Hujan
amirfath.com, Cerpen (09), Des 2020 – Kembalinya saya dari pasar, saya dan istri di terkena hujan. Baju saya basah sekali. Untungnya istri saya membawa payung. Jadi ia tidak begitu basah seperti saya. Tapi di pasar orang-orang masih ramai. Padahal hujan deras. Mereka seakan sudah terbiasa dengan suasana semacam itu. Sementara di gang-gang yang kami lewati, jalanan sepi. Rumah-rumah sunyi. Seperti rumah-rumah tua. Kami terus menyelusuri celah perkampungan yang becek. Saya melihat istri saya nempaknya sudah kecapean berjalan.
“ Mama, “kata saya, “ mama capek ya ? “
“ Ah, biasa pa, “ katanya sambil menahan tenaganya yang sudah hampir habis.
“ Mama sabar ya, papa masih belum mampu membeli kendaraan yang bisa melindungi mama dari hujan. “
“ Ah, mama biasa saja pa. Mama tidak terlalu tergiur dengan kekayaan orang-orang. Ya, bagi mama, apa yang Allah takdirkan, itulah yang terbaik. Mama tidak akan sedikitpun mengeluh. Karena mengeluh terhadap takdir Allah berarti kurang percaya terhadap ketentuannya. Dan itu adalah sikap yang membahayakan keimanan kita.
“ Wah asyik juga nih ma obrolan kita. “
Lami terus menyelusup di sekitar perumahan, sambil membawa barang-barang yang baru saja kami beli dari pasar. Sesekali mobil lewat. Rodanya menyemprotkan air kearah kami. Kami segera menghindar. Kadang-kadang memang ada di antara pengemudi mobil yang melaju seenaknya. Ia nampaknya tidak berpikir lagi bahwa disekitarnya ada yang berjalan kaki. Ia nampaknya lupa daratan. Baru saja punya mobil, ia sudah merasa bukan mahkluk bumi. Ia sudah merasa bahwa di dunia hanya dia mahkluk satu-satunya. Dia lupa bahwa memang ada orang yang tertakdirkan miskin. Dia lupa bahwa sebenarnya apa yang ia miliki semata titipan dari Allah yang harus ia gunakan sesuai dengan kadarnya.
“ Mama basah ya ? “ tanya saya.
“ Enggak pa. “ jawabnya.
“ Barusan, waktu mobil lewat, tidak kecipratan air? “
“ Sedikit saja pa. “
“ Bagaimana perasaan mama ? “
“ Ah, itu biasa. Memangnya semua orang dunia baik pa. kan enggak. Ada yang baik, ada yang tidak. Ya, kita hadapi semuanya itu dengan lapang dada. “
“ Ya itu jelas ma. Tapi yang papa ingin tahu, mungkin mama merasa kurang bahagia dengan papa. Karena papa tidak bisa memenuhi segala fasilitas yang harus kita miliki.”
“ Fasilitas aapn itu pa ? Papa kan sudah mengasih mama nafkah, mengasih mama rumah. Itu sudah cukup pa. “
“ Ya, maksud papa, kendaraan seperti mobil dan lain sebagainya.”
Papa sudah bekerja, itu bisa pikirkan. Ya, kalau Allah memberi kita kemampuan, kita beli apa yang bisa kita beli. Begitu kan pa. “
“ Jadi mama tidak merasa kecewa dengan penampilan yang sederhana seperti ini.
“ Ngapain kecewa. Mending kita menyelesaikan pekerjaan yang sudah jelas-jelas kewajiban kita.”
Saya di hati bahagia sekali. Mendengar jawaban yang cukup dewasa dari istri saya. Sekarang Alhamdulillah saya tidak lagi terbebani pikiran-pikiran yang sebenarnya tidak ada gunanya itu. Dulunya saya selalu merasa tidak enak, setiap kali saya pulang ke rumah atau setiap kali saya mengajak istri jalan-jalan dengan menggunakan kendaraan umum. Saya khawatir kalau-kalau istri saya senantiasa memandang negatif kepada saya. Lebih-lebih ketika tetangga saya dan kawan-kawan saya yang lain pada mempunyai sepeda motor. Saya sedikit agak minder. Di depan istri saya, saya sering kurang percaya diri. Namun kini sudah jelas persoalannya. Bahwa ternyata istri bukan model wanita yang suka mengunjing. Bukan model wanita yang suka membicarakan kekayaan orang lain. Dia sunggu jauh di luar bayangan saya. Dia ternyata penyabar. Kaibuan. Dan sederhana. Buktinya sekarang ini. Saya mencoba mengujinya dengan berjalan kaki dari pasar ke rumah. Padahal agak jauh. Hujan-hujan lagi. Tapi tidak sedikit pun saya melihat perubahan di wajahnya. Ia tenang saja.
“ Mama, “ kata saya, “ Sekarang kita sudah sampai ma. “
“ Loh iya, ya pa. kok enggak terasa ya. “ katanya.
“ Ah, mama pura-pura ya ?”
“ Pura-pura lagi mana pa ? “
“ Ya, kalau mma kecapean, bilang dong kecapean. Nanti papa urut. Papa kan bisa ngurut ma.”
“ Wah, itu boleh juga pa. “
“ Ya begitu dong ma. Mama harus terus terang kepada papa. Jangan di simpen-simpen. Sebab kalau di simpen-simpen nanti meledak ma. Dan itu berbahaya sekali ma. “
“ Ya deh mama akan terus terang dalam apa saja. Kira-kira papa siap enggak ? “
“ Jelas dong ma. Masak papa engga siap. Kalau papa enggak siap, papa enggak bertanggung jawab dong. “
Kami segera masuk rumah. Dan di luar hujan masih saja turun. Membawa rahmat bagi siapa saja. Dan menyebarkan suasana pengantin baru bagi saya dan istri