Jadilah Hamba Allah
amirfath.com, Wawasan (01), Jan 2021 – Dalam surah Al Fatihah setidaknya ada tujuh prinsip yang harus kita pegang teguh agar kita menjadi hamba Allah sejati. Ketujuh prinsip tersebut satu kesatuan tak terpisahkan satu dengan lainnya.
Pertama : ash shilatu billah (jaga hubungan dengan Allah swt). Ibarat HP kita harus selalu terhubung dengan operator. Manusia juga demikian. Ia harus terhubung kepada Allah swt. Tanpa Allah manusia menjadi hampa. Hp yang terputus dari operator menjadi tidak berfungsi, Manusia yang terputus dari Allah menjadi turun derajat. Ia keluar dari kemanusiaannya. Ia menjadi binatang, bahkan lebih sesat dari binatang. Menikah sesama jinis misalnya. Ini tidak pernah ada binatang yang mau melakukannya.
Kedua : asy syukru lillahi (bersyuurlah kepada Allah). Imam Al Ghazali mengatakan, kewajiban pokok manusia adalah bersyukur. Syukur dalam arti menggunakan nikmat Allah sesuai dengan apa yang diinginkanNya. Allah pasrti murka ketika kita menggunakan mata ini untuk melihat maksiat. Begitu juga tangan, kaki, dan seluruh fasilitas, itu semua akan mengundang kemarahanNya jika digunakan dalam dosa. Syukur akan menjaga kita dari sikap melawan Allahj. Syukur akan membimbing kita menjadi tahu diri di muka bumi. Syukur akan membuat kita tunduk sedalam-dalamnya kepada Allah swt.
Ketiga, husnudzdzan billah (prasngka baik kepada Allah). Inilah sikap positif. Orang yang sellalu berpandangan positif maka semua yang ada di sekitarnya menjadi positif. Sebaliknya orang yang berpandangan negatif, maka semua yang disekitranya akan menjadi negatif. Apalagi kepada Allah yang maha rahman dan rahim. Allah berfirman dalam hadits Qudsi : ana inda zhanni abdii bii (Aku tergantung prasangka sang hamba). Semakin positi cara pandang sang hamba kepada Allah maka akan mengalir dariNya aura kebaikan dan ketenangan.
Keempat : al aakhiratu hiyal hadaf (jadikan akhirat sebagai tujuan). Benar, akhirat adalah tujuan. Sebab dunia hanyalah sementara. Apa yang sementara tidak bisa dijadikan tujuan. Orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan pasti sengsara. Sebab dunia pasti berakhir. Sebaliknya orang yang menjadikan akhirat sebagai tujuan pasti bahagia. Sebab urusan dunia menjadi kecil baginya. Maka permsalahan apapun di dunia tidak akan pernah mengganggu perasaannya.
Kelima : al hayaatu lil ibadah (hidup untuk ibadah). Orang yang hidupnya untuk ibadah akan selalu terjaga dari dosa. Tidak mungkin orang yang hatinya terhubung kepada Allah akan sibuk dengan setan. Inilah hakikat ibadah. Dalam ibadah hati sang hamba selau berzikir, maka nafsu akan terkendali dan setan tidak mampu menggodanya. Inilah makna pernyataan setan yang Allah rekam dalam Al Quran : aku akan sesatkan mereka semua kecuali hamba-hambaMu yang ikhlash.
Keenam : al isitiqaamah (komitmen di atas jalan yang lurus. Jangan menjadi seperti lalat yang kadang hinggap di tempat yang baik lalu setelah itu hinggap di tempat yang buruk. Dalam Al Quran Allah menyebut lalat dengan nama az zubabah. Manusia lalat disebut dengan muzab-zab. Jadilah seperti lebah. Ia selalu hinggap di tempat yang baik. Lebih dari itu ia memberikan kebaikan. Allah bangga dengan lebah sehingga diturunkan surah lebah (an nahl) dan dikhususkan penyebutannya.
Ketujuh : at ta,allum minal madhii (belajar dari masa lalu). Sepertiga dari Al Quran adalah masa lalu. Diceritakan bahwa masa lalu ada dua : baik dan tidak baik. Yang baik Allah contohkan seperti para Nabi. Adapun yang buruk Allah contohkan seperti Firun, kaum Aad, kaum Tsamud dan kaum Nuh. Seorang hamba tidak boleh jatuh dalam lubang yang sama dua kali. Karena itu beljar dari sejarah adalah keniscayaan. Wallahu alam bishshawab.