Kemuliaan Menjadi Keluarga Penjaga Kitab Allah
amirfath.com, Artikel (289), September 2025 –Bismillahirrahmanirrahim.Dalam sebuah ruangan yang dipenuhi keteduhan dan kekhusyukan, terpancar cahaya kemuliaan. Mereka yang hadir bukanlah para pejabat atau selebritas, melainkan para penghafal Al-Qur’an beserta orang tua dan pendukung mereka. Inilah acara yang sesungguhnya Allah banggakan di langit, sebuah peristiwa agung yang sering kali dianggap remeh oleh banyak orang.Acara seperti ini seharusnya lebih diprioritaskan daripada segala acara kenegaraan sekalipun. Mengapa? Karena hakikat penciptaan langit, bumi, dan manusia adalah untuk menurunkan Al-Qur’an. Manusia hanya bermakna ketika hidupnya bersama Al-Qur’an. Tanpanya, kehidupan ini tidak lebih dari rutinitas hewani: tidur, makan, dan berkembang biak. Kucing dan tikus pun bisa melakukan itu. Keistimewaan manusia terletak pada kemampuannya untuk membawa firman Allah dalam hatinya.Di tengah gempuran zaman yang mengatakan bahwa menghafal Al-Qur’an sudah tidak relevan karena semua ayat sudah tersedia di gawai, kita harus kembali pada hakikatnya. Al-Qur’an bukanlah buku biasa atau aplikasi digital. Ia adalah Kalamullah, firman Allah yang hidup. Aplikasi Al-Qur’an di HP tidak akan bisa memberi syafaat di hari kiamat. Yang akan memberi syafaat adalah interaksi kita yang tulus dengan Al-Qur’an: membacanya, menghafalnya, memahaminya, mengamalkannya, dan mendakwahkannya.Menjadi penghafal Al-Qur’an adalah sebuah kehormatan dan pilihan dari Allah (istifa), sebagaimana firman-Nya dalam Surat Fathir ayat 32. ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا ۖ فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِّنَفْسِهِۦ وَمِنْهُم مُّقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌۢ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ_”Kemudian Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar.”_Ini adalah anugerah terbesar yang menandakan bahwa seseorang telah terpilih menjadi keluarga Allah. Proses menghafal memang berat, tetapi yang lebih berat adalah menjaga hafalan itu seumur hidup. Itulah jihad sebenarnya.Bagi yang belum atau hanya mampu menghafal sedikit, jangan berputus asa. Mulailah dengan satu ayat yang diulang-ulang. Sekali lagi, menghafal Al-Qur’an pada hakikatnya adalah zikir, dan zikir tertinggi adalah membaca Al-Qur’an. Lidah yang diciptakan Allah akan bermakna ketika digunakan untuk berzikir, bukan untuk perkataan sia-sia.Setidaknya ada sembilan hikmah agung mengapa kita harus bersemangat bersama Al-Qur’an:Karena Ini Pilihan Allah (Al-Istifa): Menjadi penghafal Quran berarti terpilih menjadi keluarga Allah.Menguatkan Iman (Li Taqwimil Iman): Setiap huruf yang dibaca menguatkan keimanan dan menjadi amal jariyah yang pahalanya terus mengalir.Bentuk Zikir Paling Mulia (Lidzikr): Tidak ada zikir yang lebih utama dari membaca dan mengulang-ulang Kalamullah. إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا الذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُ لَحَافِظُونَ“Sesungguhnya Kami-lah yang menurunkan Al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar memeliharanya” (QS Al-Hijr ayat 9)Mendekatkan Diri kepada Allah (Litaqarrub Ilallah): Interaksi dengan Quran adalah cara terbaik untuk mendekat kepada-Nya. Kata para ulama, مَنْ أَرَادَ أَنْ يُكَلِّمَ اللهَ فَلْيَقْرَأِ الْقُرْآنَ” (Barangsiapa yang ingin berbicara dengan Allah, maka hendaklah dia membaca Al-Qur’an). Ini adalah atsar (perkataan) yang diriwayatkan dari seorang ulama dari kalangan Tabi’in, yaitu Imam Sufyan bin ‘Uyainah.Untuk Ibadah (Lita’abbud): Bacaan dalam salat adalah Al-Qur’an. Semakin banyak hafalan, semakin indah dan khusyuk ibadah kita.Bentuk Syukur (Lisyukr): Mensyukuri nikmat kesehatan, waktu, dan indra dengan digunakan untuk membaca Quran.Mendatangkan Keberkahan (Lil Barakah fil ‘Umr): Setiap hurufnya dilipatgandakan pahalanya, membuat waktu dan hidup menjadi berkah.Meninggikan Derajat di Surga (Litarqi fid Darajat): Setiap ayat yang dihafal dan dijaga akan meninggikan kedudukan di surga. Penghafal Quran yang mahir akan bersama para malaikat. Rasulallah SAW bersabda: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ: اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِي الدُّنْيَا، فَإِنَّ مَنْزِلَتَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَاRasulullāh shallallāhu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan dikatakan kepada ahli Al-Qur’an (pada hari Kiamat): ‘Bacalah dan naiklah serta tartilkanlah (bacaanmu) sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia, karena sesungguhnya kedudukanmu (di Surga) adalah pada akhir ayat yang kamu baca.'” (HR Tirmidzi)Menjadi Manusia Terbaik (Al-Khairiyah): Sebagaimana sabda Nabi, sebaik-baik manusia adalah yang mempelajari dan mengajarkan Al-Qur’an. عَنْ عُثْمَانَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: خَيْرُكُمْ مَنْ تَعَلَّمَ الْقُرْآنَ وَعَلَّمَهُDari Utsman radhiyallahu ‘anhu, dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, beliau bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah orang yang mempelajari Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR Bukhari) Oleh karena itu, jangan pernah meremehkan acara seperti wisuda hafiz Quran. Jangan pernah rendah diri terhadap anak-anak yang menghafal Quran dibandingkan dengan mereka yang sukses secara materi. Rumah Nabi hanya 4 meter persegi, tetapi kemuliaannya abadi hingga akhir zaman. Keberhasilan sejati bukan diukur oleh kemewahan dunia, tetapi oleh kedekatan dengan Allah melalui kitab-Nya. Rasulallah SAW menegaskan dalam haditsnya:مَالِي وَلِلدُّنْيَا مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا“Dunia ini bukanlah milikku. Permisalanku di dunia hanyalah seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya.” (Imam At-Tirmidzi dalam kitab Sunan At-Tirmidzi, Kitab: Kitab Sifatul Qiyāmah war-Raqā’iq wal-Wara’: Hadits Hasan (Bagus). Imam At-Tirmidzi sendiri mengatakan, “Hadits ini hasan gharib.”)Mari jadikan Al-Qur’an sebagai sahabat setia. Lihatlah Al-Qur’an seperti kita melihat gawai kita. Niscaya, kita akan khatam berkali-kali. Untuk para orang tua, banggalah memiliki anak penghafal Quran. Dukunglah mereka, bukan dengan menjadi ‘calo’ yang hanya menonton, tetapi dengan ikut serta memperbanyak interaksi dengan Al-Qur’an.Semoga kita semua dikumpulkan Allah di surga-Nya yang tertinggi, Surga Firdaus, bersama para penghafal Al-Qur’an dan orang-orang yang mencintainya.Wallahu a’lam bish-shawab.Wasalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )