Al Baqarah : 85 – 86
Beberapa Perjanjian Lain Lagi Yang Dilanggar Kaum Yahudi
Dr. Amir Faishol Fath
وَإِذْ أَخَذْنا مِيثاقَكُمْ لا تَسْفِكُونَ دِماءَكُمْ وَلا تُخْرِجُونَ أَنْفُسَكُمْ مِنْ دِيارِكُمْ ثُمَّ أَقْرَرْتُمْ وَأَنْتُمْ تَشْهَدُونَ (84) ثُمَّ أَنْتُمْ هؤُلاءِ تَقْتُلُونَ أَنْفُسَكُمْ وَتُخْرِجُونَ فَرِيقاً مِنْكُمْ مِنْ دِيارِهِمْ تَظاهَرُونَ عَلَيْهِمْ بِالْإِثْمِ وَالْعُدْوانِ وَإِنْ يَأْتُوكُمْ أُسارى تُفادُوهُمْ وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْكُمْ إِخْراجُهُمْ أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَما جَزاءُ مَنْ يَفْعَلُ ذلِكَ مِنْكُمْ إِلاَّ خِزْيٌ فِي الْحَياةِ الدُّنْيا وَيَوْمَ الْقِيامَةِ يُرَدُّونَ إِلى أَشَدِّ الْعَذابِ وَمَا اللَّهُ بِغافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ (85) أُولئِكَ الَّذِينَ اشْتَرَوُا الْحَياةَ الدُّنْيا بِالْآخِرَةِ فَلا يُخَفَّفُ عَنْهُمُ الْعَذابُ وَلا هُمْ يُنْصَرُونَ (86)
Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya. Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat. Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong.
Rahasia Urutan Ayat
Pada ayat sebelumnya dijelaskan bagaimana kaum yahudi telah melanggar banyak perjanjian yang berupa perintah dari Allah swt. yaitu : perintah tidak berbuat syiriki, berbakti kepada kedua orang tua, berbuat baik kepada kerabat, anak yatim dan orang-orang miskin, juga perintah berkata baik, menegakkan shalat dan membayar zakat. Namun semua perjanjian itu dilanggar oleh kaum Yahudi. Suatu bukti bahwa kebiasaan kaum Yahudi adalah melanggar janji.
Lalu pada ayat ini menjelaskan pelanggaran kaum Yahudi terhadap janji yang lan lagi berupa larangan dari Allah swt. yaitu : laranngan membunuh dan mengusir saudaranya dari kampung halaman mereka. Itupun juga semua perjanjian tersebut dilanggar oleh mereka. Dari kenyataan ini seharusnya semua manusia apalagi orang-orang beriman belajar bahwa sampai kapanpun orang-orang Yahudi tidak akan pernah menepati janji. Dan kini kita sedang menyaksikan berkali-kali kaum Yahudi melanggar perjanjian damai di Pelstina. Tetapi semua pelanggaran itu masih saja ditutup-tutupi, pun perjanjian dengan mereka masih terus saja dilakukan. Wahai orang-orang beriman, tidak ada pilihan untuk menyikapi kaum Yahudi kecuali dengan jalan tegas, tidak ada kompromi dan tidak ada basa-basi. Sebab semua basa-basi bagi mereka adalah jalan empuk untuk merendahkan umat ini. Karenanya sampai sekarang umat Islam masih terus diinjak-injak oleh mereka, dan hak-hak mereka dirampas dengan cara menipulasi sejarah. Sungguh Palsetina adalah hak umat Islam. Tidak ada sama sekali di dalamnya hak kaum Yahudi. Pun tidak ada bukti sejarah bahwa mereka berhak sejengkal tanahpun untuk mendiami Palsetina. Maka semua yang mereka lakukan selama ini adalah penjajahan. Dan semua perjanjian damai yang selama ini selalu mereka lakukan hanyalah cara untuk melanjutkan penjajahan mereka di Palestina.
