Zaid bin Haritsah: Cahaya Loyalitas dan Pelajaran Abadi tentang Cinta Sejati kepada Rasulullah
amirfath.com, Artikel (290), September 2025 –Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Salawat dan salam semoga tercurah kepada Nabi Muhammad ﷺ, beserta keluarga, para sahabat, dan seluruh pengikut setianya hingga akhir zaman.
Dalam lembaran sirah Nabawiyah yang penuh cahaya, terdapat nama-nama mulia para sahabat yang kisah hidupnya bagai mutiara yang senantiasa memancarkan hikmah. Salah satunya adalah Zaid bin Haritsah radhiallahu ‘anhu, seorang sahabat yang bukan hanya pemberani di medan jihad, tetapi juga teladan dalam keteguhan hati dan loyalitas yang luar biasa kepada Rasulullah ﷺ.
Kisah Zaid adalah bukti nyata bagaimana Allah Subhanahu wa Ta’ala menyiapkan dan memilih hamba-hamba-Nya untuk menjadi pembawa cahaya Islam. Cahaya yang bermula dari Baitullah, memancar melalui generasi terbaik umat ini, yaitu generasi sahabat, tabi’in, tabi’ut tabi’in, hingga sampai kepada kita hari ini melalui para ulama yang menjaga kemurnian agama.
Allah berfirman:
مُحَمَّدٌ رَسُولُ اللَّهِ ۚ وَالَّذِينَ مَعَهُ أَشِدَّاءُ عَلَى الْكُفَّارِ رُحَمَاءُ بَيْنَهُمْ ۖ تَرَاهُمْ رُكَّعًا سُجَّدًا يَبْتَغُونَ فَضْلًا مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانًا ۖ سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِمْ مِنْ أَثَرِ السُّجُودِ ۚ ذَٰلِكَ مَثَلُهُمْ فِي التَّوْرَاةِ ۚ وَمَثَلُهُمْ فِي الْإِنْجِيلِ كَزَرْعٍ أَخْرَجَ شَطْأَهُ فَآزَرَهُ فَاسْتَغْلَظَ فَاسْتَوَىٰ عَلَىٰ سُوقِهِ يُعْجِبُ الزُّرَّاعَ لِيَغِيظَ بِهِمُ الْكُفَّارَ ۗ وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ مِنْهُمْ مَغْفِرَةً وَأَجْرًا عَظِيمًا
“Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengan dia adalah keras terhadap orang-orang kafir, tetapi berkasih sayang sesama mereka. Kamu lihat mereka ruku’ dan sujud mencari karunia Allah dan keridhaan-Nya, tanda-tanda mereka tampak pada muka mereka dari bekas sujud. Demikianlah sifat-sifat mereka dalam Taurat dan sifat-sifat mereka dalam Injil, yaitu seperti tanaman yang mengeluarkan tunasnya maka tunas itu menjadikan tanaman itu kuat lalu menjadi besarlah dia dan tegak lurus di atas pokoknya; tanaman itu menyenangkan hati penanam-penanamnya karena Allah hendak menjengkelkan hati orang-orang kafir (dengan kekuatan orang-orang mukmin). Allah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal yang saleh di antara mereka ampunan dan pahala yang besar.” (QS. Al-Fath: 29)
Zaid bin Haritsah adalah bagian dari generasi emas tersebut. Takdir Allah telah menyiapkannya melalui jalan yang berliku. Diambil oleh penyamun saat masih kecil, dijual sebagai budak, hingga akhirnya dihadiahkan kepada Khadijah radhiallahu ‘anha dan kemudian menjadi milik Rasulullah ﷺ. Saat ayah dan pamannya datang untuk menebusnya, Rasulullah ﷺ dengan bijaksana memberikan pilihan kepada Zaid yang masih belia: kembali dengan keluarganya atau tetap bersama Rasulullah.
Dengan keteguhan yang luar biasa, Zaid kecil berkata, “Balqimu maaka” (Aku tetap bersamamu, wahai Muhammad). Bahkan ketika ayahnya mengingatkan bahwa pilihannya itu berarti ia memilih status sebagai hamba sahaya, Zaid dengan mantap menjawab, “Inni roitu minza rjulaian” (Aku melihat dari orang ini [Muhammad] sesuatu yang membuatku ingin selalu bersamanya). Subhanallah! Ini adalah firasat iman yang Allah tanamkan dalam hatinya, jauh sebelum kenabian Muhammad ﷺ.
Rasulullah ﷺ pun begitu tersentuh. Beliau segera membawa Zaid ke sekitar Ka’bah dan berseru, “Wahai penduduk Quraisy! Saksikanlah bahwa ini adalah anakku. Dia dapat waris dariku dan aku dapat waris darinya.” Sejak saat itulah ia dipanggil Zaid bin Muhammad, hingga turun ayat yang melarang pengangkatan anak dengan menyandarkan nasab kepada orang tua angkatnya.
