Manusia, Antara Khalifah & Kekuasaan
amirfath.com, Artikel (13), Des 2020 – Hai Daud, sesungguhnya Kami menjadikan kamu khalifah (penguasa) di muka bumi, maka berilah keputusan (perkara) di antara manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu, karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang sesat dari jalan Allah akan mendapat azab yang berat, karena mereka melupakan hari perhitungan. Dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada diantara keduanya tanpa hikmah. Yang demikian itu adalah anggapan orang-orang kafir, maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka. (QS. Shaad: 26-27)
Allah Swt menjelaskan dalam ayat ini, memerintahkan kepada Nabi Daud ketika dia dipilih sebagai khalifah/Pemimpin. Al Qur’an memilih kata khalifah, karena khalifah itu tidak identik dengan penguasa, kalau penguasa seringkali digunakan untuk berkuasa yang kecenderungan besar menuruti hawa nafsu. Kalau khalifah adalah orang yang mewakili (wakil). Mewakili Allah (Sebagai duta yang tugasnya untuk menjalankan ketentuan/hukum Allah). Karena itu Allah menyebutkan bahwa fahkum bainannas bil haq, demikian Allah menyuruh Daud untuk menegakkan hukum ditengah manusia. Karena Allah menurunkan Al Qur’an, alam, dst untuk ,manusia. Manusia adalah makhluk yang Allah muliakan. Sampai-sampai Allah menyuruh malaikat untuk sujud kepada Adam. Mengapa dimuliakan? Karena manusia yang akan dijadikan khalifah di muka bumi.
Karena itu tidak ada pilihan bagi manusia kecuali menegakkan hukum Allah di muka bumi dengan penuh keadilan (bil haq) dengan mengutamakan ajaran-ajaran Allah swt sebagai pedoman. Ketika manusia menghindari ajaran Allah maka manusia akan tersesat. Yang terjadi hancurnya kemanusiaan, terjadinya konflik dan kerusakan di muka bumi karena manusia tidak mau menegakkan hukum Allah secara benar. Kalau tidak, mudharatnya jauh lebih besar ketimbang manfaatnya. Allah-lah yang menciptakan langit dan bumi. Maka, hanya Allah yang tahu apa yang baik bagi manusia. Itulah mengapa Allah memberikan bil haq, karena bimbingan Allah pasti benar. Tuntunan Allah pasti benar dan bermanfaat. Setiap manusia yang tidak mau mengikuti tuntunan Allah pasti akan celaka di dunia-akhirat.
Kedua wala tatta bi’il hawaa, jangan sekali-kali menuruti hawa nafsu. Seringkali seseorang ketika harta banyak, pendukung banyak, fasilitas ada saat menjadi pemimipin mulai tunduk kepada hawa nafsunya maka ia akan sesat dari ajaran Allah dan pasti akan celaka. Banyak contoh sejarah, misal : Fir’au, Namruz, dsb. Yang Allah musnahkan karena mereka menuruti hawa nafsunya.
Tidak ada kepemimpinan di dunia yang dapat bertahan ketika ia memelihara hawa nafsu. Edward Gibbon yang menganalisa tentang The Delice Of Roman Empire, (kejatuhan romawi). salah satu analisanya menyebutkan bahwa keturunan romawi karena bangsa tersebut telah menuruti hawa nafsunya. Setiap kerajaan manapun, termasuk pemimpinnya jika mengikuti hawa nafsu maka akan runtuh. Secara ekspilisit Allah menegaskan, wala tatta bi’il hawaa. Allah tidak saja berkata fahkum bainannas bil haq, tetapi ditambahkan dengan wala tatta bi’il hawaa. Yang satu perintah yang satu larangan, agar seimbang.
Lalu kemudian Allah berfirman, bahwa Bimaa nasuu yaumal hisaab, mereka melupakan hari perhitungan. Dia akan lupa akan penderitaan rakyat, berbangga-bangga dengan dosa-dosa, dengan barang haram, dan tidak takut kepada hari akhir.
