Ramadhan Bulan Tarbiyah
amirfath.com, Artikel (26), Des 2020 – Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa (QS. Al Baqarah 183)
Ayat diatas adalah prolog dari ayat-ayat berikutnya tentang Ramadhan. Dari ayat 183-187 surah Al Baqarah Allah swt. Secara khusus menarasikan amalan-amalan Ramadhan sebagai satu paket. Siapapun yang membaca rangkaian ayat-ayat tersebut akan menemukan fakta bahwa Allah swt, menggambarkan Ramadhan bukan hanya bulan puasa, melainkan lebih dari itu banyak amalan-amalan lain yang tidak kalah pentingnya dengan ibadah puasa. Benar hukum ibadah puasa selama Ramadhan adalah wajib berdasarkan ayat di atas dan hadits-hadits Nabi saw. tetapi bukan berarti lantas ibadah-ibadah lainnya tidk penting. Bila kita pelajari secara seksama ayat dia atas dan ayat-ayat berikutnya sampai ayat 187, kita akan menemukan rangkaian ibadah yang saling melengkapi.
Ingat bahwa tujuan yang harus dicapai oleh seorang hamba dalam menjalankan ibadah Ramadhan sebagaimana ayat di atas adalah la’allakum tattaquun (agar menjadi orang bertaqwa). Tentu untuk mencapai level ini harus ada ibadah-ibadah lain yang melengkapi. Tidak cukup seseorang hanya dengan menahan lapar dan haus setelah itu sibuk dengan permainan-permainan. Itulah rahasianya mengapa setelah itu Allah mengkaitkan Ramadhan dengan Al Qur’an (QS. Al Baqarah 185) selalu membaca do’a (Al Baqarah 186) menahan hubungan seks selama puasa, bangun untuk sahur dan i’tikaf (QS. Al Baqarah 187). Suatu indikasi bahwa selama Ramadhan hendaklah setiap hamba Allah tidak hanya berpuasa melainkan juga memperbanyak membaca Al Qur’an, membaca do’a, menahan diri dari nafsu seks, bangun untuk sahur menjelang fajar dan i’tikaf di masjid.
Bila kita renungkan rangkaian ibadah Ramadhan yang Allah tuntunkan secara lengkap ini, jelaslah bahwa semua itu tidak lain adalah dalam rangka mentarbiyah hamba-hamba-Nya agar naik tingkat ke level takwa. Agar manusia tidak terlena dengan godaan nafsu yang membuat semakin jauh dari Allah. Agar manusia mampu memaksimalkan Ramadhan menuju kebahagiaan abadi di sisi Allah swt. Sebab hanya dengan bertakwa kepada Allah kebahagiaan di dunia maupun di akhirat akan dicapai. dan untuk mencapainya tidak cukup hanya denganberdo’a. Melainkan harus juga dibuktikan dengan amal. Tarbiyah artinya bersungguh-sungguh mengamalkan tuntunan dengan ikhlas, lengkap dan benar. Bila sarana ibadah diikuti secara seksama, maka tujuan yang Allah tentukan akan dirasakan secara nyata. Itulah rahasia sukses dan bahagia yang dicapai Rasulullah dan sahabat-sahabatnya.
Dari keterangan di atas bisa ditegaskan bahwa Ramadhan adalah bulan tarbiyah dengan sarana yang Allah tentukan sebagai berikut:
- Wajib Beriman
- Wajib Berpuasa
- Memperbanyak Baca Al Qur’an
- Banyak Berdo’a
- Mengendalikan Nafsu Seks
- Bangun Selalu Untuk Sahur
- I’tikaf Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Tulisan ini berusaha untuk mengungkap rahasia sarana-sarana tersebut dari sudut pandang tarbiyah.
