Monday, August 11

Dicari Pemimpin Yang Berakhlak Mulia

amirfath.com, Artikel (12), Des 2020 – Dan sesungguhnya bagi kamu benar-benar pahala yang besar yang tidak putus-putusnya. Dan sesungguhnya kamu benar-benar berbudi pekerti yang agung. Maka kelak kamu akan melihat dan mereka (orang-orang kafir) pun akan melihat, siapa di antara kamu yang gila. (QS. Al Qalam 3-6)

Ayat-ayat di atas adalah sebagian dari pembuka surat Al Qalam. Sebelumnya Allah swt. bersumpah dengan Al Qalam, lalu menegaskan bahwa Rasulullah saw. tidak gila. Baru setelah itu Allah menyebutkan bahwa bagi Rasulullah adalah pahala yang tiada terputus. Bahwa akhlaknya sangat agung dan bahwa kemenangan akan segera membuktikan siapakah yang gila, sebagaimana disebutkan pada ayat-ayat di atas yang menjadi tema pokok pada pembahasan ini.

                Rasulullah saw. adalah contoh seorang pemimpin sejati. Dan dari ayat di atas akan segera nampak bahwa sukses Rasulullah dalam memimpin adalah karena akhlaknya. Tidak ada seorang pun yang berani mengingkari kemulyaan akhlak Rasulullah saw. Sampai-sampai orang-oramg kafir Makkah memberi gelar Al Amin (pribadi yang terpecaya). Inilah modal utama yang Allah bekalkan kepada Rasulullah saw.  Disebutkan dalam beberapa riwayat bahwa banyak sekali orang-orang Quraisy Makkah yang menitipkan amanat berharga kepada Rasulullah saw. hendak berangkat hijrah. Rasulullah menitipkan amanat-amanat tersebut kepada Ali ra. Supaya nanti dikembalikan kepada yang punya. Perhatikan betapa Rasulullah sagat dipercaya oleh masyarakat Quraisy –sekalipun mereka memusuhi-nya- sehingga ia menjadi yang sangat berharga.

Rahasia Pujian Allah

                Bila Allah sendiri yang memuji, sudah barang tentu, ini bukan sembarang pujian. Mengapa? Allah swt. maha tahu. Tidak ada yang tersembunyi bagiNya. Maka bila Ia memuji seorang hambaNya, berarti hamba tersebut memang benar-bemar baik. Sebab tidak mungkin Allah memuji seseorang yang nampaknya baik, padahal sebenarnya tidak baik. Berbeda dengan pujian manusia kepada orang lain. Manusia memuji seseorang adalah karena sebagian sisi yang ia ketahui. Sementara yang tidak ia ketahui jauh lebih banyak. Karenanya pujian manusia cenderung tidak objektif .

                Allah memuji Rasulullah saw. adalah karena akhlaknya. Mengapa? Sebab untuk mengurus dunia sangat dibutuhkan manusia berakhlak mulia. Apalah arti manusia cerdas dan maju secara tehnologi, tetapi akhlaknya bejat dan merusak kemanusiaan. Justru manusia dengan kecerdasannya yang jauh dari akhlak mulia, akan terseret ke dalam kehancuran tak terhingga. Berbagai peperangan yang terjadi menunjukkan bahwa tehnologi bila dikendalikan oleh manusia-manusia tidak berakhlak ia menjadi malapetaka yang menghanguskan kehidupan manusia itu sendiri. Allah tahu bahwa dunia ini hanya membutuhkan manusia-manusia berakhlak. Tanpa akhlak mulia manusia tidak akan pernah mencapai kebahagiaan yang mereka dambakan. Inilah inti risalah yang dibawa Rasulullah saw.

                Imam Al Baihaqi dalam kumpulan haditsnya: sunanul baihaqi al kubra 10/191, no: 20571, menyebutkan sebuah riwayat dari Abu Hurairah Rasulullah saw. bersabda: innamaa buitstu liutammima makaarimal akhlaaq (sesungguhnya aku diutus untuk membangun akhlak mulia). Dan tidak ada akhlak mulia kecuali ikut tuntunan Allah dalam Al Qur’an. Karenanya Aisyah ra. Ketika ditanya mengenai akhlak Rasulullah saw. ia menjawab:

                (Akhlak Rasulullah saw. adalah Al Qur’an, tidakkah kau membaca ayat: wainnaka la’alaa khuluqin adziim? (lihat Musnad Imam Ahmad, 6/91, no: 24645. Imam As Suyuthi mengatakan dalam bukunya Al Itqaan fii uluumil Qur’an 2/300 : bahwa akhlak mulia adalah sumber kebaikan untuk urusan dunia, agama dan akhirat. Inilah yang tercakup dalam do’a Rasulullah: (Ya Allah perbaikilah agamaku karena ia adalah penjaga urusanku, perbaikilah duniaku karena didalamnya ada penghidupanku dan perbaikilah akhiratku, karena kepadanya aku kembali).

