Menyadari Keterlibatan Allah
amirfath.com, Artikel (278),Agustus 2023 Alquran mempunyai cara tersendiri dalam menanamkan tauhid kepada hamba-hamba Allah SWT. Selain menggambarkan nikmat-nikmat-Nya di langit dan bumi, kadang Alquran menggunakan redaksi yang menggambarkan keterlibatan Allah SWT dalam berbagai dimensi kehidupan manusia.
Hal ini tidak lain untuk menunjukkan betapa semua pencapaian manusia dalam membangun kesuksesan di dunia bukan kerena kehebatan dirinya sendiri, tetapi karena pertolongan-Nya.
Cara penuturan seperti ini sangat tampak dalam banyak ayat Alquran. Di antaranya, ketika menceritakan pertolongan-Nya kepada orang-orang yang terlibat dalam perang Badar, Allah menegaskan bahwa apa yang dilemparkan sekalipun hanya berupa debu itu bisa sampai karena pertolongan Allah sehingga tidak satu pun dari mereka kecuali kelilipan.
“Wa maa ramayat idz ramayta wa laakinnallaha ramaa” (Bukanlah kamu yang melemparkan saat kamu melemparkan, tetapi sebenarnya Allah yang melemparkan) (QS al-Anfal: 17).
Contoh lain lagi ketika menceritakan burung-burung yang terbang di angkasa bukan karena kehebatan sayapnya, tetapi tidak lain karena Allah SWT yang memegangnya. “Awalam yarau ilath thairi fauqahum shaafaatin wa yaqbidhn maa yumsukuhunna illa Rahmaan” (QS al-Mulk: 19).
Jadi bertahannya burung-burung di angkasa adalah karena pertolongan-Nya. Jika Allah SWT bekehendak, jatuhlah burung-burung itu ke tanah sebagaimana yang sering terjadi di beberapa tempat.
Berdasarkan hal ini jelas bahwa terbangnya pesawat sebenarnya adalah pertolongan-Nya, sebab dalam banyak kejadian bisa jadi pesawat jatuh secara tiba-tiba. Itulah mengapa kita diajarkan agar sebelum take off membaca doa terlebih dahulu memohon keselamatan dalam setiap perjalanan, termasuk perjalanan mengendarai pesawat terbang.
Surah al-Waqiah termasuk dalam juz yang ke-27. Penekanan surah-surah di dalamnya mengenai penanaman iman agar lebih kokoh dan tidak mudah goyah oleh godaan apa pun.
Surah al-Waqiah termasuk dalam juz yang ke-27. Penekanan surah-surah di dalamnya mengenai penanaman iman agar lebih kokoh dan tidak mudah goyah oleh godaan apa pun.
Secara sistematis surah ini memaparkan betapa sangat menentukan keterlibatan Allah SWT dalam hidup manusia dengan gaya penuturan yang sangat luar biasa.
Dimulai pada ayat 57, di mana Allah SWT menegaskan bahwa Dialah yang menciptakan manusia, apakah kamu masih kurang yakin dengan kuasaan-Nya. “Nahnu khalaqnaakum falaulaa tushaddiquun”.
Lalu pada ayat 58-59 menyebutkan tentang air mani yang dengannya manusia diciptakan. Di sini Allah SWT bertanya apakah kamu yang melakukan semua proses itu sampai menjadi manusia atau Aku? “Aantum takhluquunahu am nahnul khaaliquun”.
Selanjutnya pada ayat 62-64, Allah SWT menyebutkan masalah tanaman, siapakah yang menumbuhkannya, apakah kamu atau Aku? “Aantum tazra’uunahuu am nahnuz zaari’uun”.
Menariknya, setiap penuturan di atas, Allah SWT menggunakan kata pertanyaan (istifham): “afara’atum” (tidakkah kamu melihat?)
Hal ini tidak lain untuk membaut manusia benar-benar menyaksikan dengan akalnya. Bukan sekadar melewati semua kejadian itu tanpa makna sama sekali.
Ketika Allah SWT menyinggung tentang air pada ayat 68-69, Allah SWT menanyakan, “Tidakkah kamu melihat air yang kamu minum, apakah kamu yang menurunkan dari langit atau Aku?” (Afaraaitumul maalladzii tasyrabuun, aantum anzaltumuuhu minal muzni am nahnul munziluun).
Lalu menyebutkan tentang api pada ayat 71-72, siapakah yang membuatnya, kamu atau Aku (Afaraitumun naarallatii tuuruun, aantum ansya’tum syajarataha am nahnul munsyiuun).
Penggabaran di atas jika dipikirkan secara mendalam sangatlah menyentuh hati dan membuat manusia harus mengakui dengan penuh keyakinan bahwa tidak ada yang bisa melakukan semua itu kecuali Allah SWT.
Karenanya, manusia harus tahu diri di muka bumi lalu mensucikan-Nya sebagaimana ditegaskan pada ayat berikutnya 74: “Fasabbih bismirabbikal azhiim” (Bertasbihlah dengan tama Tuhamu yang agung).
Rasulullah SAW menganjurkan agar ucapan tasbih ini dilakukan setiap pagi dan sore dengan mengucapkan, “Subhanallah wa bihamdihi” sebanyak 100 kali.
Siapa yang melakukan bacaan tasbih ini, kata Nabi SAW, akan diampuni dosa-dosanya (“Man qaalaha hiina yushbihu wa hiina yumsii ghufirat khathaayaahu”).
sumber : https://www.republika.id/posts/43875/menyadari-keterlibatan-allah