Fitrah Manusia dan Syariat Allah
amirfath.com, Artikel (252), April 2023 Dalam surah al-Mulk ditegaskan bahwa Allah SWT mengetahui dengan pasti bagaimana tabiat manusia yang diciptakan-Nya (Alaa ya’lamu man khalaqa wahul lathiful khabiir) (QS al-Mulk [67]: 14).
Kata “ya’lamu man khalaq” menunjukkan keluasan ilmu Allah SWT atas semua ciptaan-Nya. Redaksi ini menggambarkan bahwa Allah SWT benar-benar mengetahui hakikat manusia. Tidak saja dari sisi jasmani, tetapi lebih dari itu dari sisi ruhani.
Untuk itu, Allah SWT turunkan syariat yang sesuai dengan fitrah tersebut. Bila ada ajaran yang bertentangan dengan fitrah, bisa dipastikan itu pemahamannya yang salah, bukan teks syariat-Nya. Sebab, tidak mungkin ada syariat yang membuat manusia tersiksa.
Bila ada ajaran yang bertentangan dengan fitrah, bisa dipastikan itu pemahamannya yang salah, bukan teks syariat-Nya. Sebab, tidak mungkin ada syariat yang membuat manusia tersiksa.
Pernah tiga orang sahabat di zaman Nabi SAW bersepakat untuk melakukan ibadah yang bertentangan dengan fitrah.
Pertama, berkata aku tidak akan menikah karena tanggungan keluarga akan mengganggu ibadah. Kedua, berkata aku tidak akan tidur malam, supaya lebih banyak malakukan shalat malam. Ketiga, berkata aku akan perbanyak berpuasa tanpa berbuka.
Melihat kejadian ini, Nabi SAW langsung marah menegur mereka. Nabi SAW menunjukkan bahwa dirinya adalah contoh terbaik dalam bertakwa kepada Allah SWT, itu pun Nabi SAW masih memenuhi kebutuhan fitrahnya, yaitu menikah, berbuka puasa, dan tidur di malam hari (HR Bukhari).
Boleh dibandingkan antara beban yang diberikan perusahaan dengan tugas yang Allah SWT wajibkan kepada manusia.
Boleh dibandingkan antara beban yang diberikan perusahaan dengan tugas yang Allah SWT wajibkan kepada manusia. Perusahaan mewajibkan ngantor setiap hari dari jam delapan pagi sampai jam lima sore.
Dalam kondisi ini, seorang profesional benar-benar berpisah dengan keluarganya dan fokus hanya mengerjakan tugas kantor. Belum lagi perjalanan antara rumah ke kantor pulang dan pergi, macet dan jauhnya jarak tempuh bisa memakan waktu dua sampai tiga jam. Padahal, gaji yang harus diterima seringkali belum bisa memenuhi kebutuhan pokoknya.
Syariat Allah SWT tidak seberat itu. Kewajiban pokok harian hanya shalat lima kali dalam waktu yang berjauhan dengan durasi yang tidak sampai sepuluh menit. Baik pekerjaan harian maupun keluarga tidak ada yang terganggu.
Selain yang fardhu adalah amalan sukarela (tathawwu’an). Seperti shalat qabliyah, ba’diyah, Dhuha, dan Tahajjud. Puasa Senin dan Kamis, hanya dua kali sepekan. Puasa ayyaamul bidh (tanggal 13, 14, dan 15) hanya tiga hari dalam sebulan.
Puasa Ramadhan hanya setahun sekali dalam sebulan. Begitu juga ibadah haji hanya beberapa hari saja, itu pun sekali seumur hidup. Jadi tidak ada kewajiban harian yang bertentangan dengan fitrah manusia.
Itu pun jika terjadi kesalahan karena tiga kondisi: tidak sengaja, lupa, atau terpaksa dibebaskan dari hukuman. Sebab, itu di luar kemampuan fitrah manusia.
Itu pun jika terjadi kesalahan karena tiga kondisi: tidak sengaja, lupa, atau terpaksa dibebaskan dari hukuman. Sebab, itu di luar kemampuan fitrah manusia. Jadi tidak salah orang yang tidak sengaja melempar benda tiba-tiba menimpa kepala orang lain.
Begitu juga orang yang lupa tidak shalat Zhuhur, misalnya, dan baru teringat pada waktu shalat Isya, maka ia boleh melakukannya ketika ingat. Semua ulama sepakat bahwa tidak batal puasa orang yang lupa makan dan minum. Pun tidak berdosa seorang wanita yang dipaksa berzina sebab itu di luar kemampuan fitrahnya.
Seorang sahabat Nabi SAW yang bernama Ammar bin Yasir pernah dipaksa keluar dari Islam dengan siksaan yang sangat pedih. Ammar terpaksa mengucapkan pernyataan yang secara lahir ia murtad. Tetapi untuk ini Allah SWT turunkan ayat yang membenarkan Ammar bahwa itu dilakukan karena terpaksa.
Ayatnya berbunyi “Illaa man ukriha wa qalbuhuu muthmainnun bil iimaan” (Kecuali orang yang dipaksa (mengcapkan kekufuran) sedangkan hatinya tetap tenang dengan keimanannya) (QS an-Nahl [16]: 106).
Masya Allah betapa indahnya aturan Allah SWT. Tetapi sayang, masih banyak manusia yang tidak mau ikut syariat-Nya.
sumber : https://www.republika.id/posts/39805/fitrah-manusia-dan-syariat-allah