Dua Perjanjian Berupa Larangan
Allah swt. berfriman : “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu (yaitu): kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang), dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu, kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya”. Dalam ayat ini ada beberapa hal penting yang penting untuk dijelaskan : Pertama, kata mitsaq, yang artinya ikatan yang kuat. Bahwa sebuah perjanjian ibarat ikatan yang kokoh, tidak boleh disepelekan apalagi diabaikan. Karenanya dalam ungkapan yang sangat terkenal, janji dianggap sebagai hutang. Artinya seorang yang berjanji harus memenuhinya. Dalam ayat ini Allah swt. menegaskan bahwa telah melakukan perjanjian dengan kaum yahudi, tetap mereka tidak menganggap janji tersebut sebagai sesuatu yang kokoh. Bahkan mereka dengan mudah meremehkannya. Padahal perjanjian itu langsung mereka lakukan dengan Allah swt. Perhatikan Allah berfirman : “Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari kamu”. Dalam sebuah hadits sahih Nabi saw. bersabda : bahwa ciri manusia munafik ada tiga, di nataranya jika berjanji ia mengingkarinya. Berdasarkan hadits ini jelas bahwa kauam Yahudi tidak saja kafir, melainkan juga munafik. Dan tentu kafir munafik telah dipersiapkan baginya adzab yang sangat pedih. Dengarkan Allah swt. berfriman : Innal munaafiqiin fid darakil asafali minan naar (sesungguhnya orang-orang munafik akan ditempatkan pada lapisan paling bawah dari api neraka).
Kedua, Perjanjian tidak akan saling membunuh antar mereka dan tidak akan saling mengusir. Allah swt. berfriman : “kamu tidak akan menumpahkan darahmu (membunuh orang) dan kamu tidak akan mengusir dirimu (saudaramu sebangsa) dari kampung halamanmu,”. Di sini ada ceritanya : Bahwa sejak dahulu kala kaum Yahudi selalu saling membunuh antar mereka. Prilaku bejat ini tidak pernah berhenti. Sampai kamudian tiba masa di mana Nabi Muhammad menjadi Rasul. Mereka masih juga saling membunuh. Lalu mereka hijrah ke kota Madinah yang dihuni oleh dua suku dominan yaitu suku Aus dan suku Khazraj. Kedua suku tersebut sebelum datangnya Islam selalu berperang. Di sini kaum yahudi memanfaatkan kesempatan. Mereka membangun diri mereka dalam dua kubu: Kubu Yahudi Bani Quraidzah berkoalisi dengan suku Aus dan kubu Yahudi Bani Nadhir berkoalisi dengen suku Khazraj. Pembagian ini sengaja dilakuykan untuk memastikan agar permusuhahan terus berlangsung.
Maka antara kedua kubu tersebut selalu saling berperang dan saling membunuh. Pun kadang antara kedua kubu tersebut saling mendapatkan tawanan. Lebih dari itu mereka saling merusak rumah-rumah mereka, bahkan saling mengusir dari kampung halaman mereka. Lebih jauh mereka saling merampas barang-barang berharga yang terdapat dalam rumah-rumah mereka. Bila di antara mereka ada yang ditawan, mereka datang membawa tebusan untuk membebaskan tawanan tersebut. Lalu ketika ditanya, kenapa dutebus? Mereka menjawab : ini perintah Allah yang terdapat dapat kitab Taurat. Perhatikan bagaimana mereka sangat kontardiktif dalam menyikapi ajaran kitab suci mereka. Di satu pihak mereka dengen terang-terngan melanggarnya sementara di pihak lain mereka mematuhi sebagian ajarannya. Dalam konteks ini Allah swt. menurunkan ayat seperti yang tertera dalam ayat berikutnya : “afatu’minuuna bi ba’dhil kitaabi wa takfuruuna biba’dh” (Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?).
Ketiga, Pengakuan kaum Yahudi yang hidup di zaman Nabi saw, akan benarnya perjanjian-perjanjian tersebut yang telah diberbuat oleh para pendahulu mereka. Allah swt. berfriman : “kemudian kamu berikrar (akan memenuhinya) sedang kamu mempersaksikannya”. Dalam pengakuan ini ada dua hal penting : (a) mereka berikrar akan memetuhi penjanjian tersebut, sebab bagaimanapun perjanjian-perjanjian itu sekalipun dilakukan oleh kakekmoyang mereka, itu juga perjanjian atas mereka. (b) Persaksian bahwa perjanjian-perjanjian tersebut adalah benar. Dengan kalimat : “wa antum tasyhaduun” tergambar seakan mereka hadir pada saat perjanjian itu berlangsung. Supaya tidak ada alsan bagi mereka untuk menghindar.
