Thursday, July 17

Jangan Terkecoh Dosa

amirfath.com, Artikel (286),Mei 2025 Banyak orang menyangka ketika dimudahkan urusan dunianya, ia telah mencapai sukses. Padahal dalam hidupnya sehari-hari masih lebih menyukai dosa daripada ketaatan kepada Allah SWT.

Ada seorang wanita yang baru saja insaf dan telah mulai memakai jilbab. Tidak lama setelah itu, usahanya bangkrut dan di saat yang sama ikatan rumah tangganya hancur.

Dengan kejadian tersebut, ia mengambil kesimpulan bahwa jilbab yang dikenakan telah membawa bencana bagi usahanya. Akibatnya, ia kembali ke masa lalunya, bebas membuka aurat dan hidup dalam kemasiatan tanpa batas.

Teman-temannya segera memberikan nasihat agar tetap bertahan dalam ketaatan. Bahwa apa yang ia alami hanyalah ujian, bukan karena hijrahnya ke jalan yang benar.

Namun semua nasihat diabaikan. Ia tetap memilih jalan dosa sebab baginya inilah jalan yang telah mengatarkannya kepada kesuksesan dunia.

Surah al-An’am telah memberikan jawaban atas permasalahan ini. Bahwa sukses dunia yang ia capai, sebenarnya bukan sukses hakiki. Tetapi itu hanya DP (down payment) untuk membuatnya semakin mudah melengkapi dosa-dosanya.

Di saat itu –kata Allah– mereka lupa nasihat kebenaran (Falammaa nasuu madzukkiruu bihii) (QS al-An’am: 44). Maksudnya, berbagai peringatan tidak mempan lagi.

Mereka menutup telinga seperti kaumnya Nabi Nuh yang secara demonstratif menelungkupkan baju-baju ke atas kepala lalu menutupkan jari-jarinya ke telinga mereka supaya tidak bisa mendengar apa yang disampaikan Nabi Nuh.

Mereka menutup telinga seperti kaumnya Nabi Nuh yang secara demonstratif menelungkupkan baju-baju ke atas kepala lalu menutupkan jari-jarinya ke telinga mereka supaya tidak bisa mendengar apa yang disampaikan Nabi Nuh (QS Nuh: 7).

Di sini, mereka berbuat dosa apa saja yang disukai nafsunya. Pada saat mereka berada di puncak dosa, Allah SWT datangkan kepada mereka hamburan dunia dengan segala kemewahannya (Fatahnaa ‘alaihim abwaaba kulli syain) (QS al-An’am: 44).

Kata “fathanaa” (Kami membuka) ini bukti bahwa Allah-lah yang membuka kemudahan dunia itu, bukan kehebatan mereka. Hanya saja mereka salah paham dengan beranggapan bahwa limpahan harta itu adalah sukses yang mereka capai.

Padahal tidak demikian, melainkan sebagai istidraaj (Sanastadrijuhum min haitsu laa ya’lamuun) (QS al-Qalam: 44).

Di sini, Allah SWT menyebutkan keterangan “min haitus laa ya’lamuun” (Tanpa mereka mengetahuinya). Maksudnya, mereka tidak tahu bahwa gelimang harta yang dicapai bersamaan dengan dosa-dosa yang mereka perbuat, sebenarnya adalah tahapan untuk mengantarkan mereka ke lubang azab yang pedih.

Karena itu, pada ayat berikutnya, Allah SWT menggambarkan bahwa justru nanti pada saat mereka sedang bersenang-senang dengan dosa, azab yang telah Allah SWT persiapkan seketika akan datang menimpa (Hattaa idzaa farihuu bimaa uutuu akhadznaahum baghtatan faidzaa hum mublisuun) (QS al-An’am: 44).

Kata “farihuu” (bersenang-senang) menunjukkan bahwa datangnya azab itu bukan di saat mereka sulit, melainkan justru ketika mereka sedang bersenang-senang terlena dalam gemerlap dosa.

Kata “bimaa uutuu” (apa yang mereka dapatkan) berupa kekayaan dan kemewahan harta, itu sebenarnya sengaja Allah SWT berikan bukan sebagai karunia kesuksesan melainkan sebagai fasilitas untuk memudahkan jalan dosa yang mereka inginkan.

Kata “akhadznaa” (Kami mengazab) menunjukkan kemurkaan-Nya, karena Allah SWT langsung yang turun tangan untuk mengazab.

Kata “bimaa uutuu” (apa yang mereka dapatkan) berupa kekayaan dan kemewahan harta, itu sebenarnya sengaja Allah SWT berikan bukan sebagai karunia kesuksesan melainkan sebagai fasilitas untuk memudahkan jalan dosa yang mereka inginkan.

Kata “baghtatan” (secara tiba-tiba) menggambarkan bahwa azab yang Allah SWT turunkan tidak kenal kompromi dan tidak di sangka-sangka serta akan menimpa siapa saja yang Dia kehendaki.

Surah al-An’am tema pokoknya adalah hakikat tauhid. Bahwa tidak ada yang pantas dituhankan di muka bumi kecuali Allah SWT.

Diturunkan kepada Rasulullah SAW sekaligus langsung satu surah, untuk menunjukkan keagungannya sebagai satu kesatuan tak terpisahkan.

Berbeda dengan surah-surah lainnya yang tergolong ath thiwal (surah-surah panjang) yang diturunkan secara terpencar antar bagiannya, surah al An’am benar-benar istimewa diturunkan secara lengkap dalam satu malam.

Di saat yang sama di malam itu, sejumlah 70 ribu malaikat turun dengan suaranya yang bergema memekikkan tasbih mengiringi turunnya surah al-An’am.

Memang tujuan pokok surah ini adalah meneriakkan hakikat tauhid dan menolak segala bentuk kemusyrikan, termasuk membantah kaum atheis dan orang-orang yang menolak patuh kepada-Nya.

Biasanya mereka menjadi atheis atau kafir karena terkecoh oleh gemerlap materialisme yang diraih. Mereka merasa cukup dengan gelimang benda-benda itu sebagai bekal hidup tanpa Allah SWT. Padahal, mereka sedang terpedaya dalam kesementaraan.

Surah al-An’am hadir untuk memberikan jawaban telak atas keterkecohan mereka dalam gemerlap materialisme supaya mereka tersadar dan kembali ke jalan tauhid.

sumber : https://republika.id/posts/57734/jangan-terkecoh-dosa

About Post Author