Jangan Musuhi Ulama
amirfath.com, Artikel (256),Mei 2023 “Ulama” dalam bahasa Arab adalah jamak (bentuk jamak) dari kata ” ‘aalim” (orang yang berilmu). Surah Fathir memberikan definisi bahwa ulama adalah orang-orang yang memiliki rasa takut kepada Allah SWT ( Innamaa yakhsyallaha min ‘ibaadilil ulamaa’u ) (QS Fathir [35]: 28).
Secara tematik surah Fathir membahas bahwa jalan kemuliaan ( izzah ) adalah dengan berserah diri kepada Allah SWT, mengikuti ketentuan-Nya, dan bersungguh-sungguh patuh kepada-Nya.
Keberhasilan para nabi yang menceritakan dalam berbagai surah dalam Alquran adalah bukti bahwa hanya dengan patuh kepada Allah SWT kemenangan akan tercapai. Sebab, memang hanya di tangan-Nya lah segala kemuliaan ( Man kaana yuriidul ‘izzata fa lillaahil izzatu jamii’aa ) (QS Fathir [35]: 10).
Maka kemuliaan apa pun yang diburu manusia dengan cara-cara berbuat zalim adalah cara yang tidak saja busuk, tetapi kelak akan berakibat fatal terhadap kehidupan mereka sendiri, baik secara pribadi maupun mengenang.
Dalam surah Fathir digambarkan bahwa “Dialah Allah pencipta langit dan bumi ( Faathiris samaawaati wal ardh ) (QS Fathir [35]: 1). Maka, Dialah pemilik mutlak alam semesta.
Dalam kondisi ini seharusnya manusia tahu diri bahwa ia tidak mempunyai daya apa-apa tanpa pertolongan-Nya ( Yaa ayyuhannaasu antumul fuqaraa’u ilallaahi ) (QS Fathir [35]: 15).
Panggilan yaa ayuuhannaasu (wahai manusia) adalah ajakan agar semua manusia di muka bumi menyadari kelemahan dirinya. Kata ” annaas” (manusia) bersifat umum, apa pun kedudukan mereka, miskin atau kaya, pejabat atau rakyat jelata, semua adalah makhluk yang sangat membutuhkan Allah SWT sebagai pencipta.
Kata “ fuqaraa” (fakir) maksudnya tidak mempunyia apa-apa, memberikan sentuhan agar kesadaran ini benar-benar terhunjam dalam diri setiap insan sehingga muncul ketergatungan kepada Allah SWT. Memang seharusnya kewajiabn makhluk adalah bergantung kepada-Nya.
Adalah kesombongan jika ada makhluk yang merasa mandiri tanpa merasa butuh kepada Allah SWT. Karena itu Allah SWT tidak suka kepada orang yang sombong. Sebab dari sikap tersebut akan lahir rasa jumawa yang darinya akan muncul sikap menandingi Allah SWT dengan cara mengaku tuhan seperti yang dilakukan oleh Firaun.
Itulah mengapa setiap muncul bibit kesombongan dalam diri makhluk, seketika Allah SWT meredamnya. Dalam hadis Qudsi Allah SWT berfirman, “Kesombongan itu adalah selendangku, siapa yang menandingi Aku maka akan aku masukkan neraka ( Alkibriyaau ridaai faman naaza’anii qadzftuhuu fin naar )” (HR Muslim).
Dalam hadis, Nabi SAW bersabada, “Tidak akan masuk surga orang yang hatinya ada kesombongan sekalipun hanya sebesar atom ( Laa yadkhulul jannata man kaana fii qalbihii mitsqaala dzarratin min kibriin )” (HR Muslim).
Untuk menguatkan bahwa segala sesuatu di tangan Allah SWT, surah Fathir menggambarkan bahwa kehidupan di bumi bukan kerena kehebatan manusia, tetapi karena pertolongan-Nya dengan cara menurunkan air hujan yang darinya tumbuh pepohonan yang memberikan buah beraneka warna ( Alam tara annallaaha anzala minassamaai maan faakhrajnaa bihii tsmaraatin mukhtalfan alwaanuhaa ) (QS Fathir [35]: 27).
Demikian juga hewan-hewan yang mereka makan dagingnya dengan aneka warna ( Wad dawaabi wal an’aami mukhtalfum alwaanuhuu ) (QS Fathir [35]: 28). Itu semua adalah Allah SWT yang menyediakannya.
Lebih dari itu, Allah-lah yang menjaga langit jangan sampai runtuh dan bumi jangan sampai gempa ( Inallaaha yumsikus samaawaati wal ardh antazuulla ) (QS Fathir [35]: 41). Itu tidak lain supaya manusia tahu diri sehingga tidak berbuat zalim sesuka nafsunya.
Untuk tujuan agung tersebut, Allah SWT utus para nabi sebagai pembimbing manusia agar kehidupan di muka bumi teratur. Setelah pintu kenabian ditutup, Allah SWT membuka pintu bagi para ulama untuk melanjutkan tugas kenabian ( Al ulamaau waratsatul anbiyaau ) (HR Abu Daud).
Dalam rangka ini ayat tentang ulama di atas disebutkan dalam surah ini. Semua itu supaya manusia berjalan sesuai dengan apa yang Allah SWT inginkan. Maka siapa pun yang memusuhi para ulama otomatis memusihi Allah SWT
sumber : https://www.republika.id/posts/40352/jangan-musuhi-ulama