Kontradiksi Kaum Yahudi
Terhadap perjanjian-perjanjian tersebut kaum Yahudi tidak sama sekali mengindahkannya. Mereka tetap saling membunuh, pun mereka juga saling mengusir dari kampung halaman mereka. Lebih dari itu mereka kompak tolong-tolong menolong dalam berbuat dosa. Dosa apa saja mereka lakukan. Yang besar pun mereka perbuat dengan tanpa ragu, apalagi dosa kecil. Hampir setiap ada permusuhan dan peperangan antara umat manusia di muka bumi, ujung-ujungnya adalah karena ulah kaum Yahudi. Marekalah yang telah membuat adanya kubu-kubu pemikiran yang kemudian saling mencari pendukung lalu antara pendukung tersebut saling berterung. Dam munculnya Sosialisme, Kapitalusme, Libralisme dan lain sebaginya adalah tidak terlepas dari uluran tangan panjang kaum Yahudi. Begitu juga munculnya firqah-firqah dalam Islam seperti firqah Syiah yang sekarang semakin merambah dan memimipin banyak Negara, kemudian melahirkan ketegangan dan konflik dengan umat Islam lainnya, adalah tidak lepas dari campur tangan kaum Yahudi. Lalu di saat yang sama mereka berusaha patuh ikut pandaun Al Kitab, di antaranya menebus saudara mereka yang tertwan sekalipun dengan tebusan yang besar. Aalasannya bahwa ajaran tersebut terdapat dalam Al Kitab.
Inilah makna firman Allah swt. : “Kemudian kamu (Bani Israil) membunuh dirimu (saudaramu sebangsa) dan mengusir segolongan daripada kamu dari kampung halamannya, kamu bantu membantu terhadap mereka dengan membuat dosa dan permusuhan; tetapi jika mereka datang kepadamu sebagai tawanan, kamu tebus mereka, padahal mengusir mereka itu (juga) terlarang bagimu. Apakah kamu beriman kepada sebahagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebahagian yang lain?” Perhatikan betapa Allah swt. telah menegur bahwa mereka tidak konsisten dalam menjalankan ajaran Al Kitab. Mereka melakukan tebang pilih terhadap ayat-ayat Allah swt. apa yang mereka sukai, mereka ambil. Dan apa yang tidak mereka sukai mereka campakkan.
Sungguh ayat ini juga nasihat bagi orang-orang islam yang hanya mengamlakan sebagian isi Al Quran lalu meniolak sebagian yang lain. Seperti yang terjadi, bahwa ternyata banyak orang Islam yang ikut perintah shalat, puasa dan haji, sementara ayat-ayat tentang larangan riba dan zina mereka campakkan. Sudah barang tentu prilaku kontardiktif ini sangat dibenci oleh Allah swt. Karena itu ancaman bagi Kaum Yahudi dan umat siapa saja yang berbuat hal yang sama, yaitu beriman kepada sebagai isi wahyu dan menolak sebagian isi yang lain, mereka pasti adalah dihinakan di dunia. Seperti Allah telah menghinakan kaum Yahudi dengan dikeluarkannya Kaum Yahudi Bani Qainuqa’ dari kota Madinah dan dihukum matinuya kaum Yahudi Bani Quraidhah setelah melakukan pengkhianatan terhadap perjanjian dengan Rasulullah saw. Lalu dai akhirat nanti mereka pasti akan di masukkan neraka yang pedih. Inilah makna firman Allah swt : Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian daripadamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat.
Penting digaris bawahi mengenai perbedaan antara “al khizyu” (kehinaan) dalam ayat dan kata “al haddu” (hukuman). Bahwa Al khizy adalah balasan atas mereka yang berbuat dzalim tetapi tidak mengurangi adzab di akhirat. Seperti ditenggelamkannya Firun di laut merah, dan dhanytnya kaum Nabi Nuh dalam peristiwa Topan, itu adalah khizyun. Namun adzab tersebut tidak mengurangi adzab yang telah ditetapkan atas mereka di akhirat. Lain halnya dengan al haddu, yang merupakan hukuman atas mereka yang melanggar. Maka ketika al haddu telah dilaksanakan otomatis orang tersebut akan terbebas dari adzab Allah mengenai dosa yang dikenai “had” itu. Contoh, ketika hukum rajam dikenakkan kepada seorang penzina atau hukum potong tangan dikenakkan kepada seorang pencuri, maka orang tersebut terbebas dari adzab Allah swt. di akhirat terkait dosa tersebut. Adapun dosa-dosa lainnya yang belum terkenak had tetap akan diadzab kelak di akhirat sesuai dengan porsi dosa yang diperbuat.
