Memahami Istilah Kanan dan Kiri
amirfath.com, Artikel (195), Desember 2022
Alquran sering menggunakan istilah kanan alyamiin dan kiri asysyimaal. Dalam surah al-Haqqah, kedua istilah tersebut juga digunakan untuk menandai siapa yang ahli surga dan siapa yang ahli neraka.
Bahwa ahli surga kelak akan menerima bukunya dengan tangan kanannya, Fa ammaa man uutiya kitaabahuu biyamiinih fa yaquulu haa umuqrauu kitaabiyah (QS 69: 19). Di sini digambarkan bahwa mereka sangat bahagia. Di hari itu mereka berkeliling menunjukkan buku amal yang diterimanya dengan tangan kanannya, seraya berkata, Haa umuqrauu kitaabiyah(Ini dia buku amalku, silakan baca)”.
Suatu pemandangan yang sangat mengharukan.Ibarat para juara yang berkeliling di atas panggung menunjukkan piala yang mereka dapatkan. Namun, para ahli surga yang menerima buku amalannya dengan tangan kanannya jauh lebih bahagia dibandingkan mereka. Sungguh tidak bisa dibandingkan, para juara itu hanya mendapatkan kesenangan sementara di dunia setelah itu berakhir, tetapi para ahli surga mendapatkan kebahagiaan abadi yang tak terhingga. Dengarkan mereka menceritakan pengalamannya selama di dunia, Inii zhanantu annii mulaaqin hisabiyah(Dulu selama di dunia, aku yakin bahwa akan ada hisab)” (QS 69: 20).
Keyakinan inilah yang membuat mereka tidak mudah terlena dengan gemerlap dunia. Mereka berhati-hati dari dosa dan bersungguh-sungguh menaati-Nya.Di surga mereka mendapatkan fasilitas yang sangat memuaskan, Fahuwa fii ii’syatir raadhiyah.Tempat mereka sangat tinggi, Fii jannatin `aaliyah.
Mereka mendapatkan semua yang mereka inginkan dengan mudah quthuufuhaa daaniyah. Mereka disambut dengan hangat dan dipersilakan untuk makan apa saja, Kuluu wasyrabuu haniian.
Kata haniian menunjukkan makna bersenang- senang. Seakan dikatakan, silakan bersenang- senanglahlah sesukamu tanpa batas. Tentu semua ini adalah karena amal saleh di masa lalu, Bimaa aslaftaum fil ayyamil kahaaliyah (QS 69: 21-24).
Di tempat lain ada pemandangan yang sangat menyedihkan, yaitu para pendurhaka yang menerima buku amalnya dengan tangan kirinya, Fa amma man uutiya kaitabahuu bisyimaalihi. Mareka berkata dengan penuh penyesalan Yaa laitanii lam uuta kitaabiyah(Alangkah enaknya jika buku dosa ini tidak aku terima)”. Namun, ini hanyalah angan-angan belaka. Mereka berada dalam penyesalan yang tidak ada gunanya.
Di sini mereka menceritakan pengalaman buruknya selama di dunia: Wa lama adri maa hisabiyah (QS 69: 25-26). Maksudnya, dulu di dunia mereka ti dak pernah pernah yakin akan dihisab.Akibatnya, me reka selama di dunia bersenang- senang dengan dosa.
Penyesalan tersebut makin kuat setelah mereka mengatakan, Yaa laitaha kaanatil qadhiyah(Alangkah enaknya kalau aku mati saja tidak dibangkitkan lagi)”. Lalu mereka tersadar bahwa selama di dunia pernah mempunyai harta dan kedudukan. Mereka bertanya mana hartaku, Maa aghna `anni maaliyah, mana jabatanku, Halaka `anni sulthaniyah. Seketika mereka kemudian diseret ke neraka dalam keadaan terbelenggu, Khuzhuhu fahulluhu (QS 69: 27-30).