Sunday, August 24

Menyiapkan Kematian

amirfath.com, Artikel (257),Mei 2023 Surah Abasa meringkas jalan hidup manusia yang selama ini belum mendapatkan jawaban melalui akal manusia. Para filsuf bertahun-tahun merenungi hakikat hidup ini.

Akan tetapi ujungnya, mereka tidak bisa memberikan kepastian untuk apa kita hidup? Mau ke mana setelah kehidupan ini berakhir? Apakah dengan kematian itu berarti hidup sudah selesai?

Betapa enaknya bagi para penjahat jika hidup ini hanya berakhir dengan kematian. Lalu bagaimana nasib orang-orang yang baik selama di dunia, jika kematian menjadi terminal terakhir bagi mereka? Kapan dan di mana mereka harus memetik buah kebaikan yang telah diperbuat?

Dalam surah Abasa, Allah SWT menggambarkan dengan penuh kepastian bahwa penciptaan manusia ada permulaan dan ada akhir.

Dalam surah Abasa, Allah SWT menggambarkan dengan penuh kepastian bahwa penciptaan manusia ada permulaan dan ada akhir. Dimulai air mani yang hina (nuthfah), lalu Allah SWT mendesain prosesnya dengan sangat rapi sehingga menjadi manusia yang terhormat (min nuthfatin khalaqahuu faqaddarah) (QS Abasa [80]: 19).

Kata “qaddarahuu” diartikan menyempunakan penciptaannya dengan konstruksi yang sangat baik (fii ahsani taqwiim). Baik konstruksi fisik yang tegak berdiri sehingga menjadi fleksibel maupun konstruksi psikisnya sehingga manusia menjadi makhluk yang sangat cerdas dan inovatif.

Dalam konteks ini, manusia mendapatkan kedudukan yang tinggi di sisi Allah SWT. Para malaikat saja diperintahkan untuk melakukan sujud penghormatan kepadanya.

Setelah lahir ke dunia sebagai manusia, Allah SWT menjaganya jangan sampai potensi kemanusiaan tersebut yang demikian besar menjadi sia-sia atau bahkan sebaliknya turun derajat menjadi binatang.

Karena itu, Allah SWT tidak saja membekali akal yang cerdas, tetapi juga membekali wahyu sebagai panduan melalui para rasul yang Allah utus sebagai pembimbing mereka.

Jadi secara fisik, Allah SWT sediakan kebutuhannya berupa fasilitas alam semesta yang sangat rapi dan sistematis. Lalu secara ruhani, Allah SWT juga menyediakan panduan hidup berupa tuntunan wahyu yang dibawa oleh para nabi.

Inilah makna ayat (tsummas sabiila yassarah) (QS Abasa [80]: 20). Maksudnya bahwa Allah SWT memudahkan bagi manusia jalan hidupnya di dunia, dari sejak lahir sampai kembali kepada-Nya.

Namun perlu diketahui bahwa hidup di dunia ini bukan selamanya. Dunia bukan tujuan yang sebenarnya. Karena itu, salah cara pandang sebagian orang yang menganggap bahwa dunia ini adalah segalanya.

Dalam Alquran tidak pernah Allah SWT memuji dunia sebagai jalan sukses. Bahkan, gambaran Alquran tentang dunia hanyalah sebatas senda gurau (laibuw walahwun) (QS al-Anam [6]: 32) atau kalaupun ada kenikmatan di dalamnya itu tidak lebih dari kenikmatan yang menipu (maata’ul ghuruur) (QS Ali Imran [3]: 185).

Namun, penegasan Alquran tersebut sering kali diabaikan. Akibatnya, tidak sedikit manusia yang masih terus terjerumus dalam tipu dayanya.

Di antara paling mencolok adalah masih banyak yang berpandangan bahwa orang yang paling kaya di dunia adalah yang paling sukses. Padahal jelas bahwa segala pencapaian apapun di dunia hanyalah proses.

Mengapa dikatakan proses? Sebab, kaya dan misikin akan terus mengantarkan manusia secara bergiliran. Boleh jadi seseorang kini kaya lalu setelah itu, ia tiba-tiba jatuh miskin.

Atau lebih jauh, boleh jadi seseorang sedang berada di puncak kekayaannya, tiba-tiba kematian datang menjemputnya. Ini bukti bahwa kaya miskin bukan bukti sukses. Sebab, itu semua tidak berpengaruh apa-apa terhadap kehidupannya.

Seandainya berdampak langsung, misalkan, orang yang kaya tidak akan pernah mati, itu baru bisa kita katakan sukses. Ternyata tidak demikian, kaya miskin sama saja menuju kematian.

Berdasarkan ini kita mengerti ayat berikutnya dari surah Abasa di atas, yaitu “Tsumma amaatahuu fa’aqbarahu” (Kemudian Allah mematikannya dan menguburkannya) (QS Abasa [80]: 21).

Inilah tujuan hakiki dari diciptakannya manusia. Bahwa dunia hanyalah poses menuju akhirat.

Pertanyaan berikutnya adalah apa yang akan manusia jalani setelah mati? Jawabannya langsung pada ayat setelah itu: “Tsumma idzaa syaa’a ansyarahu” (Kemudian jika Allah berkehendak maka Allah akan membangkitkannya) (QS Abasa [80]: 22).

Maksudnya, membangkitkannya kembali setelah mati untuk menjalani kehidupan akhirat. Inilah tujuan hakiki dari diciptakannya manusia. Bahwa dunia hanyalah poses menuju akhirat.

Ketika di akhirat kelak, seorang hamba masuk surga itulah yang namanya sukses. Sebaliknya jika tidak demikian maka otomatis gagal, sekalipun secara keduniaan pernah mempunyai segalanya (Faman zuhziha ‘aninnaari wa udkhilal jannata faqad faaza) (QS Ali Imran [3]: 185).

Jadi hakikat hidup sebenarnya tidak ada lain kecuali menyiapkan kematian.

sumber : https://www.republika.id/posts/40564/menyiapkan-kematian

About Post Author