Lalu Allah tutup dengan firmasnNya : “wa mallahu bi ghaafilin amma ta’maluun” (Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat). Artinya bahwa tidak ada sebuah dosa yang manusia perbuat sekecil apapun kecuali Allah swt. mengetahuinya. Dan di antara yang membuat kaum Yahudi lalai sehingga mereka berani berbuat dosa apa saja tanpa batas, adalah karena tidak yakin bahwa Allah swt. mengetahuinya. Mereka menganggap bahwa Allah swt. mengabaikan dosa-dosa mereka. Bahkan mereka berkeyakinan bahwa mereka adalah anak Allah yang tidak mungkin diadzab. Toh kalaupun dikenak hukuman itu hanya sebentar sepert yang telah mereka persepsikan. Di sini kita paham mengapa Allah swt. meneutup dengan penegasan tesebut. Bahwa Allah tidak laiai, tidak pernah ngantuk apalagi tidur. Dan semua tercatat dalam ilmuNya. Lalu kelak semua pasti akan dihisab olehNya.
Mereka Telah Menukar Akhirat Dengan Dunia
Allah swt. berfirman : “Itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan siksa mereka dan mereka tidak akan ditolong”. Ayat ini menjelaskan sebab mereka memlih kesesatan dari pada kesalamatan, yaitu karena mereka sangat menictai dunia di atas akhirat. Pun juga dalam ayat ini dijelaskan akibat yang harus mereka dapatkan Dari ayat ini ada beberapa cacatan untuk kita bahas : Pertama, Allah swt. mengumpmakan kaum Yahudi itu yang memburu dunia dengan cara meninggalkan perjanjian dengan Allah swt, seperti orang-orang yang berbelanja membeli kebahgiaan dunia dengan menggunkakan mata uang akhirat. Tentu ini perbelajaan yang merugikan. Sebab dunia hanya sementara dan akhirat adalah abadi. Sungguh alangkah bodohnya orang yang menukar kebahagiaan abadi dengan kebahagiaan sementara.
Kedua, Allah swt. menggunakan bahsa jual beli, sebab kecendrungan manusia adalah melakukan jual beli (baca: berbisnis). Maka dengan bahasa perumpamaan ini sangat mudah dipaham. Bahwa tidak mungkin ada orang berakal menukar barang yang lebih mahal dengan barang murahan. Tidak mungkin ada orang mau menukar mobil beneran dengan mobil-mobilan. Pun juga tidak mungkin ada pedagang yang tujuannya untuk mencapai kerugian. Semua pedagang pasti ingin untung. Kalaupun ada orang yang cita-citanya ingin rugi, itu pasti orang bodoh. Jadi dengan perumpamaan tersebut jelas bahwa orang-orang Yahudi yang di tangannya ada berita wahyu yang benar, yang kalau diikuti pasti akan selamat dunia-akhirat, tetapi malah mereka menukar itu dengan tujuan-tujuan duniawi. Ini sungguh tindakan yang bodoh dan memalukan.
Ketiga, akibat dari tindakan yang bodoh tersebut, mereka Allah swt. telah menyiapkan adzab tanpa ampun dan tanpa keringanan. Maka sekalipun mereka minta keringanan, pasti permintaan tersebut tidak akan dipenuhi oleh Allah swt. Bahkan Allah swt. akan semakin menambah pedih adzab tersebut. Inilah makna firman Allah swt. dalam surah An Naba’, 30 : “Rasakan adzab itu, dan Kami tidak akan pernah menambah kecuali adzab yang lebih pedih lagi”. Jika mereka menunutut : mana kasih sayang Allah, bukankah Allah maha penyayang? Jawabannya adalah bahwa bagi penghuni neraka tidak ada lagi kasih sayang Allah swt. Sebab mereka sejak di dunia tidak mau beri kasih sayang dan mereka telah memilih jalan hidup yang jauh dari kasih sayangNya. Maka demikian juga di neraka, tidak ada lagi kasih sayang Allah swt. untuk mereka. Inilah makna firman Allah : fasuhqan li ashhaabis sa’iir (sungguh jauh dari rahmat Allah mereka yang menjadi penghuni neraka).
Keempat, akibat lebih lanjut, mereka tidak akan pernah ditolong oleh Allah swt. Dalam konteks ini ada dua makna : (a) bahwa mereka kalah, sebab “an nashr” artinya kemenangan. Maka makna ayat “wa laa hum yunsharuun” artinya mereka tidak akan dimenangkan. Mengapa karena mereka melawan Allah swt. yang maha kuat, Maka tidak mungkin selamanya mereka mendapat kemenangan. (b) mereka tidak akan mendapatkan pertolongan dari Allah swt. Maka jika Allah tidak memberikan pertolonganNya sungguh tidak aka ada seorangpun yang bisa menolongnya. Sebab pada hari itu semua urusan di tangan Allah. Allah berfriman dalam surah Al Infithar, 19: “wal amru yawma idzin lillah” (Dan semua urusan pada hari itu di tangan Allah swt.).