- Wajib Beriman
Pada ayat di atas Allah mengundang orang-orang yang beriman untuk berpuasa. Ini menunjukkan bahwa iman adalah syarat sahnya puasa. Yang tidak punya iman sekalipun berpuasa, ia tidak mendapatkan apa-apa dari puasanya kecuali hanya lapar dan haus. Tanpa iman segala perbuatan manusia akan menjadi sia-sia. Para ulama hadits seperti Imam Bukhari menjelaskan dalam bukunya Al Jami’ush Shahih bahwa naik-turun (yaziidu wa yanqush). Naik dengan bertambahnya amal saleh dan turun dengan bertambahnya dosa-dosa. Bila bulan Ramadhan tiba. Saat bagi mereka yang beriman menaikkan imannya. Mengapa? Sebab selama Ramadhan nafsu dikendalikan. Termasuk nafsu makan dan nafsu seks.
Seorang yang menahan nafsunya ia akan terjatuhkan otomatis dari dosa-dosa. Semakin jauh dari dosa-dosa semakin bersih jiwanya. Orang yang jiwanya bersih ia akan tenang mentaati Allah. Allah menyebutkan dengan istilah annafsul muthmainnah. Inilah jiwa yang tenang mentaati Allah sekalipun orang-orang disekitarnya sibuk dengan dosa-dosa dan kemaksiatan. Tenang mempersiapkan diri memperbanyak amal saleh sebagai bekal di akhirat, ketika manusia di sekitarnya sibuk memegah-megahkan dunia. Dari sini nampak mengapa undangan Allah untuk melaksanakan puasa Ramadhan hanya tertuju kepada mereka yang beriman.
- Wajib Berpuasa
Pada ayat di atas Allah berfirman: kutiba ‘alaikumush shiyaam artinya diwajibkan kepadamu berpuasa. Dalam hadits riwayat Imam Muslim Rasulullah saw. menegaskan bahwa puasa Ramadhan adalah salah satu pilar Islam. ini menunjukkan bahwa puasa Ramadhan adalah wajib. Bila tidak mampu karena sakit atau musafir dan lain sebagainya Allah menjelaskan pada ayat berikutnya (QS. Al Baqarah 184), bahwa mereka dibolehkan tidak berpuasa, tetapi harus mengganti setelah Ramadhan. Artinya tidak ada alasan untuk menghindar puasa. Bahkan termasuk seorang kakek tua, jika ia tidak mampu berpuasa atau tidak mampu mengganti,ia harus bayar fidyah.
Mengapa puasa demikian penting? Sedemikian rupa sehingga syariat puasa ini Allah wajibkan juga kepada umat-umat terdahulu (kamaa kutiba ‘alalladziina minqoblikum)? Jelas sekali alasan untuk menjawab pertanyaan ini bahwa tantangan yang paling berat dihadapi manusia adalah menawan hawa nafsu. Dalam surah An Nazi’at 40-41, dijelaskan bahwa jalan ke surga adalah takut kepada Allah dan mengendalikan nafsu (wa amma man khafa maqaama rabbihii wa nahan nafsa ‘anilhawa fainnal jannata hiyal ma’waa). Puasa adalah ibadah menahan nafsu. Bila seseorang ternyata mampu menahan nafsunya selama Ramadhan, maka tidak ada alasan untuk tidak mengendalikan nafsunya di luar Ramadhan. Bila seseorang mampu istiqamah mengendalikan nafsunya selama hidupnya, maka ia akan terjaga dari dosa-dosa. Orang yang terjaga dari dosa ia akan dekat kepada Allah. Dekat kepada Allah inilah hakikat takwa.
Dari sini nampak rahasia firman Allah pada ayat berikutnya (QS. Al Baqarah 185): wa antashuumu kahirul lakum(bila kalian berpuasa itu lebih baik bagi kalian). Khairun (lebih baik) nisa juga bermakna lebih berkah dan lebih membawa kepada ketenangan. Sebab dengan puasa kekuatan nafsu yang selalu mengajak berbuat dosa akan melemah. Bila nafsu lemah maka akan mudah terkendali. Dengan dikendalikan hawa nafsu seorang yang beriman akan lebih bahagia, karena semakin dekat kepada Allah.
