Thursday, July 17

Al Ikhlash (Memurnikan Tauhid Kepada Allah)

amirfath.com, Tadabur Surah Al Ikhlash (112), Des 2020 – Surat ini mempunyai beberapa nama: (a) Diberi nama al Ikhlas karena isi surat ini sepenuhnya menegaskan kemurnian kemurnian tauhid kepada Allah swt. dan membesakan seseorang dari penghamabaan terhadap selain Allah (b) Diberi nama surat at tajrid atau at tauhid karena siapa yang membaca dan mengamalkannya ia akan semata menjadi hamba Allah (baca: wali Allah). (c) Diberi nama surat al asas karena isinya mencakup semua pokok-pokok agama.

Korelasi dengan surat sebelumnya; dalam surat al lahab mengisyaratkan bahwa kemusyrikan itu tidak dapat dipertahankan dan tidak akan menang walaupun pendukung-pendukungnya banyak dan bekerja keras, adapun dalam surat alikhlas menegaskan pentingnya bertauhid secara murni tanpa sedikitpun dicampur aduk dengan kemusyrikan.

Keutamaan surat; banyak riwayat yang menceritakan tentang keutamaan surat ini diantaranya; dari Abi Sa’id al Khudri, bahwa seseorang pernah mendengar seseorang membaca ” qul huwallahu ahad” berulang-ulang sampai pagi, lalu orang yang mendengarnya datang ke Rasulullah saw dan menceritakan hal tersebut kepadanya. Rasulullah saw bersabda: demi jiwaku yang berada ditanganNya, sungguh ia (baca: surat Al Ihklash) sebanding dengan sepertiga al Qur’an.

Sebab turunnya surat; Imam Ahmad meriwayatkan dari Ubay bin ka’ab bahwa orang-orang musyrik  berkata kepada Rasulullah: wahai Muhamad beritahu nasab (silsilah keturunan) Tuhanmu! Allah lalu menurunkan surat ini.

Keesan Allah swt. (1)

Allah memerintahkan RasulNya untuk mengatakan kepada orang-orang musyrik yang menanyakan tentang sifat dan nasabNya: qul (katakan) hai Muhamad kepada mereka bahwa Allah Esa, tidak ada sekutu bagiNya dan tidak ada yang menyerupaiNya. Dialah Allah pencipta langit dan bumi dan pencipta semua mahluk di alam semesta. Dialah yang maha Esa dalam ke-TuhananNya, tiada daya dan uapaya kecuali dariNya.

Kata ahad lebih kuat dari pada kata wahid, sebab dalam kata ahad terkandung pengertian bahwa Allah bukan hanya Esa, tetapi juga tidak ada sekutu bagiNya dan tidak ada yang menyerupaiNya. Maka dialah Allah Sang Pencipta, SelainNya hanya mahluk. Dialah Allah yang Ada, tanpa awal dan tanpa akhir. SelainNya ada karena diadakan, dan akan berakhir sesuai dengan ketentuanNya.

Allah Tempat Bergantung(2)

Ash shamad artinya tempat bergantung. Segala wujud di alam semesta butuh kepadaNya. Semua makhluk pasti kembali kepadaNya. Tidak ada mahluk yang bisa independen dariNya. Apapun kehebatan ilmu pengetahuan dan kecanggihan tehnologi yang dicapainya, ia tak lebih dari keruaniaNya. Akidah ini menolak keyakinan orang-orang musyrik tentang adanya perantara untuk meminta kepada Allah.

Semua urusan di muka bumi tidak akan terjadi tanpa izinNya. Dialah satu-satuNya tempat segala pengaduan hajat manusia, dan hanya dariNyalah hajat manusia akan terpenuhi. Tidak ada kekuatan manusia yang bisa menjamin tercapainya segala keinginan dan cita-cita. Banyak rencana manusia yang gagal. Banyak keinginan manusia yang tidak tercapai. Sebab hanya karena izinNyalah manusia bisa meraih apa dikehendakinya.

Allah Tidak Beranak dan Tidak Diperanakkan(3)

Dialah Allah Yang Maha sempurna, tidak mungkin sama sekali disamakan dengan sifat-sifat manusia yang serba kekurangan. Bila manusia melahirkan dan di lahirkan, Allah tidak demikian. Allah jauh dari sifat-sifat seperti ini. Allah tidak melahirkan anak dan tidak pula dilahirkan, sebab Dia ada tanpa awal (baca: qadiim) dan tanpa akhir (baca: baaqin). Tidak ada sesuatu apapun yang menyerupai sifat-sifatNya.

Kalimat partama lam yalid menolak keyakinan adanya anak bagi Allah seperti yang dikatakan orang-orang musyrik bahwa malaikat adalah anak Allah. Orang-orang Yahudi mengatakan bahwa ‘Uzair anak Allah, sementara orang-orang Nashrani (Kristen) mengatakan bahwa Isa anak Allah. Ini semua bertentangan dengan sifat kesempurnaan Allah. Sebab melahirkan atau dilahirkan adalah salah satu sifat katerbatasan dan penuh kekuarangan. Adapun kalimat kedua wa lam yulad menolak keyakinan adanya orang tua bagi Allah. hal ini mustahil bagi Allah karena Dialah Dzat yang Qadim (tidak ada awal bagiNya).

Allah Tidak Ada Yang MenyerupaiNya(4)

Diakhir surat ini, Allah menegaskan kemaha kuasaanNya: bahwa tidak ada yang menyerupai wujudNya, tidak ada yang bisa mencapai kehebatan seperti kehebatanNya, tidak yang bisa mencapai setara dengan kekuatanNya. Sebab hanya Dialah yang maha kuat dan kuasa. Dialah Raja segala raja. Manusia tidak punya kekuasaan apa-apa kecuali apa yang ia berikan kepadanya. Ilmu manusia apapun dahsyatnyam itu karena pemberianNya.

Hakikat ini menghapus adanya teman bagi Allah dan menolak akidah orang-orang musyrik yang mengatakan bahwa Allah mempunyai teman dalam setiap perbuatanNya. Jadi patung-patung yang mereka sembah bukan teman Allah sebagaimana mereka yakini.

*   *   *

Makna yang terkandung dalam surat ini banyak ditegaskan Allah dalam ayat-ayat lain dalam al Qur’an seperti: (QS. Al an ‘Aam 6/101) (QS. Maryam 19/92-95) (QS. Al Anbiya 21/26-27). Rasulullah juga menguatkan makna yang sama dalam berbagai sabdanya di antaranya: la ahada ashbaro ‘ala adza samiahu  minallah innahum yaj’aluna lahu walada wa huwa yarzuquhum wa yu’afihim (tidak seorangpun sabar ketika disakiti pendengarannya tentang Allah: mereka menjadikan anak bagi Allah sedangkan Dialah yang memberikan mereka rizki dan menyembuhkan mereka) (HR. Bukhari). Abu Hurairah meriwayatkan bahwa Rasulullah saw bersabda: “Allah swt berfirman; anak Adam telah mendustakanKu, seharusnya ia tidak berbuat demikian, ia telah mencelaKu seharusnya tidak berbuat demikian. Adapun pendustaannya kepadaKu adalah perkataannya: “Dia sekali-kali tidak akan mengembalikanku sebagaimana semula, padahal menciptakan dari tiada jauh lebih sulit daripada mengembalikannya” adapun celaannya kepadaku adalah perkataannya ” Allah mempunyai anak” padahal Aku maha Esa, tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada satupun yang menyerupaiKu” (HR. Bukhari).

About Post Author