Seperti halnya kisah Umar bin Khottob yang sudah berhasil menegakkan keadilan di negerinya, bahkan dalam suatu riwayat menyebutkan pada waktu itu rakyat benar-benar merasakan keadilan yang nyata di dalam kepemimpinan beliau. Namun beliau masih menangis setiap bada maghrib hanya karena ada kuda yang terpeleset di Irak. Ia takut ketika Allah bertanya; “Hai Umar, mengapa engkau tidak memperbaiki jalan di Irak hingga membuat seekor kuda tergelincir disana?” sampai Umar begitu memperhatikan kuda yang tergelincir. Kenapa? Karena Ia ingat akan hari perhitungan. Ini bukti bahwa pemimpin yang takut akan hari akhir adalah pemimpin yang selalu dalam kebenaran. Tapi ketika seorang pemimpin yang menuruti hawa nafsunya ia akan lupa akan hari akhir.
Lalu Allah mengingatkan bahwa: wa ma kholaqna samaa’a wal ard wa ma baina humaa baatilaa, dan kami tidak menciptakan langit dan bumi dan diantara keduanya dengan sia-sia.
Maka ketika pemimpin mengikuti nafsunya maka ia telah mengabaikan hakikat ciptaan Allah di langit dan di bumi yang sempurna lagi bermanfaat. Setelah itu, Allah menjelaskan lagi; “itu anggapan orang-orang kafir” (bahwa penciptaan di langit dan di bumi ini main-main), padahal tidak, Allah menciptakan apa-apa yang ada dilangit dan di bumi ada tujuannya. Dan selanjutnya Allah menerangkan “maka celakalah orang-orang kafir itu karena mereka akan masuk neraka”. Inilah pesan utama yang di terangkan Allah untuk nabi Daud ketika memimpin.
Beberapa contoh tentang kepemimpinan yang menegakkan kebenaran:
Zulkarnain As
Zulkarnain diberi kekuasaan oleh Allah swt. untuk memimpin dunia. “Sungguh, kami telah memberi kedudukan kepadanya di bumi, dan Kami telah memberikan jalan kepadanya (untuk mencapai) segala sesuatu”. (QS. Al Kahfi: 84) Ini membuktikan bahwa kepemimpinan adalah pemberian Allah untuk mencabut kekuasaan.Makanya tidak ada pemimpin yang kekal. Sebab Allah yang memberikan kekuasaan itu. Dan ayat selanjutnya “maka dia pun menempuh suatu jalan” (QS. Al Kahfi: 85) dan dia (Zulkarnain) tidak melalaikan amanah yang telah diberikan itu. Ia menjalankan segalanya untuk kebaikan ummat. Untuk menyelamatkan kemanusiaan.
“Hingga ketika dia telah sampai di tempat matahari terbenam, dia melihatnya matahari (terbenam) di dalam laut yang berlumpur hitam, dan di sana ditemukannya suatu kaum (tidak beragama). Kami berfirman, “Wahai Zulkarnain! Engkau boleh menghukum atau berbuat kebaikan (mengajak beriman) kepada mereka” (QS. Al Kahfi: 86). Ayat selanjutnya ditulis “Dia (Zulkarnain) berkata, “barang siapa berbuat zalim kami akan menghukumnya, lalu dia akan dikembalikan kepada Tuhannya, kemudian Tuhan mengazabnya dengan azab yang sangat keras”. (QS. Al Kahfi: 87)
Dan pada ayat berikutnya “Adapun orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, maka dia mendapat (pahala) yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami sampaikan kepadanya perintah kami yang mudah” (QS. Al Kahfi: 88) Dan ayat-ayat selanjutnya tentang kisah Nabi Zulkarnain ini amat jelas untuk kita simak, bahwa pada (QS. Al Kahfi: 90) Zulkarnain menemui suatu kaum yang tidak menggunakan pelindung diri (berpakaian) lalu Zulkarnain menyelamatkannya.
