Saturday, August 2

Ibadah Haji dan Jihad

amirfath.com, Artikel (265),Juni 2023 Di antara tema pokok surah al-Hajj adalah tentang jihad dalam arti perang. Allah SWT berfirman, “Udzina lilladziina yuqaataluuna biannahum zhulimuu” (Telah diizinkan berperang bagi orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dizalimii) (QS al-Hajj [22]: 39).

Ini bukti nyata bahwa selain tauhid, tujuan ibadah haji adalah untuk mendidik umat ini agar menjadi umat yang kuat. Tidak saja secara fisik, tetapi juga secara kolektif sebagai umat yang bersatu secara lokal, regional, dan internasional.

Alasannya karena dalam ibadah haji ada perkumpulan besar umat Islam dari berbagai belahan bumi di Tanah Suci Makkah dan puncaknya di Padang Arafah.

Seakan Allah SWT memberikan isyarat bahwa ibadah haji bukan sekadar ritual, tetapi lebih dari itu adalah konsolidasi umat agar menjadi umat yang kuat, bermartabat, dan berwibawa, sehingga tidak ada umat lain yang menjajah, merendahkan, dan menghancurkannya.

Ini bukti nyata bahwa selain tauhid, tujuan ibadah haji adalah untuk mendidik umat ini agar menjadi umat yang kuat. Tidak saja secara fisik, tetapi juga secara kolektif sebagai umat yang bersatu secara lokal, regional, dan internasional.

Allah SWT tidak ingin hamba-hamba-Nya menjadi umat yang lemah dan tidak berdaya. Benar, haji adalah ibadah yang mengandalkan kekuatan fisik. Dari sejak permulaannya, ibadah haji merupakan perpindahan dari tempat ke tempat.

Pindah dari pemondokan menuju miqat, sebagai starting point untuk mengambil niat “labbaikallahumma umratan” (niat untuk umrah), dan “labbaikallahumma hajjan” (niat untuk haji).

Setelah itu pindah lagi dari miqat menuju Ka’bah (Baitullah) untuk bertawaf (mengitari Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran) lalu melaksanakan shalat dua rakat tawaf. Lalu pindah lagi ke tempat sa’i, yaitu berjalan dari bukit Shafa ke bukit Marwah sebanyak tujuk kali. Ujungnya berhenti di Marwah lalu tahallaul (memotong rambut).

Perpindahan berikutnya dilakukan pada tanggal delapan Dzulhijjah, ketika para jamaah haji bergerak menuju Mina untuk melakukan Tarwiyah. Kata “tarwiyah” dari rawwa-yurawwi (mengambil air).

Ceritanya bahwa di zaman Nabi, jamaah haji mengambil air di Mina sebagai bekal untuk dibawa ke Arafah karena di Arafah tidak ada air. Selama tarwiyah di Mina, jamaah selain memperbanyak zikir juga melaksanakan shalat fardhu pada waktunya dengan cara diqashar.

Besok paginya pada tanggal sembilan Dzulhijjah, jamaah bergerak menuju Arafah untuk melaksanakan wukuf dari sejak tergelincir sampai terbenam matahari. Wukuf adalah puncak ibadah haji. Nabi SAW menegaskan bahwa inti ibadah haji adalah wukuf di Arafah (al hajju Arafah).

Diberi nama Arafah, dari kata arafa-ya’rifu (mengetahui), maksudnya bahwa para hamba Allah SWT pada saat wukuf mereka benar-benar mengetahui dirinya yang lemah dan sangat mebutuhkan pertolongan-Nya.

Karena itu, tidak ada pilihan kecuali harus patuh sami’na wa atha’na kepada Allah SWT dan rasul-Nya. Mengapa harus di padang Arafah, karena di sana ada pembagian hadiah yaitu pembebasan dari api neraka.

Nabi SAW menegaskan bahwa tidak ada hari yang melebihi hari Arafah di mana Allah SWT membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka (maa min yaumin aktsaru min ayyu’tiqal llaahu ‘abdan minan naari min yaumi Arafa).

Nabi SAW menegaskan bahwa tidak ada hari yang melebihi hari Arafah di mana Allah SWT membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka

Dari padang Arafah, para hamba bergerak menuju Muzdalifah. Di sana mereka mabit sampai Subuh. Lalu setelah shalat Subuh, mereka bergerak ke Mina untuk melempar jumrah Aqabah.

Setelah itu menetap di Mina dan melakukan mabit di sana selama tiga hari pada tanggal 11-13. Bagi yang nafar awal mereka keluar dari Mina tanggal 12, sementara bagi yang nafar tasani mereka keluar dari Mina pada tanggal 13.

Berdasarkan di atas, jelas bahwa ibadah haji intinya membuktikan penghambaan diri hanya kepada Allah SWT, dan sekaligus membangun kekuatan umat secara fisik maupun secara kolektif.

Karena itu, saatnya umat Islam pindah dari cara melakukan ibadah haji semata ritual kepada pemaknaan yang lebih dalam lagi, yaitu membangun persatuan umat Islam dunia agar menjadi umat yang tidak saja berwibawa dan disegani, tetapi juga membawa rahmat bagi alam semesta (Wamaa arsalnaaka illa rahmatal lil aalamiin) (QS al-Anbiya’ [21]: 107).

sumber : https://www.republika.id/posts/42411/ibadah-haji-dan-jihad

About Post Author