Friday, August 22

Hostel

amirfath.com, Cerpen (08), Des 2020 – Entah tiba-tiba suatu hari istri saya mengatakan bahwa ia ingin mencoba bermalam di hostel barunya itu. Saya tantang saja sekalian.

            “ Silahkan, “ kata saya sambil bergurau, “ papa yakin mama tidak bias akan tidur di sana “

            “ Ya deh, mama buktikan “ katanya dengan penuh semangat.

            Siang itu istri saya berangkat ke sana. Sementara saya di rumah benging saja sendirian. Saya waktu itu benar-benar merasa bagaimana menderitanya ditinggal istri, sekalipun hanya sementara. Saya terus terang saja, tidak bias ngapa-ngapain di rumah. Membaca buku tidak bias konsterntrasi. Pikiran ke sana kemari tidak menentu arahnya. Mau masak di dapur juga tidak semangat . Akhirnya saya kelaparan. Perasaan lapar ini kemudian malah membuat saya semakin tidak bias berbuat apa-apa. Kepala saya pusing. Tidur tidak bias. Mau jalan-jalan capek.

            Saya kemudian berpikir, bahwa istri saya di hostel baru itu mungkin juga seperti saya. Ia mungkin juga tidak bias tidur. Ia mungkin juga tidak bias belajar. Tapi ini hanya bayangan. Saya berdo’a semoga istri saya bias tenang di sana. Karena besok pagi ia harus memasuki ujian “Mid Term”. Saya berharap agar ujiannya besok, bias di jalani dengan baik.

            Keesokan harinya saya menunggu di rumah. Sambil membaca buku saya kadang terbawa oleh harapan agar istri saya segera kembali. Saya hampir bias dikatakan tidak sabar lagi menunggu. Seketika terdetik pikiran, “ Ini baru semalam, bagaimana kalau seminggu, sebulan, atau setahun? “ Di sini saya teringat firman Allah yang menegaskan betapa agungnya Engkau ya Allah. Dan seandainya di dunia ini hanya satu jenis wujud yang ada, saya yakin manusia akan kebingungan. Saya juga tidak bias membayangkan bagaimana seandainya malam saja yang ada atau siang saja. Sungguh manusia akan bosan. Namun ketika siang dan malam datang silih berganti saya selalu menemukan hal yang baru dalam perasaan saya. Dan perasaan baru ini senantiasa muncul bersamaan dengan datangnya suasana baru. Seperti umpamanya saya datang beberapa di waktu malam, saya saat itu sering merindukan datangnya siang. Begitu juga sebaliknya. Nah ini sama halnya dengan kasus antara saya dengan istri saya.

            Belum saja saya melengkapi pikiran yang melantur itu, tiba-tiba saya mendengar suara memanggil dari jauh.

            “ Papa, Assalamu’alaikum ! “

            Saya segera membuka pintu. Karena saya yakin bahwa itu suara istri saya.

            “ Apa kabar mama ? “ saya menyambut dengan riang.

            “ Papa, semalaman mam tidak bias tidur. Mama juga tidak bias belajar.”

            “ Kenapa ma ? “

            “ Nggak tahu. “

            “ Lho ! enggak tahu gimana ? “

            “ Ya, enggak tahu kenapa mama tidak bias tidur. “

            “ Ingat papa kali ya ?”

            “ Nggak tahu. “

            “ Ayo dong, katakana terus terang, kalau memang ingat papa “

            Istri saya terdiam saja. Wajahnya pucat. Ia memang agaknya kecapean. Saya segera membawanya ke tempat peristirahatan.

            “ Mama harus istirahat, “ kata saya, “ Mama tidak boleh ngapa-ngapain. Nanti kalau mama sudah segar, papa ajak jalan-jalan. “

            Sore harinya, selesai istirahat, istri saya menceritakan segala sesuatunya yang terjadi. Kesimpulannya adalah bahwa ia tidak bias tidur karena ia selalu ingat saya. Ia memikirkan jangan-jangan saya tidak bias makan. Ia membayangkan jangan-jangan saya tidak bias tidur. Bayangan ini katanya, selalu muncul. Setiap saat. Terutama ketika ia hendak tidur, atau ketika ia hendak belajar. Dan ia tidak bias menghindari dari serbuan bayangan seperti ini. Karena ia sudah tahu betul keadannya saya. Bahwa saya belum bias sepenuhnya mandiri dalam menangani tugas-tugas dapur dan rumah. Sebab ia tahu bahwa selalu sibuk dengan urusan-urusan social yang tak pernah putus.

            “ Nah benar kan perkiraan papa “ Saya segera mengakhiri ceritanya, “ Itu memang sunnatullah ma. Kita tidak bisa sama sekali mengelabuhi sunnatullah ini. Kita harus berjalan di atasnya sesuai dengan garis-garis yang telah ditentukan. Artinya, ketika kita telah menjalani sebuah proses yang disebut perkawinan, saat itu yang kawin bukan hanya fisik kita. Melainkan keseluruhan dari orname yang kita miliki juga turut melaksanakan perkawinan. Hati kita kawin. Pun pikiran kita kawin. Jadi sejak itu kita tidak bisa lantas mau berpikir sendiri atau mengurus dirinya sendiri terlepas dari urusan antara kita berdua. Sebab keseluruhan diri kita telah menyatu. Menjadi suatu keutuhan yang tak terpisahkan. Dan kita tidak mungkin mengingkari kenyataan ini. Dengan demikian, kita harus selalu bersama. Kapan saja dan dimanapun berada. Ini saja masih belum cukup. Kita juga harus terus bersama dalam hal-hal yang bersifat spiritual. Yaitu dalam bagaimana menjalani hidup juga dalam tujuan yang harus dicapai. Nah dalam konteks ini, papa melihat bahwa hostel baru itu bukan alternative bagi mam. “

            Istri saya tersenyum.

About Post Author