Friday, August 1

Adh Dhuha (Waktu Dhuha)

amirfath.com, Tadabur Surah Adh Dhuha (93), Des 2020 – Allah membuka surat ini dengan sumpah wadh dhuha (demi waktu dhuha). Karenanya surat ini diberi nama Adh Dhuha. Yaitu waktu awal terbitnya matahari. Sebagai waktu yang sangat penting, karena darinya cahaya siang bermula. Sebagian ahli tafsir menangkap kesan bahwa ketika dalam surat Al Lail Allah menggambarkan tentang orang-orang bakhil, maka dimulai dengan sumpah wallail dan ketika dalam surat Adh Dhuha Allah menggambarkan tentang pribadi Rasulullah saw. Ia bersumpah wadh dhuha.

            Dan ketika di akhir surat Al Lail  Allah berjanji untuk memberikan ridhaNya kepada orang-orang yang bertakwa (al atqaa) di akhirat, maka pada surat ini Allah berjanji bahwa RasulNya juga akan diberi ridhaNya. Lebih kuat lagi korelasi surat ini dengan surat sebelumnya ketika pada surat Al Lail Allah menyebutkan bahwa orang-orang yang bertakwa akan dijauhkan dari api neraka (wasayujannabuhal atqaa) maka pada surat ini Allah menyebutkan sifat-sifat Rasulullah saw. sebagai teladan bagi orang-orang bertakwa.

            Diriwayatkan bahwa Imam Syaifi’ie melihat sebagai sunnah untuk mengucapkan takbir: “Allahu akbar, laailaaha illallahu wallahu akbar” setelah membaca surat Adh Dhuha, dan semua surat sesudahnya sampai An Naas. Para ulama qurra’ menerangkan mengapa disunnahkan takbiir: bahwa ketika turunnya wahyu terlambat, dan Rasulullah saw. cukup lama menunggu, lalu akhirnya datang malaikat membawa surat Adh Dhuha, karena itu disunnahkan bertakbir sebagai tanda kegembiraan. Imam Ibn Katsir mengatakan bahwa tidak ada pendapat yang menguatkan riwayat ini atau mendhaifkannya.

            Imam Hakim meriwayatkan dari Zaid bin Arqam bahwa selama beberapa hari Rasulullah saw. tidak menerima wahyu lagi. Lalu Ummu Jami istrinya Abu Lahab berkata: saya melihat syetanmu telah meninggalkanmu (tidak menurunkan wahyu lagi). Maka kemudian Allah turunkan surat Adh Dhuha.

Rahasia Sumpah Dengan Waktu Dhuha (1-3)

          Di pembukaan surat ini Allah bersumpah dengan waktu Dhuha sebagai permulaan waktu siang, lalu bersumpah dengan kebalikannya: waktu malam ketika tenang dan semua kegitan berhenti (wallaili idzaa sajaa). Kata sajaa artinya menutup seperti seorang yang menutup dirinya dengan dengan sehelai kain. Demikian juga suasana malam yang menutup waktu siang dengan gelapnya. Allah bersumpah dengan waktu yang sangat penting ini untuk menegaskan bahwa Ia tidak memutus wahyu. Bahwa Allah tidak murka dan tidak meninggalkannya sebagaimana dituduhkan orang-orang kafir. Juraij berkata: Wahyu terputus selama dua belas hari. Menurut Ibn Abbas: lima belas hari. Sebagian mengatakan dua puluh lima hari. Muqatil mengatakan empat puluh hari. Imam Ar Razi mengatakan: Hakikat ini menunjukkan bahwa Al Qur’an benar-benar dari Allah, bukan karangan Rasulullah saw. Sebab kalau memang karangan Rasulullah saw. maka tidak akan terputus.