- Memperbanyak Baca Al Qur’an
Membaca Al Qur’an termasuk ibadah penting dalam bulan Ramadhan. Dalam ayat berikutnya (Al Baqarah 185) Allah swt. Berfirman: syahru ramadhaanalladzii unzila fiihil qur’an (bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al Qur’an). Perhatikan begitu indahnya Allah menggandeng antara Ramadhan dengan Al Qur’an dalam satu ayat. Ini menunjukkan bahwa Ramadhan bulan Al Qur’an. Orang yang masuk Ramadhan tidak membaca Al Qur’an berarti tidak lengkap pemahamannya terhadap Ramadhan. Untuk menunjukkan hakikat eratnya Ramadhan dengan Al Qur’an, Allah swt. Setiap malam Ramadhan –seperti riwayat Imam Bukhari- mengutus malaikat Jibril untuk menemani Rasulullah saw. melakukan murajaah hafalan Al Qur’an.
Suasana berlomba-lomba membaca dan mengkhatamkan Al Qur’an bukanlah sesuatu yang langka di kalangan para sahabat Rasulullah saw. beberapa riwayat menggambarkan bahwa setiap malam terdengar dari rumah-rumah sahabat suara mendengung seperti suara lebah (kadzawin nahl) dari suara orang-orang yang membaca Al Qur’an. Tidak bisa dipungkiri bahwa membaca Al Qur’an adalah ibadah mulia. Banyak para ulama mengatakan bahwa orang yang membaca Al Qur’an ia sedang melakukan komunikasi langsung dengan Allah. Karena yang dibaca adalah firman Allah, sebagai firman Allah, Al Qur’an sangat kuat sentuhannya bagi ruhani manusia. Tidak sedikit dari orang-orang kafir Makkah pada zaman Rasulullah saw. yang masuk Islam karena sentuhan dari mendengar bacaan Al Qur’an. Kisah yang sangat terkenal adalah apa yang dialami Umar bin Khatthab ra, bahwa ia masuk Islam karena mendengar bacaan Al Qur’an yang dibawakan oleh adik kandungnya sendiri.
Dalam suasana Ramadhan Allah swt. Memberikan cara terbaik untuk mengisi detik demi detik yang dilaluinya. Membaca Al Qur’an adalah ibadah yang bisa dilakukan setiap saat, tanpa batas waktu. Maka dengan banyak membaca Al Qur’an seorang yang beriman akan semakin dekat kepada Allah. Dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa paling baiknya cara membaca Al Qur’an adalah arraahil wal mutahil. Sebagian sahabat bertanya apa itu ar raahil wal murtahil? Nabi saw. menjawab: an taqra’al qur’an min awwalihii ilaa akhirihii wamin akhirihii ilaa awwalihi (hendaklah kamu membaca Al Qur’an dari awal sampai akhir, lalu dari akhir mulai lagi dari depan).
- Banyak Berdoa
Ramadhan bulan diistijabahnya do’a. Artinya do’a orang-orang yang beriman di bulan Ramadhan menjadi mustajab karena pada waktu itu sedang berpuasa. Itulah rahasia mengapa Allah swt. Pada ayat selanjutnya (QS. Al Baqarah 186) berfirman: wa idzaa sa’alaaka ibaadii ‘anny fa innii qariib. Ini ayat tentang permohonan do’a. Para ulama tafsir mencoba mengungkap rahasia mengapa Allah swt. Menyelipkan ayat ini dalam pembahsan mengenai Ramadhan? Lalu setelah sekian lama dalam penelitian yang mendalam, mereka menemukan kesimpulan bahwa Ramadhan adalah bulan do’a. Sungguh sangat di sayangkan ketika orang-orang beriman masuk Ramadhan tidak banyak berdo’a. Sebab Allah swt . telah demikian jelas menggambarkan hubungan Ramadhan dengan do’a.
Rasulullah saw. bersabda: inna lishshaa’im da’watan laa turadd (sesungguhnya doa orang yang berpuasa tidak ditolak). Ini menegaskan bahwa seorang yang beriman pada saat berpuasa Ramadhan hendaklah senantiasa menggunakan waktu untuk selalu berdo’a. Ingat bahwa do’a adalah spirit ibadah.
