Kejedot
amirfath.com, Cerpen (01), Des 2020 – Istri saya kakinya kejedot buku. Jempolnya tersa sakit. Ia langsung marah-marah ke saya. Karena saya yang meletakan buku itu di depan pintu. Saya pertama kali tak terlalu serius menanggapi sikapnya. Perkiraan saya, ia hanya gurau. Tapi lama-lama kelihatan bahwa ia marah sungguhan. Saya sejenak diam. Sambal menertibkan buku-buku yang belum rapi. Sementara istri saya, sekalipun marah, ia tetap saja masak di dapur. Namun setiap ia masuk kamar, saya melihat wajahnya selalu muram. Saya senyum saja. Karena anggapan saya ia masih pura-pura.
Saya waktu itu, tak sedikit pun tersinggung dengan sikap istri saya. Sebab biasanya ia tidak pernah marah. Atau katakanlah jarang sampai ketingkat saya pingin sekali menerima kemarahannya. Tapi entah kali ini, kok rupanya ia betul-betul ngambek.
“ Mama, “ saya merayunya, sambal mengusap-usap jempolnya yang kejedot, “ ada apa mama? “
Ia tidak menjawab. Namun ia malah menangis. Seketika ia mencoba menahan air matanya. Tapi masih saja tangisan itu tak tertahankan. Setiap air mata itu menetes, ia segera mengusapnya. Nafasnya tersendat-sendat. Seakan mengekspresikan kemarahan yang sulit diungkapkan.
“ Mama kok nangis, “ saya segera memeluknya dan mengusapnya keningnya yang basah, “ Mama marah sama papa ya? “
Ia tetap tidak mau menjawab. Ia hanya memberi isyarat, agar nasi yang telah disiapkan untuk makan malam segera di makan. Saya tidak menggapai isyaratnya itu.
Saya berkata “ Kalau mama masih marah, papa tidak mau makan. “
“ Enggak mama tidak marah. “ katanya. Tapi masih saja menangis.
“ Kalau mama enggak marah, ayo dong jangan menangis. “
“ Habis gimana pa, mama tidak tahu mengapa mama menangis. “
“ Ah, masak ma. Mama menangis tidak ada sebabnya. “
“ Iya, amma tidak tahu sebabnya. “