Begitu juga pada ayat selanjutnya. (QS. Al Kahfi: 94) Zulkarnanin menemui suatu kaum yang merasa terganggu oleh kaum lain dan kaum yang merasa terganggu tersebut meminta Zulkarnain untuk menyelamatkannya dengan minta dubuatkan dinding pembatas. Lalu Zulkarnain, menyanggupinya dengan turun langsung dalam proyek pembuatan pagar pembatas tersebut. Hingga “Dia (Zulkarnain) berkata, “Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka” (QS. Al Kahfi: 95) perhatikan. Inilah bagaimana figur teladan seorang pemimpin yang turun langsung menyelesaikan amanahnya. Begitu selanjutnya (QS. Al Kahfi: 96-97)
Sulaiman As
Nabi Sulaiman diberi kekuasaan yang luar biasa dari Allah swt. yaitu dengan kekayaan. Sampai-sampai Nabi Sulaiman berdo’a: “Ya Allah ampunilah hamba, dan berikanlah hamba kekuasaan yang tiada manusia menandinginya” maka ia diberi kemampuan memahami bahasa burung. Diberi kemampuan yang luar biasa hingga Jin tunduk kepadanya.
Allah memberi ilustrasi yang jelas, bahwa ia (sulaiman) faham bahasa binatang. Kisah Nabi Sulaiman yang melewati lubang semut yang ia persilahkan para semut agar masuk kelubangnya agar tidak terinjak oleh pasukannya yang hendak melewati jalan tersebut. Dia memahami bahasa binatang bahkan sampai bahasa binatang dan ia tidaklah sombong. Bersyukur seorang pemimpin atas segala nikmat Allah.
Lalu, ada lagi kisah menarik ketika Nabi Sulaiman mendapat laporan dari seekor burung yang menerangkan bahwa ada satu kerajaan yang dipimpin oleh seorang wanita yang wanita tersebut menyembah matahari. Dan Nabi Sulaiman tidak tinggal diam, ia lalu mengutus tentaranya untuk mengirim surat kepada wanita tersebut, lalu kita tunggu apa jawaban darinya, isi surat tersebut “Hendaklah kamu jangan merasa tinggi kepadaku, datanglah kepadaku dengan berserah diri” Nabi Sulaiman meninta wanita tersebut (Ratu Bilqis) untuk berserah diri kepada Allah.
Dan Ratu Bilqis meminta Nabi Sulaiman untuk memindahkan kerjaannya. Lalu Nabi Sulaiman menyanggupinya dan Ratu Bilqis kaget ketika melihat kerajaan yang sudah berpindah tempat. Ketika Ratu Bilqis diminta untuk memasukinya Ratu Bilqis heran melihat ada kolam di bawah kakinya hingga ia menyingkapkan kakinya sesungguhnya itu adalah yang bentangan dari kaca. Dan ratu Bilqis berkata “Ya Allah aku sungguh telah menzholimi keadaanku,dan aku bergabung dengan sulaiman untuk berserah diri kepadaMu” perhatikan nabi Sulaiman dengan kekuasaan bukan semata untuk menaklukkan Bilqis, tapi semata untuk berserah diri padaNya.
Yusuf As
Nabi Yusuf diangkat di kerajaan dengan posisi yang baik. Nabi Yusuf berdoa kepada Allah untuk ditempatkan sebagai bendahara kerajaan, karena ia memiliki kemampuan disana dan ketika itu, dibutuhkan penjaga keuangan Negara (bendahara) kerajaan yang amanah demi kemashlahatan ummat.
Sifat Nabi Yusuf yang perlu kita teladani saat ini adalah sifat: Hafidz (kemampuan menjaga) dan kemampuan (kapabilitas). Hal inilah yang sudah hilang pada saat ini.
Wallahu a’lam bishshowwab.