Semangat Dakwah Tidak Kenal Lelah
amirfath.com, Artikel (25), Jan 2021 – “Dan datanglah dari ujung kota, seorang laki-laki (Habib An Najjar) dengan bergegas-gegas ia berkata: “Hai kaumku, ikutilah utusan-utusan itu, ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk. Mengapa aku tidak menyembah (Tuhan) yang telah menciptakanku dan yang hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) akan dikembalikan?” (QS. Yasin 20-22)
Ayat ini mengkisahkan seorang yang mencintai Allah. Cinta yang benar-benar terhujam dalam kesadaran iman. Cinta yang menggerakkan seluruh kemampuan untuk mengajarkan kebenaran yang Allah turunkan. Para ulama Tafsir menyebutkan bahwa ia adalah Habibi An Najjar. Ia datang untuk menasihati kaumnya yang lalai. Lalai karena mereka menolak setiap utusan Allah yang datang. Mereka tidak mauberiman kepada Allah. Mereka lebih suka ikut nafsu dan ajaran-ajaran nenek moyang mereka. Mereka tidak percaya bahwa para rasul itu datang membawa wahyu. Mereka menganggap bahwa para rasul itu manusia biasa seperti mereka. Marilah kita simak dialog mereka dengan para rasul seperti yang Allah ceritakan pada ayat sebelumnya pada ayat 14-19:
“Ketika Kami mengutus kepada mereka dua orang utusan, lalu mereka mendustakan keduanya; kemudian Kami kuatkan dengan (utusan) yang ketiga, maka ketiga utusan itu berkata: “Sesungguhnya kami adalah orang-orang yang diutus kepadamu”. Mereka menjawab: “Kamu tidak lain hanyalah manusia seperti kami dan Allah yang Maha Pemurah tidak menurunkan sesuatupun, kamu tidak lain hanyalah pendusta belaka”. Para rasul menjawab: “Tuhan kami mengetahui bahwa sesungguhnya kami adalah orang yang diutus kepada kamu. Dan kewajiban kami tidak lain hanyalah menyampaikan (perintah Allah) dengan jelas”. Mereka menjawab: “Sesungguhnya kami bernasib malang karena kamu, sesungguhnya jika kamu tidak berhenti (menyeru kami), niscaya kami akan merajam kamu dan kamu pasti akan mendapat siksa yang pedih dari kami”. Para rasul menjawab: “Kemalangan kamu itu adalah karena kamu sendiri. Apakah karana kamu diberi peringatan? Sebenarnya kamu adalah kaum yang melampauibatas.”
Begitu dialog itu berlangsung, seketika datanglah seorang yang dikenal dengan Habib An Najjar (tentang orang ini Allah ceritakan pada ayat di atas). Ia merasa tidak enak jika dirinya saja yang beriman. ia sadar bahwa kaumnya tidak berima karena kebodohannya. Ia segera bangkit untuk memberitahukan bahwa para rasul itu benar. Mereka adalah utusan Allah. Ia berkata: “ittabi’ul mursaliin (ikutilah jejak para rasul itu). Di sini nampak bahwa tugas seorang da’i adalah mengajak bagaimana supaya manusia ikut rasul dan beridola kepada mereka, bukan beridola kepada dirinya. Sebab hanya para rasul yang dijamin masuk surga. Selain mereka tidak ada yang tahu apakah ia ahli surga atau bukan.
Sigap Bergegas
Kata “wajaa’a min aqshal madiinati” menggambarkan bahwa ia segera datang. Datang pada waktu yang tepat, bukan menunda-nunda. Tidak peduli sekalipun jarak yang harus ia tempuh sangat jauh. Ia segera berangkat menuju tempat dimana kaumnya tidak mau beriman kepada risalah para rasul. Ia berusaha dengan maksimal untuk meyakinkan kaumnya, agar segera meninggalkan akidah yang salah. Ia katakan bahwa para rasul itu benar. Tetapi kaumnya tetap menolak. Ia yakinkan lagi bahwa tidak ada jalan lagi menuju kebahagiaan kecuali hanya dengan ikut para rasul itu. Namun kaumnya tetap menolak.
Dalam kata “yas’aa” tergambar makna kesigapan dan kesungguhan dalam melakukan dukungan. Ia bukan hanya mendukung melainkan ikut juga bergerak dan aktif secara langsung meyakinkan orang lain agar beriman kepada Allah swt. ini mengingatkan kepada kisah Nabi Ibrahim, istrinya Hajar dan putranya Isma’il. Bagaimana rumah tangga ini merupakan contoh kesigapan dalam menjalankan ibadah Allah swt. nabi Ibrahim, begitu Allah memerintahkan hijrah langsung berangkat ke kota Makkah, sekalipun di sana sangat gersang, tidak ada tanda-tanda penghidupan sama sekali. Siti Hajar setelah tahu bahwa itu perintah Allah langsung ikut.
Tidak hanya sampai di sini gambaran kesigapan Nabi Ibrahim dalam mentaati Allah. Setelah Nabi Ismail menginjak usia muda, Allah memerintahkannya agar menyembelih anaknya Ismail sebagai qurban. Nabi Ibrahim pun sigap melaksanakannya. Begitu juga Nabi Isma’il sigap mentaati perintah tersebut. Simaklah jawaban Nabi Ismail:”Hai bapakku, kerjakanlah apa yang kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar”. (Ash-Shaffat 102).
