Bahaya Hoaks
amirfath.com, Opini (30), Des 2021 – Hoaks artinta berita bohong. Di zaman sosial media ini hoaks mudah menyebar berseleweran siang dan malam. Orang-orang beropreasi duapuluh empat jam hanya untuk memperoduksi hoaks. Tidak sedikit yang menjadikan hoaks sebagai sumber penghasilannya. Berbagai kepentingan bermain di dalamnya. Ada kepentingan politik, ada pula kepentingan ekonomi, ada juga yang tidak punya kepentingan tetapi ikut-ikutan menyebarkannya. Banyak yang jatuh dalam permusuhan karena hoaks, banyak juga yang terjerat hukum karena ikutan ngeshare. Apakah mereka tidak punya iman? Tidak, mereka adalah orang-orang beriman. Apakah mereka tidak takut kepada Allah ? Inilah pertanyaan yang harus dipastikan jawabannya. Sebab tidak mungkin orang yang takut kepada Allah ikut menyebarkan hoaks. “ Ala yazhunnu ulaaika annahum mab’utusun, liyaumin azhim, yauma yaqumunnasi lirabbil alamiin” (apakah mereka tidak yakin bahwa kelak pasti akan Allah bangkitkan kembali, di hari yang agung, pada hari di mana mereka pasti akan mempertanggungjawabkan di hadapan Allah pemilik alam semesta) (QS. Al-Muthaffifin: 4-7). Sungguh seandainya mereka mempunyai iman, niscaya mereka tidak akan melakukannya.
Ketika Nabi SAW. menyebutkan ciri-ciri pelaku hoaks istilah yang disebut adalah munafiqun. Nabi bersabda “ayatul munafiqi tsalats” (ciri orang munafik ada tiga). Dalam Al Quran ada surah khusus bernama “al-Munafiqun”. Suatu istilah yang diambil dari kata Arab “nafaqal yarbu”. Yarbu adalah nama binatang yang selalu membuat lubang dengan dua pintu. Bila ia masuk dari satu lubang, ia keluar dari lubang yang lain. Karena itu Imam Ibn Manzhur dalam kitabnya lisan al-Arab menyebutkan bahwa yarbu adalah binatang yang munafik “nafaqal yarbu”. Nabi SAW. menyebutkan munafik sebagai pelaku hoaks dengan tiga tanda “ayatul munafiqi tsalats”: (a) iza haddatsa kazaba (bila ia berbicara berdusta). Jadi setiap pembicaraan dusta apapun bentuknya, seperti membuli kebaikan saudaranya dengan menjelek-jelekkannya padahal itu tidak sesuai dengan fakta, itu termasuk hoaks. (b) iza wa’ada akhlafa (bila berjanji mengingkari). Termasuk hoaks adalah mengingkari janji. Jadi janji-janji yang diumbar ketika pilkada lalu diingkari setelah menjabat adalah perbuatan hoaks. (c) iza’tumina khaana (bila diberi amanah berkhianat). Artinya bila dipercaya untuk memegang suatu jabatan malah ia korupsi dan menipu jutaan rakyat ini juga termasuk bagian perbuatan hoaks.
