Friday, July 18

‘ABASA ( Ia bermuka masam)

amirfath.com, Tadabur Surah ‘Abasa (80), Des 2020 – Surat ‘Abasa termasuk dari surat-surat Makkiyah (diturunkan di Makkah), kandungan utamanya mengenai akidah: keagungan Al Qur’an dan dahsyatnya Hari Kiamat. Diberi nama Abasa, karena dibuka dengan kata abasa, yang mengkisahkan sifat manusia yang seringkali bermuka masam terhadap sesuatu yang datang secara tiba-tiba ketika ia sedang sibuk dengan permasalahan yang sangat penting.

Kaitan surat ini dengan surat sebelumnya (An Nazi’aat) nampak bahwa pada surat sebelumnya terdapat cerita mengenai Rasulullah SAW sebagai seorang pemberi peringatan pada manusia akan dahsyatnya hari kiamat, dan dalam surat ini mengandung penjelasan tentang Agungnya Al Qur’an yang merekam berita mengenai Hari Kiamat tersebut.

Kemulyaan Hamba Allah (1-10)

Pembukaan surat menekankan makna persamaan derajat manusia, dengan kisah seorang shahabat yang buta: Abdullah bin Ummi maktum, yang datang kepada Rasulullah untuk minta diajarkan ilmu. Pada saat itu Rasulullah sedang sibuk bersama dengan para permuka Quraisy (mengajak mereka ke jalan Islam). Ibnu Ummi Maktum mengulang-ngulang permintaannya itu, karena ia tidak tahu kalau Rasulullah sedang sibuk. Menghadapi hal tersebut Rasulullah tidak suka, seketika bermuka masam dan berpaling darinya. Akhirnya turunlah ayat ini, menegur sikap Rasulullah tersebut. Demikianlah Allah memerintahkan Rasulullah untuk tidak membedakan satu dengan yang lain dalam memberikan ilmu, bahkan harus memberikan hak yang sama antara yang kuat dan yang lemah, yang kaya dan miskin, pembesar dan hamba sahaya, laki-laki dan perempuan, kecil dan dewasa. Adapun hidayah itu urusan Allah. Karenanya jangan tertipu oleh kedudukan dan kemegahan harta. Artinya sekalipun secara derajat sosial orang-orang kafir tesebut nampak sangat penting, tetapi ia belum tentu ikut ajarannya. Adapun Ibn Ummi Maktum sekalipun miskin dan buta, ia sudah jelas mendapatkan hidayah dan sedang berjuang untuk menambah ilmu. Maka utamakanlah yang lebih jelas sebagai seorang mukmin sekalipun buta dan miskin, dari pada orang kafir yang belum jelas masuk Islam sekalipun kaya.

Keagungan Al Qur’an (11-23)

Allah menjelaskan keagungan Al Qur’an yang dibawa oleh Muhammad. Bahwa ia dijaga oleh malaikat yang mulia di tempat yang sangat tinggi dan tersucikan. Maka seorang yang menyampaikannya harus mempunyai rasa izzah. Tidak merasa rendah. Biarpun ia miskin, tidak boleh minder. Karenanya Allah melaknat manusia yang tidak mau menerima peringatan Al Qur’an. Bahkan Allah murka dengan tindak kesombongannya tersebut. Bukankah ia diciptakan dari setetes air mani? Masa’ mahluk yang asalnya sangat hina, setelah dimulyakan jadi manusia, malah lupa kepada asal ciptaannya, bertindak sombong dan mengabaikan ajaran Penciptanya? Masa’ mahluk yang tadinya mati lalu dihidupkan, pantas menandingi Allah Sang Pemberi kehidupan? Sungguh manusia sering tertipu dan celaka. Sehingga ia tidak mau mentaati Allah, dengan mengikuti ajakan hawa nafsunya. Maka sungguh kelak ia akan dibangkitkan dan harus mempertanggungjawabkan sekecil apapun yang ia lakukan selama hidupnya di dunia.

Nikmat-nikmat Allah kepada Manusia (24-32)

Allah menyebutkan nikmat-nikmatNya yang demikian banyak tak terhingga diberikan kepada manusia. Nikmat-nikmat tersebut sangat dekat dengan manusia. Pandanglah apa yang kamu makan setiap saat, siapakah yang menyediakan itu semua? Siapakah yang menurunkan air hujan dan memancarkan mata air dari bumi? Siapakah yang memecahkan bumi, dengannya tumbuh pohon-pohonan? Siapakah yang mendatangkan buah-buahan? Adakah kau mampu dengan kecanggihan tekhnologimu menciptakan buah-buahan? Tentu tidak? Lalu mengapa kau sombong? Tidak mau mengikuti ajaran Allah? Apa alasanmu sehingga kamu menjauh dari Allah? Apakah nikmat-nikmat tersebut Allah berikan untuk kau gunakan melawan ajaranNya? Pantaskah kau melawan Allah sementara setiap saat kau menggunakan nikmat-nikmat Allah? Kalau kau mau sombong tunjukkan sekalian kesombonganmu dengan tidak mengambil nikmat-nikmat Allah tersebut. Tetapi kalau ternyata kau masih tergantung pada nikmat-nikmat Allah tersebut, berarti itu suatu tindak kedzaliman yang sangat kejam.

Dahsyatnya Hari Kiamat (33-43)   

Allah menutup surat ini dengan menggambarkan kedahsyatan hari Kiamat, bagaimana manusia berlari tunggang langgang meninggalkan orang-orang yang dicintainya selama di dunia karena saking takutnya, Saudara kandung ia tinggalkan. Bahkan ayah ibu yang sangat ia mulyakan juga tidak sanggup membantunya. Bahkan istri dan anak yang sangat ia cintai juga tidak akan sempat ia menolongnya. Suatu gambaran yang benar-benar menampakan ketegangan jiwa yang luar biasa. Orang-orang mukmin pada waktu itu wajahnya berseri, senyum dan bahagia. Sementara orang-orang kafir mukanya berdebu dan kotor. Akibat dosa-dosa yang dilakukan  selama di dunia.

Dr. Amir Faishol Fath MA.

About Post Author