Membangun Rasa Takut Kepada Allah
amirfath.com, Opini (24), Des 2020 – Di antara kata yang sering diulang-ulang dalam Al Quran adalah “al khasy-yah” (takut kepada Allah). Dalam surah An Naziat saja kita mendapatkan tiga kali pengulangan kata takut kepada Allah swt. Pertama, ketika Allah perintahkan nabi Musa as. agar berdakwah kepada Fir’aun, Nabi Musa diberi panduan agar mengajak Fir’aun sampai ia takut kepada Allah swt. Allah berfirman kepada Nabi Musa as : “idzhab ilaa fir’auna innahuu thagha, faqul hallaka ilaa an tazakkaa, wa ahdiyaka ilaa rabbika fa takhsya” (“Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”. Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (QS. An Nazi’at : 17-19).
Kedua, setelah Allah menceritakan kisah Fir’aun dengan kesombongannya. Di mana Fir’aun telah mencapia level kesombongan paling puncak, tidak ada yang lebih tinggi lagi. Sebab iblispun belum mencapai level tersebut. Yaitu mengaku Tuhan. Allah swt. merekam deklarasi ketuhanan Fir’aun ketika berkata : “ana rabbukumul a’laa” (aku tuhanmu yang paling tinggi) (QS. An Nazi’at : 24). Pada saat deklarasi ini Iblispun kaget sehingga sempat ingin taubat karena sudah ada yang melebihi level kesombongannya. Seperti dikisahkan As Samarqandi dalam kitabnya Tanbihul Ghafiin. Tetapi sayangnya tidak jadi taubat. Karena dalam diri Iblis masih ada kesombongan. Dalam penutupan cerita Fir’aun ini Allah swt. menutup dengan firmanNya : “inna fii dzaalika la’ibratan limay yakhsyaa” (Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang yang takut (kepada Tuhannya) (QS. An Naziat : 26). Di sini lagi-lagi Allah swt. mengulang kata “khasyyah – yakhsya”. Bahwa kebejatan Fir’un hanya bisa menjadi pelajaran bagi mereka takut kepada Allah swt. Adapun yang tidak takut kepada Allah swt. akan tetap mengulangi kebejatannya.
Ketiga, pada saat menggambarkan jalan ke surga. Di mana Allah swt. menyebutkan dua jalan : satu, takut kepada Allah, satunya lagi, kendalikan nafsu. Allah swt. berfirman : “wa ammaa man khaafa maqaama rabbihii wa nahann nafsa ‘anil hawaa fainnal jannata hiyal ma’waa” (Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya). (QS. An Nazi’at : 40-41). Dalam ayat ini Allah swt. tidak menggunakan kata “khasyyah” tetapi kata “khaafa”, namun artinya sama yaitu takut kepada Allah swt.
Dari penjelasan di atas kita mendapatkan pelajaran betapa pentingnya kata “takut” ini, sehingga diulang tiga kali dalam satu surah. Ada apa dengan kata “takut”? Pertama, bahwa denganh rasa takut seseorang akan bekerja keras. Perhatikan bagaimana mereka berangkat dini hari ke pasar, ke kantor dan bahkan ada yang sudah keluar rumahnya sejak jam dua malam agar supaya tidak terlambat ke kantor atau ke Pasar. Alasannya takut terlambat. Lihatlah di bandara anda akan menemukan mereka yang harus take off jam empat pagi ke laur negeri, ia akan siap siap standby sejak jam dua malam. Mengapa? Takut ketinggalan pesawat. Inilah kekuatan rasa takut yang luar biasa. Bisa membaut seseorang bekerja keras dengan tenaga ekstra.
Namun pertanyaannya, benarkah kita telah bekerja untuk Allah selevel takut dalam urusan dunia tersebut. Benarkah kita bangun di tengah malam karena takut ketinggalan shalat tahajjud atau shalat subuh berjamaah di masjid. Dulu para sahabat bangun di tengah malam sampai tidak sempat tidur karena takut tidak kebagian shalat tahajjud. Kejadian ini direkam dalam surah As sajdah: 16. Allah swt. berfirman : “Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa apa rezeki yang Kami berikan”. Inilah yang membuat mereka berhasil sebagai generasi terbaik sepanjang sejarah. Sehingga mereka berhasil memimpin seperempat dunia, termasuk di bawah kepemimpinan mereka dua kerajan besar : Persia dan Romawi. Dan pada saat itu mereka telah membuat seluruh rakyatnya cukup tidak ada satupun yang membutuhkan zakat. Padahal mereka tidak punya HP, laptop, Komputer, kendaraan canggih seperti sekarang dan lain sebagainya. Inilah yang kita sebut dengan keberkahan. Mereka berkah karena mereka jujur takut kepada Allah. Maka Allah sirami hidup mereka dengan keberkahan dari langit dan bumi (lihat QS. Al A’raf: 96).