Dua Kabar Gembira Dari Allah (4-5)

          Lalu Allah memberikan dua kabar gembira kepada Rasulullah saw.: Pertama, Allah akan menjadikan hidup Rasulullah di akhirat lebih baik dari pada hidupnya di dunia. Dan Ia berjanji untuk terus menambah kekuatannya dari hari ke hari sampai kelak menghadap Allah dan mendapatkan buah amalnya di akhirat jauh lebih baik dari apa yang ia dapatkan di dunia. Maka jangan kau mengira wahai Muhammad bahwa Aku meninggalkanmu. Aku akan terus mendukung perjalanan dakwahmu. Dan Aku akan terus mengangkat derajatmu. Jangan tertipu oleh dunia, karena kemegahan dunia tidak ada apa-apanya dibanding dengan kemegahan akhirat. Imam At Turmidzi meriwayatkan dari Ibn Mas’ud bahwa suatu hari Rasulullah tidur di atas sehelai tikar, sampai berbekas di pelipisnya, ketika bangun ia mengusap bekas tersebut. Melihat hal itu Ibn Mas’ud berkata: bagaimana kalau saya hampar di atasnya sehelai kain? Rasulullah menjawab: Sesunggungnya perumpamaanku dengan dunia seperti seorang dalam perjalanan, yang sejenak berteduh di bawah pohon, kemudian setelah itu ia pergi dan meninggalkannya.

            Kedua, Allah akan memberikan segala apa yang diharapkannya dan yang diridhainya di dunia; pertolongan dan kemenangan agamanya diatas agama-agama lainnya. Dan di akhirat; pahala, telaga surga dan bisa memberikan syafa’at bagi umatnya. Hal ini menunjukkan wujud ketinggian dan kemulyaannya di dunia dan akhirat.

Nikmat-nimat Allah Atas Rasulullah saw.(6-8)

          Allah telah mempersiapkan nikmat-nikmatNya sebelum mengutusnya menjadi seorang Rasul. Aku tidak meninggalkanmu sedikitpun bahkan pada sebelum Aku memilihmu menjadi seorang rasul, maka jangan kamu kira setelah kerasulanmu Aku meninggalkanmu?. Nikmat-nikmat itu: pertama, nikmat perlindungan.  Rasulullah saw terlahir dalam keadaan yatim, ditinggal ayahnya ketika ia masih dalam kandungan ibunya , kemudian ketika berumur enam tahun ibunya pun meninggalkannya. Maka Allah memberikannya tempat berlindung yaitu rumah kakeknya Abdul Mutthalib sampai kakeknya itu meninggal, kemudian pamannya Abu Thalib sampai masa awal kenabiannya.

            Kedua, nikmat hidayah. Allah berkata bahwa Aku temui dirimu dalam keadaan tidak mengetahui hukum-hukum syari’at dan bingung tidak mengetahui akidah yang paling benar?. Maka Allah memberikannya petunjuk ke jalan akidah dan syari’at yang benar. (lihat makna ayat yang serupa QS. As Syuraa 42/52).

            Ketiga, nikmat kecukupan. Sebelumnya beliau seorang yang sangat fakir, kemudian Allah memberikan kecukupan dengan harta Khadijah dan dengan keberkahan dan rasa qona’ah yang dikaruniakan Allah dalam dirinya.

Perintah Berakhlaq Mulia (9-11)     

          Allah memerintahkan Rasulullah beberapa akhlaq mulia sebagai tanda rasa syukur kepada Allah atas segala nikmatNya: (a). Jangan meremehkan dan menzalimi anak yatim. Tapi berilah haknya, perlakukan dengan baik, kasihilah ia dan ingatlah masa yatimmu dulu. Oleh karena itu Rasulullah saw selalu berbuat baik kepada anak yatim dan berpesan kepada umat untuk berbuat baik kepada anak-anak yatim, dan Rasulullah saw bersabda bahwa ia dan orang yang mengayomi anak yatim seperti dekatnya jari telunjuk dan jari tengah. (b). Jangan menghardik dan mencela orang-orang yang meminta-minta (pengemis). Tapi berilah sesuatu meskipun sedikit atau  jawablah dengan jawaban yang baik dan ingatlah masa miskinmu dulu. Karenanya Rasulullah saw senang bersedekah meski hanya dengan sepotong buah kurma. (c). Bersyukurlah kepada Allah atas segala nikmat yang diberikan dan ceritakanlah semua kenikmatan itu; nikmat kenabian dan risalah dan nikmat diturunkannya al Qur’an kepadanya.