                Dari sini nampak bahwa tidak ada jalan untuk memimpin dunia kecuali dengan akhlak mulia. Maka siapapun yang tidak berakhlak mulia, ia tidak memenuhi syarat untuk pemimpin. Sebab bila ia memumpin –sementara ia dzalim- bisa dipastikan ia akan mengantarkan rakyat yang dipimpinnya kepada kesengsaraan. Allah telah menceritakan dalam Al Qur’an kepemimpinan kaum Aad, kaum Tszamud dan kaum Fir’aun, yang pernah dihancurkan karena kedzaliman yang mereka lakukan. Singkatnya: “tidak akan bahagia suatu bangsa yang dipimpin oleh manusia-manusia dzalim, sekalipun ia cerdas dan pintar berpolitik “. Inilah rahasia mengapa Allah swt. pada ayat di atas memuji Rasulullah saw. dari sisi akhlaknya.

Akhlak, Pahala dan Kemengan

                Perhatikan ayat di atas dari segi susunannya:

(a)Allah berfirman: “wainna laka la ajran ghaira mamnuun”  ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw., Allah janjikan kepadanya pahala yang tak terhingga.

(b)Allah berfirman: “wa innaka la’alaa khuluqin ‘adziim” ini menunjukkan bahwa Rasulullah saw. memang benar-benar mempunyai akhlak mulia.

(c)Allah berfirman: “fasatubshiru wa yubshiruun” ini menunjukkan bahwa Allah kelakakan membuktikan dengan kemenangan, dengannya akan nampak siapakah yang benar-benar gila dan siapa yang tidak. Dari sini terlihat suatu rangkaian yang sangat menarik untuk kita garisbawahi.

                Pertama, hubungan antara akhlak mulia dengan pahala. Betapa runtutan ayat di atas menggambarkan bahwa hanya dengan akhalak mulia seseorang akan mendapatkan pahala yang tiada putus-putusnya. Mengapa? Sebab dengan akhlak mulia seseorang tidak pernah berbuat buruk: (a) Mematuhi aturan Allah swt. dengan sungguh-sungguh (b) Berbuat baik kepada manusia secara maksimal (c) Membangun atmosfir lingkungan dengan amal saleh dan seterusnya. Maka dengan semua dimensi akhlak mulia ini, seseorang bila benar-benar menegakkannya, ia tidak akan kehilangan kebaikan. Bahkan semua sisi hidupnya akan baik. Tidak hanya di dunia, melainkan juga di akhirat. Karenanya, pahala akan terus mengalir kepadanya. Allah berfirman: wainna laka ajran ghaira mamnuun.

                Kedua, hubungan antara akhlak mulia dengan kemenangan. Dari runtutan ayat di atas juga nampak bahwa setelah Allah berfirman: “wa inna laka laajran ghairu mamnuun” Lalu berfirman: “wa innaka la’alaa khuluqin ‘adziim” ini menggambarkan betapa akhlak mulia sangat menentukan dalam mencapai kemenangan. Artinya, bahwa kemenangan hakiki yang Allah janjikan di dunia dan akhirat tidak akan pernah diraih oleh seseorang bila ia tidak berakhlak mulia. Lebih-lebih seorang pemimpin, ia tidak akan pernah mencapai keberhasilan dalam kepemimpinannya bila hanya mengendalikan keahlian dalam berpolitik dan berdiplomasi. Inagt bahwa alam semesta ini milik Allah. Dialah yang paling berhak menentukan langkah-langkah untuk mencapai kemenangan.

                Huruf “fa” pada ayat: “fasatubshiru wa yubshiruun” menunjukkan cepatnya proses dan sebab akibat. Artinya bahwa bila seseorang benar-benar mengedepankan akhlak mulia, maka buah yang akan segera ia dapatkan adalah kemenangan. Karenanya jalan pintas untuk memperbaiki kondisi suatu bangsa yang murat-marit secara ekonomi, politik, budaya dan sosial, tidak ada lain kecuali harus kembali secara sungguh-sungguh membangun atmosfir akhlak mulia. Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author