Tuesday, September 2

Jalan Syariat

amirfath.com, Artikel (92), Januri 2022 Kata syariah dari kata sya ra’a arti aslinya da lam kamus bahasa Arab adalah tempat sum ber air, tempat orang berdatangan untuk mengambil air minum. Dalam Alquran, kita menemukan kata syir’ah: Likullin ja’alnaa munkum syir’atan wa min haaja(Untuk setiap umat di an tara kamu Kami berikan aturan dan jalan), (QS al-Maidah:48).

Maksudnya adalah aturan hidup atau jalan yang menunjukkan bagaimana cara menaati Allah SWT. Seharusnya, setiap orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mengikuti syariah. Tetapi kenyataannya, ada oknum yang tidak mematuhinya.Karena itu, jangan salahkan syariahnya jika ada orang Islam yang korupsi, sebab korupsi jelas hukumnya haram.

Demikian juga, jangan salahkan jilbabnya jika ada se orang Mus limah berjilbab yang me lakukan zina. Sebab, perilaku zina jelas diharamkan dalam sya riah.Juga tidak perlu Anda ber kata pakaian jilbab tidak pen ting, yang penting cara berpikir nya, dengan alasan bahwa di Bali banyak wanita yang telanjang, te tapi tidak berzina. Sebab, ba gai manapun membuka aurat itu dosa.

Lebih dari itu, jangan salahkan institusinya jika di sebuah pesantren, ada seorang guru yang mencabuli santriwatinya.Sebab, tidak ada pesantren yang mengajarkan perbuatan keji tersebut. Jadi, tidak benar kesalahan oknum digeneralisasi menjadi kesalahan institusional.

Di dalam Alquran, Allah SWT tidak segan-segan menunjukkan kesalahan oknum secara terang- terangan supaya kita biasa berpikir objektif. Sekalipun oknum tersebut ada hubungannya dengan keluarga seorang nabi, Alquran tetap merekamnya.

Misalnya, cerita tentang istri Nabi Nuh dan Nabi Luth. Dalam surah al-Tahrim: 10, ditegaskan bahwa istri kedua nabi itu adalah ahli neraka. Dalam hal ini, tidak benar jika tiba-tiba seseorang mengatakan bahwa nabi saja tidak berhasil mendidik keluarga nya, apalagi mendidik kita.

Perhatikan cara Allah menjelaskan kedua istri nabi tersebut: Fa khaanataahuma wa lam yughniyaa `anhuma minallahi syi’aa(Keduanya berkhianat kepada suami- suaminya. Mereka –kedua nabi tersebut –tidak dapat membantu nya sedikit pun dari siksaan Allah),” (QS at-Tahrim: 10).

Kata khaanataa (kedua istri tersebut berkhianat), menunjukkan bahwa, baik Nabi Nuh maupun Nabi Luth sebenarnya telah berusaha untuk memberikan bimbingan sepenuh hati.Tetapi, kedua istri itu tetap tidak mau beriman.

Sumber : Republika, Jumat, 07/01/2022. hal. 17

About Post Author