Berbisnis dengan Allah
amirfath.com, Artikel (253), April 2023 Dalam surah al-Baqarah [2]: 184, ada ayat, “Ayyaamam ma’dudaat” (Hanya beberapa hari saja), setelah menjelaskan tentang wajibnya puasa (Kutiba ‘alaikumush shiyaam).
Ini mengingatkan saya sebuah program di mana seseorang memberikan uang dengan jumlah tertentu kepada seorang pemulung. Lalu orang itu menyuruh pemulung tersebut untuk membelanjakannya ke supermarket dalam jangka waktu beberapa menit saja.
Di sini kita menemukan pemulung itu langsung bergegas, menuju supermarket yang ditentukan dengan fokus, supaya bisa membelanjakannya dengan baik dan optimal. Begitu ia berhasil membelajakannya, maka ia sangat puas dan senang. Sebaliknya, ketika ia gagal dan hanya bisa membelanjakan hanya sebagiannya saja, maka ia menyesal.
Mirip dengan program tersebut ketika kita memasuki Ramadhan dengan waktu yang sangat terbatas, satu bulan saja atau lebih khusus lagi hanya sepuluh hari terakhir Ramadhan (Ayyamam ma’duudaat).
Bisakah kita berbelanja amal saleh secara maksimal? Di dalamnya ada puasa, iktikaf, membaca Alquran, shalat malam, ibadah malam al-Qadar, bersedekah, perbanyak zikir, dan sebagainya.
Dalam kondisi ini ada dua model orang Islam, satunya lalai dalam kesia-siaan, sehingga seluruh amal yang telah disediakan dibaikan begitu saja. Orang seperti pasti kelak akan menyesal mengapa tidak bersungguh-sungguh memperbanyak amal, padahal tidak semua orang bisa mendapatkan Ramadhan?
Lebih dari itu, lipat ganda pahala selama Ramadhan sangat besar, tidak bisa dibandingkan dengan pahala amal selama seumur hidup.
Orang Islam yang satu lagi sadar bahwa waktu yang sangat mahal ini sangat terbatas (Ayyaamam ma’duudaat) atau dengan istilah lain dikenal dengan limited edition. Maka begitu masuk Ramadhan, apalagi sepuluh terakhirnya, ia melakukan apa yang Nabi SAW kerjakan.
Digambarkan oleh Ali bin Abi Thalib bahwa Nabi SAW ketika masuk sepuluh hari terakhir Ramadhan langsung memingkis lengan baju (syaddal mi’zar), membangunkan keluarganya (wa ayqzha nisaa ahu) (HR Ahmad).
Kata syaddal mi’zar menggambarkan kesungguhan Nabi SAW untuk benar-benar maksimal mengisi sepuluh hari terakhir Ramadhan dengan amal saleh sebanyak-banyaknya. Benar, apa pun kesibukan Nabi SAW, masih mengutamkan iktikaf.
Apa rahasianya? Sebab dengan iktikaf seorang hamba akan benar-benar berbisnis dengan Allah SWT. Semua waktu kesehariannya hanyalah untuk Allah SWT. Selama di masjid, sang hamba hanya perbanyak shalat, zikir, dan membaca Alquran.
Di sini sang hamba benar-benar menyadari bahwa hanya Allah-lah yang Mahabesar (Allahu akbar), selain-Nya hanya makhluk kecil dan tidak berdaya. Ini benar, sebab memang tidak ada yang pantas dibesar-besarkan dari urusan dunia.
Tugas seorang hamba yang paling pokok adalah memang hanya bersama Allah SWT. Ini akan sangat terasa ketika sang hamba beriktikaf. Itulah mengapa Nabi SAW tidak pernah absen dari iktikaf sekalipun dalam kondisi apapun.
Bisa dibayangkan bagaimana menyesalnya orang-orang yang mengabaikan ibadah iktikaf ini kelak di hari kiamat. Padahal, Allah SWT sudah memberi kesempatan kepadanya.
Pernah salah seorang pengusaha, saya ajak beriktikaf di Masjidil Haram Makkah untuk sepuluh hari terakhir Ramadhan. Awalnya ia kaget, dan berkata, “Nanti usahaku bagaimana Pak Ustadz? Berapa kerugian yang harus aku tanggung? Bagaimana aku bisa membayar gaji karyawanku?”
Saya balik bertanya, “Siapa yang lebih hebat, Anda atau Allah?” Ia menjawab, “Allah.”
Saya katakan, “Kalau begitu, Anda katakan kepada Allah: ‘Ya Allah, aku titipkan usahaku ini kepada-Mu, aku mau beriktikaf’.”
Benar, pengusaha ini langsung berangkat iktikaf bersama saya di Masjidil Haram. Setelah pulang ia laporan kepada saya, “Pak Ustadz, luar biasa, keuntungan yang saya dapatkan jauh lebih dahsyat daripada apa yang saya lakukan sendiri tanpa iktikaf.”
Inilah bukti bahwa dalam berbisnis dengan Allah SWT harus ada keyakinan yang kuat dan usaha yang maksimal dalam beramal.
sumber : https://www.republika.id/posts/39807/berbisnis-dengan-allah