Memuliakan Keluarga Allah
amirfath.com, Artikel (140), Mei 2022
Semua orang mengejar kemuliaan. Ada yang mengejarnya melalui jalan harta. Sebagian melalui jabatan. Sebagian lagi melalui jalan ilmu. Ada juga yang melalui kekuasaan. Allah menegaskan bahwa jalan kemuliaan adalah ketakwaan. Semakin seorang hamba bertakwa semakin tinggi derajatnya: Inna akramakun indallahi atqaakum (QS al-Hujurat:13). Mengapa takwa?
Sebab, dengan takwa, seorang hamba jauh dari setan yang dilaknat oleh Allah: Audzu billahi minasy syaitahanir rajiim. Pada saat yang sama, ia benar- benar dekat kepada Allah yang Mahamulia:
Tabaarakalladzii biyadihil mulk (Mahatinggi Allah di tangan-Nya segala kerajaan) (QS al-Mulk:1).
Allah telah menyebut diri-Nya Mahatinggi: Sabbihismarabbikal a’laa (sucikanlah Allah yang Mahatinggi) (QS al-A’la: 1).Artinya, hamba yang mendekat kepada-Nya otomatis menjadi mulia. Istilahnya disebut abdun, contohnya Rasulullah SAW.Subhanalladzii asraa bi’abdihii, kata bi abdihii
maksudnya Rasulullah SAW sekaligus sebagai persaksian bahwa Nabi adalah hamba-Nya. Allah Mahatahu siapa yang benar- benar hamba-Nya. Maka perjuangan kita adalah bagaimana supaya diakui sebagai hamba-Nya.
Cara terbaik menggapai kemuliaan tersebut adalah dengan menjadikan diri kita ahlul Quran. Nabi Muhammad SAW menegaskan bahwa ahlul Quran adalah keluarga Allah yang paling istimewa: Ahlul Quraan ahlullahi wa khaashs shatihi (HR Ibn Majah).
Allah sangat bangga dengan hamba-Nya yang senantiasa berinteraksi dengan wahyu. Sebab, wahyu adalah cahaya, dengannya tampak mana yang hak dan mana yang batil. Alquran menyebut dirinya al- Furqaan (pembeda antara yang benar dan yang salah) (QS al-Furqan: 1). Maka semua yang berhubungan dengan wahyu pasti Allah muliakan. Allah bersumpah dengan buah tin dan zaitun (QS at-Tin: 1). Maksudnya, Palestina tempat tumbuhnya pohon tersebut. Itu karena di dalamnya Allah turunkan wahyu.
Begitu juga Allah bersumpah dengan Gunung Sinai Wa thuuri siiniin (QS at-Tin: 2) karena di sana Allah turunkan wahyu kepada Nabi Musa berupa sepuluh perintah. Allah bersumpah dengan Kota Makkah: Wa haadzal baladil amiin (QS at-Tin: 3) karena di dalamnya Allah turunkan Alquran. Bila tempat saja menjadi mulia karena ada hubungannya dengan wahyu, apalagi manusia.
Jadi, ketika Allah menegaskan bahwa manusia sekalipun dibekali akal dan dimuliakan Wa laqad karramna abanii aadam (al-Isra:70), tetapi tidak mustahil ia akan jatuh ke tempat yang paling hina:
Tsumma radadnaa huu asfala saafiliin. (QS at-Tin: 5).Maksudnya jika ia tidak mengikuti wahyu.
Maka untuk menjadi mulia, segeralah bergabung menjadi ahlul Quran. Caranya, perbanyak membacanya, berusaha memahami kandungannya, mengamalkan pesan-pesannya, dan menambah ha fal an atasnya, lebih dari itu ajak orang supaya men dukung para penghafal Alquran membantu mereka, menjadi pejuang untuk menyelamatkan hidup mereka.
“Allah sangat bangga dengan hamba-Nya yang senantiasa berinteraksi dengan wahyu.