Ajakalah Mereka Ikut Rasul
Perhatikan panggilan yang dilakukan Habib An Najjar itu: yaa qaumi ittabi’ul mursaliin (wahai kaum ikutilah para rasul). Di sini nampak bahwa tema dakwah adalah mengajak orang-orang yang belum beriman supaya beriman kepada rasul. Pun mengajar mereka yang telah beriman supaya lebih berkomitmen mengikuti sunnah para rasul. Sebab hanya dengan mengikuti akhlak mereka seseorang akan mencapai kebahagiaan. Karena itu kita perhatikan karya-karya ulama terdahulu, mereka lebih menonjolkan ayat-ayat dan hadits-hadits dari pada menonjolkan pendapatnya sendiri.
Memang, ada sebagian mengatakan, yang penting pesannya sampai, sekalipun tidak menyebutkan ayat atau hadits. Persoalannya, ketika seseorang berdakwah dengan menonjolkan perkataan dirinya, maka yang akan dihafal oleh pemirsa perkataan dirinya bukan perkataan rasul. Lama kelamaan yang akan diidolakan adalah diri sang da’i bukan diri sang rasul. Perhatikan ayat ini “ittabi’ul mursaliin”, suatu penegasan bahwa ajakan sang da’i adalah untuk tetap mengidolakan para rasul.
Mengapa harus mengidolakan para rasul? Allah memberikan alasan:
- ittabi’uu manlaa yas’alukum ajraa. Mereka adalah manusia-manusia yang ikhlas (murni) mentaati Allah. Mereka tidak mengharapkan apa-apa dari dakwah yang mereka lakukan kecuali hanya ingin mengajak supaya orang-orang ikut Allah. Supaya jangan sampai ada orang yang sesat jalan. Masalah ikhlas adalah masalah utama dalam amal dakwah. Tanpa keikhlasan semua awal dakwah akan sia-sia. Sia-sia dari segi manfaat, karena ia menyampaikan dakwahya tanpa ruh. Pun sia-sia dari segi pahala, karena Allah swt. tidak akan menerima amal yang tidak ikhlash. Para rasul adalah contoh manusia dakwah yang ikhlash. Karena itu dakwah harus dikembalikan kepada intinya semula, yaitu menjiwai semangat para rasul yang ikhlas dan mengajak kepada kesungguhan untuk mengikuti jejak para rasul.
- Wahum muhtaduun, bahwa para rasul adalah orang-orang yang mendapatkan petunjuk. Dikatakan muhtaduunkarena apa yang mereka bawa adalah hidayah dari Allah swt. bukan hanya itu segala prilaku dan perbuatan mereka adalah hidayah. Siapapun yang ikut mereka pasti selamat. Para rasul tidak mungkin sesat jalan. Karena itu mereka adalah muhtaduun. Tidak akan dikatakan muhtaduun kalau ternyata mereka menyesatkan. Lebih-lebih persaksian ini datang dari Allah yang maha mengetahui. Maka tidak mungkin kesaksian ini salah. Maka para rasul pasti menyelamatkan.
Logika Dakwah
Mengapa kita harus berdakwah? Kepada apa kita harus berdakwah? Dengan alasan Habib An Najjar seperti Allah firmankan pada ayat: “Mengapa aku tidak menyembah (tuhan) yang telah menciptakanku dan hanya kepada-Nya-lah kamu (semua) dikembalikan?”
Jadi sebenarnya tema dakwah itu satu: mengajak orang ikut Allah yang telah menciptakan kita semua. Kita tidak mungkin ada kalau Allah tidak menciptakan kita. Lalu stelah kita ada untuk apa? Untuk main-main? Masuk akalkah bahwa Allah menciptakan kita untuk main-main? Atau Allah ciptakan kita tanpa tujuan? Maksudnya kita dibebaskan ngurus hidup kita sendiri dengan cara dan aturan yang kita bikin sendiri? Masuk akalkah Allah menciptakan manusia tanpa aturan?
Kita sering mendapatkan buku guide untuk menggunakan mobil, komputer, televisi, motor atau kulkas yang kita beli. Masuk akalkah bahwa Allah menciptakan kita tanpa buku guide sama sekali? Kita dibiarkan begitu saja? Kalau hanya untuk menggunakan salah satu produk tehnologi saja kita harus ikut buku petunjuk, maka sungguh tidak masuk akal sama sekali jika Allah membiarkan kita hidup tanpa pedoman? Itulah para rasul Allah yang datang untuk menyampaikan pedoman. Al Qur’an yang diturunkan kepada Rasulullah saw. adalah buku guide untuk bagaimana kita menjalani kehidupan di muka bumi. Contoh pelaksanaannya kita lihat pada akhlak rasulullah saw.
Jadi tema utama dakwah sebenarnya hanya mengajak bagaimana kita ikut apa kata Allah dengan mencontohkan para rasul. Kita ikut Allah, karena Dialah yang menciptakan kita. Dan kita pasti akan kembali kepadaNya: wailahi turja’uun. Kita kembali kepada Allah karena Dialah yang paling berhak menghisab kita. Dalam surah Al Ghasyiyah Allah berfirman: (Sesungguhnya kepada Kami-lah kembali mereka,kemudian sesungguhnya kewajiban Kami-lah menghisab mereka).
Wallahu a’lam bishshwab.