Ibadah tanpa do’a seringkali membuat seseorang tidak istiqamah. Karena itu Rasulullah saw. ketika ditanya oleh seorang sahabat bernama Abu Amru mengenai bekal terbaik dunia-akhirat, Nabi saw. menjawab; qul aamantu billahi tsumas taqim (katakan aku beriman kepada Allah dan istiqamahlah). Untuk mencapai level istiqaamah sangat berat. Ibn Abbas menceritakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda: sayyanabatnii Huud (telah membuat aku beruban surah Hud). Maksudnya karena dalam surah Hud:11 terdapat perintah fastaqim kamaa umirta (maka beristiqaamahlah sebagimana telah diperintahkan). Karena nabi Nabi selalu berdo’a mohon pertolongan untuk istiqamah menjalankan ibadah dan syukur: allahumma a’inii ‘alaa dzikrika wa syukrika wa husni ibaadatika (yaa Allah bantulah aku untuk selalu berdzikir, bersyukur dan beribadah kepadaMu).
- Mengandalikan Nafsu Seks
Pada ayat berikutnya (QS. Al Baqarah 187) Allah swt. Menekankan pentingnya menjaga nafsu seks di waktu siang dan boleh bersama istri nya di waktu malam. Di sini nampak bahwa puasa Ramadhan tidak hanya menahan lapr dan haus, melainkan juga menahan nafsu seks. Perjuangan mengendalikan hawa nafsu seks adalah sangat penting. Sebab tidak sedikit orang yang masuk neraka kera terjerumus dalam perzinaan. Ramadhan datang memberikan solusi dan sikap, bahwa orang-orang beriman tidak boleh kalah terhadap kekuatan nafsu. Bahwa nafsu itu bisa dikendalikan. Buktinya selama di siang hari Ramadhan mereka bisa menahan. Padahal itu halal bila dilakukan dengan istri-istri mereka.
Bila ternyata seseorang mampu menahan nafsu, maka tidak ada alasan kelak di hari kiamat untuk mengatakan bahwa “aku berzina karena aku tidak kuat menahan nafsu”. Dengan hadirnya Ramadhan seorang yang beriman tidak pantas lagi terjatuh dalam perbuatan nista perzinaan. Sebab selama Ramadhan telah terbukti mampu bertahan dalam ke taatan.ini suatu bukti nyata bahwa Allah swt dengan Ramadhan mendidik hamba-hambaNya agar selalu bersih dan terjaga dari perbuatan keji, zina dan dosa-dosa lainnya.
- Bangun Selalu Untuk Sahur
Setelah itu di ayat yang sama Allah menekankan pentingnya bangun untuk melaksanakan sahur. Allah berfirman: wakuluu wasyrabuu’ hattaa yatabay yana lakumul khaythul abyadhi minal khayathil aswadi minal fajri (makanlah dan minumlah sampai terang bagimu benang putih dari benang hitam yaitu fajar). Ayat ini menjelaskan pentingnya ibadah sahur. Bahwa bangun menjelang fajar adalah ciri manusia beriman. Bahwa bangun untuk sahur merupakan tarbiyah rabbaniyah supaya tidak ada lagi alasan untuk tidak bangun pada saat fajar. Sebab bagi seorang mukmin bangun di saat fajar adalah wajib. Mengapa? Sebab ia wajib menegakkan shalat subuh. Karena itu kegiatan bersahur ditekankan oleh Allah swt. Dengan seks ayat secara khusus. Itu untuk menunjukkan bahwa melaksanakan sahur merupakan ibadah tersendiri selama Ramadhan.