Dalam surah al-Nur: 11, hoaks disebut dengan istilah “ifk”. Secara khusus istilah “ifk” ini terkait dengan berita bohong yang menimpa ibunda Aisya ra. Istri Rasulullah SAW. Abdullah bin Ubay bin Salul “ra’sul munafiqin” (kepala kaum munafik) adalah pembuat haoks tersebut. Sekalipun secara redaksi ungkapan yang ia ucapkan Bin Salul nampak tidak menuduh, namun dari situlah nyala api hoaks bermula. Bin Salul berkata : “zaujatu shiahibika ma’a Sofwan” (istri Nabimu berduaan bersama Sofwan)? Peristiwa ini terjadi ketika Aisyah ra. ikut Nabi dalam perang Bani Musthaliq. Sekembalinya, Aisyah tertinggal karena suatu hajat. Kebiasaan Nabi menugaskan sebagian sahabat berjalan paling belakang sebagai petugas swiping, untuk menyelamatkan barang tercecer atau membantu orang yang tertinggal. Saat itu petugas swiping adalah Sofwan bin Mu’athal. Ketepatan yang tertinggal adalah Aisyah ra. Ketika masuk kota Madinah terlihatlah Sofwan bersama Aisyah. Dari sini Bin Salul menggunakan kesempatan untuk membuat hoaks tersebut. Dari mulut ke mulut hoaks bin Salul itu berubah menjadi “ Aisya berzina dengan Sofwan”. Semakin meluas sehingga sebagian sahabat ada yang ikut menyebarkannya. Di antara mereka adalah Mushtih ra. yang hidupnya di bawah tanggungan Abu Bakar Ash Shidiq. Aisyah ketika itu sedang sakit. Ia tidak tahu apap-apa. Baru tahu ketika Ummu Mustih menemaninya buang air. Di tengah jalan kaki Ummu Mustih kesandung lalu terucap, “laknat Mustih”. Aisyah kaget, mengapa Ummu Mustih melaknat anaknya sendiri. Maka diceritakanlah tentang hoaks mengenai Aisyah yang sedang beredar dan Mustih termasuk yang menyebarkannya. Aisyah semakin kaget. Sebab dirinya memang benar-benar bersih. Nabi SAW. ketika itu masih menunggu wahyu yang akan mengklarifikasi hoaks tersebut. Maka turunlah ayat surah al-nur :11, yang menegaskan bahwa itu adalah hoaks “ifk” dan Aisyah adalah bersih dari perbuatan keji tersebut. Di sini Allah memberikan keterangan bahwa berbuat hoaks jangan dianggap ringan, tetapi adalah dosa besar, “wa tahsabunahu hayyinan wahuwa indallahi azhim” (kamu menganggap itu suatu yang ringan tetapi bagi Allah itu adalah besar) (QS. Al-Nur : 15).
Cara terbaik agar tidak jatuh dalam hoaks, adalah dengan merasa takut kepada Allah. Sadari bahwa itu adalah perbuatan dosa yang sangat dibenci oleh Allah SWT. Maka semua penghasilan yang didapat dari profesi sebagai penyebar hoaks itu bukan hanya haram melainkan juga dosa besar. Dalam surah al-Hujurat: 6, Allah SWT. mengajarkan cara agar tidak terperangkap hoaks yaitu dengan “tabayyun”. Allah berfirman : “in ja akum fasiqun binabain fatabayyanu” (bila datang kepadamu berita dari orang fasik maka periksalah dengan teliti). Tabbayun artinya periksa, serta cek and recek. Sebab boleh jadi berita itu memang hoaks. Disebut secara khusus istilah “fasiqun” (fasik) sebab merekalah yang mudah menjadi pelaku hoaks. Berdasarkan ayat ini nampak bahwa pelaku hoaks dalam Islam tidak saja tergolong munafiqun tetapi juga fasiqun. Cerita turunnya ayat ini disebutkan oleh Ibn Katsir bahwa ketika itu Rasulullah SAW. mengutus Al Walid bin Uqbah bin Abi Muith untuk menagih zakat kepada kaum Bani Musthaliq. Lalu dari jauh Uqbah melihat mereka sedang mengasah pedang. Serta merta Uqbah kembali dan membawa berita bahwa kaum Bani Musthaliq menolak bayar zakat dan bahkan mereka bersiap-siap untuk perang. Seketika Nabi SAW mengutus Khalid bin Al Walid agar mengecek (bertabayyun) kebenaran berita tersebut. Ternyata setelah dicek nampak bahwa mereka masih termasuk muslim sejati dan siap membayar zakat. Dari sini Allah menurunkan ayat al-Hujurat, 6 tersebut. Di antara pesannya adalah teguran seandainya tidak ditabayyun terlebih dahulu boleh jadi akan terjadi bahaya yang tidak kamu inginkan “antushibu qauman bijahalatin fatushbihu ala ma faaltum nadimin” Berdasarkan ayat ini jelas bahwa jalan keluar dari hoaks adalah “tabayyun”. Wallahu alam bisshawab.