Allah berfirman:
ادْعُوهُمْ لِآبَائِهِمْ هُوَ أَقْسَطُ عِنْدَ اللَّهِ ۚ فَإِنْ لَمْ تَعْلَمُوا آبَاءَهُمْ فَإِخْوَانُكُمْ فِي الدِّينِ وَمَوَالِيكُمْ
“Panggillah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; itulah yang lebih adil di sisi Allah. Jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, maka (panggillah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu.” (QS. Al-Ahzab: 5)
Ayat ini menjadi pelajaran berharga bagi kita hingga hari ini. Islam mengatur hubungan kekeluargaan dengan sangat jelas dan adil. Seorang anak angkat tetap harus dipanggil dengan nama ayah kandungnya, dan hubungan mahramnya tidak menjadi hilang. Ini adalah bentuk kasih sayang Allah agar tidak terjadi penyimpangan dalam hukum waris dan pernikahan.
Pilihan Zaid untuk Rasulullah ﷺ adalah pilihan cinta sejati yang didasarkan pada firasat ilahiyah. Ia belum tahu bahwa Muhammad ﷺ akan diangkat menjadi Nabi, belum tahu bahwa ia akan menjadi batu bata pertama fondasi dakwah Islam, dan belum tahu bahwa namanya akan dikenang sepanjang masa. Inilah bukti bahwa ketika Allah yang memilih, maka Dia akan menuntun hamba-Nya kepada kemuliaan yang tidak terduga.
Kedudukan Zaid di sisi Rasulullah ﷺ pun sangat istimewa. Ia adalah orang pertama dari kalangan laki-laki yang beriman kepada Rasulullah ﷺ. Ia menjadi penyimpan rahasia Rasul, pemimpin pasukan, dan bahkan menggantikan Nabi memimpin Madinah saat Rasulullah keluar kota. Kecintaan Rasulullah ﷺ padanya begitu besar. Diceritakan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha, suatu saat Zaid pulang dari perjalanan jauh. Begitu mendengar suaranya, Rasulullah ﷺ yang saat itu hanya menutup aurat antara pusar dan lutut, langsung keluar memeluknya erat. Aisyah berkata, “Aku belum pernah melihat Rasulullah ﷺ dalam keadaan seperti itu, saking rindunya pada Zaid.”
Rasulullah ﷺ bersabda:
أَحَبُّ النَّاسِ إِلَيَّ عَائِشَةُ، وَمِنَ الرِّجَالِ أَبُو بَكْرٍ، وَعُمَرُ، وَعُثْمَانُ، وَزَيْدُ بْنُ حَارِثَةَ
“Manusia yang paling aku cintai adalah Aisyah. Dan dari kalangan laki-laki adalah Abu Bakar, Umar, Utsman, dan Zaid bin Haritsah.” (HR. Ahmad)
Zaid bahkan dijuluki “Hibbu Rasulillah” (kekasih Rasulullah). Putranya, Usamah, juga mewarisi kemuliaan ini dengan julukan “Hibbu Rasulillah ibnu Hibbi Rasulillah” (kekasih Rasulullah, anak dari kekasih Rasulullah).
Dari kisah Zaid bin Haritsah, kita dapat memetik banyak hikmah:
- Loyalitas dan Cinta Sejati kepada Rasulullah ﷺ. Zaid mengajarkan kita bahwa cinta kepada Rasulullah harus di atas segalanya, bahkan melebihi cinta kepada orang tua dan diri sendiri. Rasulullah ﷺ bersabda, “Tidak beriman salah seorang di antara kamu hingga aku lebih dicintainya daripada anaknya, orang tuanya, dan seluruh manusia.” (HR. Bukhari dan Muslim).
- Ketaatan pada Syariat dalam Pengangkatan Anak. Kisah Zaid menjadi dasar yang jelas tentang bagaimana Islam mengatur hubungan anak angkat dengan orang tua angkatnya, menjaga nasab, dan menghindari hal-hal yang terlarang.
- Kepasrahan pada Takdir Allah. Perjalanan hidup Zaid yang berliku menunjukkan bahwa Allah memiliki rencana terbaik untuk hamba-Nya. Apa yang tampak sebagai kesulitan, bisa jadi adalah jalan menuju kemuliaan.
- Pentingnya Memilih Guru dan Lingkungan yang Baik. Pilihan Zaid untuk tetap bersama Rasulullah adalah pilihan untuk berada dalam lingkungan yang akan membawanya pada cahaya iman dan takwa.
- Keadilan dan Kasih Sayang dalam Keluarga. Seorang anak angkat atau anak tiri harus diperlakukan dengan adil dan penuh kasih sayang, sebagaimana Rasulullah ﷺ memperlakukan Zaid.
Semoga kita dapat meneladani keteguhan, loyalitas, dan kecintaan Zaid bin Haritsah kepada Rasulullah ﷺ. Semoga Allah menjadikan kita bagian dari orang-orang yang mencintai Rasul-Nya dan senantiasa berjalan di atas cahaya-Nya.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah: 201)
سُبْحَانَ رَبِّكَ رَبِّ الْعِزَّةِ عَمَّا يَصِفُونَ . وَسَلَامٌ عَلَى الْمُرْسَلِينَ . وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan yang Maha Perkasa dari apa yang mereka katakan. Dan salam sejahtera bagi para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS. Ash-Shaffat: 180-182)
وَصَلَّى اللَّهُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