Dalam banyak hadits Nabi saw. pernah memerintahkan untuk bersahur, karena dalam sahur ada keberkahan. Dalam hadits lain Nabi saw. menjelaskan bahwa Allah swt, dan para malaikatnya membacakab shalawat bagi orang-orang yang bersahur. Begitu pentingnya sahur ini, sampai-sampai Nabi saw. sangat menganjurkan bersahur sekalipun hanya dengan seteguk air. Abu Said Al Khusri, salah seorang sahabat Rasulullah saw. berkata: semua sahur berkah, maka janganlah diabaikan sekalipun hanya dengan seteguk air. Sunnahnya sahur adalah diakhirkan, sebab itu lebih sesuai dengan tuntunan Nabi dan lebih membantu untuk menjalankan puasa.
- I’tikaf Sepuluh Hari Terakhir Ramadhan
Pada penutup ayat tentang Ramadhan (QS. Al Baqarah 187) Allah swt. Menyebutkan mengenai i’tikaf. Allah berfirman: walaa tubaasyiruuhunna wa antum ‘aakifuuna fil masaajid (janganlah kalian melakukan hubungan dengan istri kalian selama kalian sedang i’tikaf di masjid). Dari ayat ini nampak beberapa hal yang bisa di garis dibawahi:
- Bahwa ibadah i’tikaf sangat penting untuk dilakukan terutama pada sepuluh terkhir bulan Ramadhan. Disebutkan dalam beberapa hadits bahwa Nabi saw, tidak pernah meninggalkan ibadah i’tikaf sepuluh terakhir Ramadhan seumur hidupnya. Bahkan pada tahun dimana beliau wafat, Nabi saw. melaksanakan i’tikaf sebulan Ramadhan penuh. Ini menunjukkan bahwa ibadah i’tikaf khusus Ramadhan sangat penting. Sayangnya banyak orang Islam mengabaikannya.
- Bahwa ibadah i’tikaf hendaklah dilakukan di masjid. Perhatikan Allah swt. Berfirman: wa antum ‘aakifuuna fil masaajid. Para ulama mengatakan berdasarkan ayat ini i’tikaf harus di masjid. Diutamakan masjid jami’ yang ditegakkan di dalamnya shalat jum’at, supaya tidak perlu keluar untuk shalat jum’at. Bila dipelajari secara mendalam mengenai ibadah i’tikaf ini kita akan mendapatkan banyak pelajaran sangat penting untuk dunia tarbiyah: (1) dengan i’tikaf akan tumbuh sikap mencintai masjid. Ingat bahwa Allah swt. Menjadikan cinta masjid sebagai ciri manusia beriman kepada Allah dan hari kiamat (QS. At Taubah 18). (2) dari ibadah i’tikaf akan terasa nikmatnya ibadah Ramadhan. Bahwa ibadaha kepada Allah tidak cukup dijadikan sambilan, melainkan harus memutuskan barang sejenak- segala kegiatan keduniaan. Inilah makna tabbattul yang Allah tegaskan dalam surah Al Muzammil 8: “Sebutlah nama Tuhanmu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketekunan”. (3) I’tikaf mengajarkan ketekunan menegakkan shalat malam. Seorang yang sedang i’tikaf akan terbantu untuk bisa melakukan shalat malam (baca: tarawih). Lebih dari itu, akan juga terbantu untuk mendapatkan malam lailatul qadar. Malam yang didalamnya terkandung keutamaan ibadah lebih baik (kahirun) dari seribu bulan. Allah berfirman: lailatul qadar kahirunmin alfi syahrin (malam lailatul qadar lebih baik dari seribu bulan) (QS. Al Qadr, 3).
Dari keterangan di atas, nampak bahwa seluruh ibadah Ramadhan yang kita laksanakan dari awal Ramadhan sampai akhir Ramadhan demikian pentingnya dilakukan dan banyaknya keutamaan – keutamaan ibadah yang dapat kita raih dan kita jalankan dengan semaksimal mungkin agar nantinya diharapkan kita dapat menjadi hamba yang Rabbani dan bertaqwa dan ibadah Ramadhan sebulan penuh dapat membekas dalam diri kita agar kita nantinya dapat pribadi yang sholeh.
Aaamiin …