Majlis Tafsir Al Hikmah     

                                                                        Dr. Amir Faishol Fath MA.

(باب القناعة)

 عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ليس الغنى عن كثرة العرض ولكن الغنى غنى النفس. (متفق عليه)

Rasulullah saw bersabda: kekayaan bukanlah karena banyaknya harta dan benda, tetapi kekayaan yang sebenarnya adalah kaya hati.

عن حكيم بن حزام رضي الله عنه قال: سألت رسول الله صلى الله عليه وسلم فأعطاني ثم سألته فأعطاني، ثم قال: يا حكيم إن هذا المال خضر و حلو ، فمن أخذه بسخاوة نفس بورك له فيه، ومن أخده بإشراف نفس لم يبارك له فيه، وكان كالذي يأكل ولا يشبع، واليد العليا خير من اليد السفلى. قال حكيم: فقلت: يار سول الله، والذي بعثك بالحق لا أرزأ أحد بعدك شيئا حتى أفارق الدنيا، فكان أبو بكر رضي الله عنه يدعو حكيما ليعطيه العطاء فأبي أن يقبل منه شيئا، ثم إن عمر رضي الله عنه دعاه ليعطيه فأبي أن يقبله ، فقال: يا معشر المسلمين، أشهدكم على حكيم إني أعرض عليه حقه الذي قسم الله له في هذا الفيئ فيأبى أن يأخذه، فلم يرزأ حكيم أحدا من الناس بعد النبي صلى الله عليه وسلم حتى توفي. (متفق عليه).

Hakim bin hizam berkata: aku minta kepada Rasulullah dan ia memberiku, kemudian aku minta lagi dan diberi, kemudian aku minta dan diberi lagi sambil berkata: hai hakim harta ini memang manis dan indah, maka siapa yang mengambilnya dengan kelapangan hati niscaya ia diberi keberkahan didalamnya. Dan siapa yang mengambilnya dengan kerakusan niscaya tidak ada keberkahan didalamnya. Bagaikan orang yang makan tidak kunjung kenyang. Dan tangan yang diatas lebih baik dari tangan yang dibawah. Hakim berkata: ya Rasulullah, demi Allah yang mengutusmu dengan hak, saya tidak akan menerima apapun dari seseorang sepeninggalmu hingga aku berpisah dari dunia ini. Kemudian pada masa khalifah Abu Bakar, ia dipanggil untuk diberikan sesuatu, tapi ia menolaknya. Kemudian pada masa Umar ra, ia dipanggil untuk diberikan sesuatu tapi ia tidak menerimanya, dan umar berkata: hai kaum muslimin aku mempersaksikan kepada kamu semua, bahwa aku telah memberi kepada Hakim bagiannya dari fa’I tetapi ia menolaknya. Maka tetap Hakim tidak mau menerima dari seorangpun sesudah Rasulullah hingga meninggal dunia.

عن حكيم بن حزام رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم: اليد العليا خير من اليد السفلى ، وابدأ بمن تعول وخير الصدقة ماكان عن ظهر غنى ، ومن يستعفف يعفه الله، ومن يستغن يغنه الله. (متفق عليه)

Rasulullah saw bersabda: tangan yang diatas lebih baik dari pada tangan yang dibawah, dan utamakan sedekah kepada orang-orang yang berada dalam tanggung jawabmu. Sebaik-baik sedekah yang masih meninggalkan kekayaan, dan siapa yang sopan dan segan (menjaga kesucian) Allah akan memelihara kesopanan dan keseganannya. Dan siapa yang merasa cukup dengan yang ada, Allah akan mencukupinya.

عن ابن عمر رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم قال: قد أفلح من أسلم ورزق كفافا وقنعه الله بما آتاه ( رواه مسلم)

Rasulullah saw bersabda: sungguh beruntung orang yang masuk Islam dan rizkinya cukup, dan merasa cukup dengan apa yang diberikan Allah kepadanya.

About Post Author