan kesejahteraan yang rakyat rasakan, melainkan semakin mewahnya para pemimpin dan semakin menderitanya rakyat yang dipimpinnya.

  • Asy syajaa’ah. Keberanian adalah sikap yang paling menentukan bagi seorang pemimpin. Artinya berani dalam menegakkan ajaran Allah di bumi dan menghancurkan segala bentuk kedzaliman. Kita sangat membutuhkan keberanian seorang pemimpin yang dicontohkan Rasulullah saw. dimana beliau tidak pernah ragu dan main-main dalam menjalankan perintah Allah. Sebab beliau tahu bahwa sekali ia melanggar hukum-hukumNya, ia harus berhadapan dengan kekuatan Allah yang Maha Perkasa. Sekarang kita benar-benar mengalami krisis kepemimpinan yang mempunyai keberanian seperti ini. Banyak para pemimpin berani untuk membela kepentingan perutnya, kepentingan nafsunya dan lain sebagainya. Tetapi untuk membela Allah mereka pengecut. Lidah mereka tidak berani bicara. Akibatnya kemaksiatan dimana-mana dianggap sah. Mereka lebih takut kepada hilangnya kedudukan daripada kelak harus mendekam dalam neraka.

                Diceritakan bahwa di setiap pertempuran Rasulullah saw.  selalu berada pada barisan terdepan, yang langsung berhadapan dengan lawan. Bukan seperti pemimpin sekarang yang hanya pandai berdiplomasi dan bersembunyi di balik layar. Pernah suatu malam terdengar di pojok kota Madinah sebuah suara menakutkan, ketika para sahabat keluar menuju tempat tersebut,ternyata mereka telah menemukan Rasulullah saw. sebagai orang yang pertama sampai ke tempat itu. Perhatikan betapa Rasulullah saw adalah pemimpin yang mempunyai sifat keberanian dalam segala sisi. Sebab pemimpin yang pengecut ia tidak akan pernah bertanggung jawab atas perbuatannya dan cenderung akan selalu menipu rakyat.

Syaratnya Harus Beriman

                          Pada penutupan ayat Allah berfirman: Iiman kaana yarjullaha wal yawmal aakhir wa dzakarallaha katsiiraa. Dari ayat ini nampak ada tiga syarat yang harus dipenuhi seorang pemimpin dalam menegakkan agenda besarnya yang kita kenal dengan keteladanan.

  • Yarjullaha. Artinya beriman kepada Allah dan mengharapkan keridhaanNya. Sebab para pemimpin yang hanya mengejar kemegahan dunia tidak akan pernah berbuat baik untuk rakyatnya. Ia pasti akan menipu dan mengeruk kejayaan negara untuk kepentingan pribadinya. Hanya pemimpin yang ikhlas mengharapkan ridha Allah, dialah yang akan jujur memperjuangkan kepentingan orang lain.
  • Wal yawmal aakhir. Para pemimpin yang beriman kepada hari kiamat dan yakin akan adanya hisab (perhitungan dan pertanggungjawaban) dia pasti takut untuk berbuat dzalim. Sejarah menunjukkan bahwa hanya para pemimpin model ini yang paling berhasil membawa rakyatnya kepada kesejahteraan. Selain mereka adalah pemimpin yang dzalim, dan tidak pernah berbuat apa-apa kecuali mendatangkan malapetaka dan kesengsaraan secara massal.
  • Wadzakarallaha katsiira. Pemimpin yang selalu sadar akan nikmat-nikmat Allah yang begitu banyak, pasti tidka akan berani berbuat maksiat kepadaNya. Ia takut kalau kelak nikmat-nikmat tersebut dicabut karena kemaksiatannya. Karenanya ia selalu berdzikir kepadaNya. Dzikir yang melahirkan kekuatan dalam dirinya. Kekuatan untuk menegakkan keadilan dan membangun kesejahteraan rakyatnya. Inilah agenda besar yang sungguh selama ini diabaikan dalam sejarah kepemimpinan dunia, padahal inilah rahasia kemenangan Rasulullah dalam perang Al Ahzab.

Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author