Monday, July 21

An Naas (Manusia)

amirfath.com, Tadabur Surah An Naas (114), Des 2020 – Diberi nama an Naas karena surat ini dimulai dengan ayat qul a’udzubirobbinnas dan kalimat an Naas diulang-ulang dalam 5 ayat berikutnya.

Pokok kandungan surat: secara ringkas surat ini masih meruapakan lanjutan dari surat sebelumnya yaitu perintah untuk memohon perlindungan kepada Allah dari segala kejahatan Iblis dan tentaranya baik dari jenis jin ataupun jenis manusia.

Tuhan seluruh manusia (1-3)

Allah berfirman qul a’udzubirobbinnas artinya katakanlah hai Muhamad, aku berlindung kepada Allah, Tuhan semua manusia. Sebab Dialah Allah yang menciptakannya dan mengatur perkaranya. Maka bagiNya kerajaan yang sempurna dan kekuasaan yang kokoh. Dialah Tuhan yang patut disembah manusia. Kalimat Ilah (Tuhan) adalah khusus hanya untuk Allah dan tidak ada yang boleh mempergunakannya kecuali Allah. Adapun kalimat malik (Raja) itu disebutkan untuk menunjukkan bahwa Raja yang sebenarnya dalah Allah, sementara manusia yang disebut raja, itu hanya sebuatnnya saja, tetapi bukan raja hakiki, karenaya ia tidak boleh disebut Tuhan.

Disebutkan istilah ar rab, untuk menunjukkan bahwa Allah-lah yang menciptakan segala sesuatu dan menjaganya. Adapun istilah al malik  untuk menunjukkan bahwa Allah-lah yang memiliki segala sesuatu di muka bumi ini. Manusia sebenarnya tidak punya apa-apa, karenanya kelak di ahri kiamat ia akan dimintai pertanggungjawaban atas segala nikmat yang mereka dapatkan, untuk apa saja ia gunakan. Sedangkan istilah al ilaah untuk menunjukan Allah-lah Dzat satu-satuNya yang harus disembah, selainnya hanya mahluk dan harus menghamba kepadaNya. Didahulukan penyebutan ar rab kerena konteksnya mengenai perintah minta perlindungan, dan dalam kata ar rab terkandung makna menjaga dan melindungi.

Berlindung dari gangguan syetan (4-5)

Allah memerintahkan Rasulullah untuk memohon perlindungan dari gangguan dan bisikan syetan yang tersembunyi. Salah satu kejahatan syetan yang paling membahayakan adalah bisikan agar menjauh dari mengingat Allah. Karenanya pada saat kita berdzikir menyebut nama Allah syetan seketika bersembunyi dan menjauh tetapi pada saat kita lengah, syetan langsung masuk kehati kita dan mengganggu.

Allah membebaskan syetan untuk menguasai dan mengganggu manusia kecuali orang-orang yang Allah jaga, diantaranya Rasulullah saw., dalam hadist shahih Rasulullah bersabda:” tidak seorangpun dari kamu sekalian kecuali ada yang menemani” para shahabat bertanya: Engkau juga wahai Rasulullah? Rasulullah menjawab: ya, tetapi Allah menjagaku darinya dan aku selamat, maka ia tidak menyuruhku kecuali dengan kebaikan. Ibnu’Abbas berkata bahwa syetan bersemayam dihati manusi, maka apabila manusia lupa dan lalai ia menganggu (memberikan was-was) tetapi apabila ia berdzikir (ingat Allah) maka ia bersembunyi.

Allah menjelaskan bahwa syetan menganggu manusia dengan cara melemparkan perasaan khawatir keburukan dan kejahatan dalam hatinya. Hati adalah tempat was-was yang selalu menjadi target bagi syetan untuk menganggu manusia. Disebutkan kata as shudur (dada) karena di dalamnya ada hati, dan kekhawatiran tempatnya dihati sebagaimana yang telah kita ketahui, setiap kita menyebut dada kita faham bahwa yang dimaksud adalah hati.

Dua Macam Penganggu Manusia (6)

Pada ayat penutup, Allah menegaskan bahwa ada dua makhluk yang kerjanya senang membisikkan gangguan dalam hati manusia: Pertama, syetan dari jenis jin yang meniupkan bisikan-bisikan jahat kedalam hati manusia. Kedua, syetan dari jenis manusia sendiri. Misalnya seorang kawan yang menampakkan diri sebagai sang penasehat, kata-katanya manis dan manrik hati, tetapi di balikk itu ada makna yang menyesatkan. Secara sekilas nasehat-nasehatnya indah tetapi ketika diikuti ternyata kemudian mencelakakan, tidak saja di dunia melainkan juga di akhirat. Ini menunjukkan bahwa was-was bukan hanya dari jin saja tapi juga dari manusia.

Dalam ayat lain Allah juga menjelaskan: “Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu syaitan-syaitan (dari jenis) manusia dan (dari jenis) jin, sebahagian mereka membisikkan kepada sebahagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Tuhanmu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan” (QS. Al An’aam 6/112). Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author