Nabi Nuh dan At Tadzawwuq Ad Da’awi
amirfath.com, Sirah (01), Nov 2020 – Nuh berkata: “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat. Kemudian sesungguhnya aku telah menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terangan-terangan. Kemudian sesungguhnya aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam. Maka aku katakan kepada mereka: Mohonlah ampun kepada Tuhamu, sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun.
(QS. Nuh, 71: 5-10)
Salah satu gambaran dari at tadzawwuq ad daawi Allah pernah tunjukkan dalam pribadi Nuh, seperti yang tergambar dalam ayat di atas:
1.Berdakwah Malam dan Siang
Nabi Nuh berkata: “Ya Tuhanku sesungguhnya aku telah menyeru kaum ku malam dan siang”. Kata “malam dan siang” menunjukkan bahwa Nabi Nuh benar-benar berjuang di jalan dakwah terus menerus, tidak kenal lelah. Malam dan siang baginya bukan batasan waktu, melainkan hanyalah pergantian hari, dimana ia didalamnya terus berdakwah. Pernyataan tersebut bukan sekedar basa-basi, seperti yang diucapkan banyak orang, tetapi benar-benar mewakili kenyataan yang sebenarnya. Bahwa Nabi Nuh tidak mungkin berbohong. Sebab kalau ia berbohong Allah pasti membantah pernyataannya. Dalam ayat di atas tidak bakti atau membantahnya. Itu menunjukkan bahwa Nabi Nuh benar-benar berdakwah malam dan siang tidak kenal lelah.
Dakwah memang tidak kenal batasan waktu. Siapa yang mengaku kenal batasan waktu. Siapa yang mengaku diri sebagai aktifis dakwah, hendaknya mengerti hakikat ini. Jika tidak dakwah hanya akan menjadi slogan yang diteriakkan dimana-mana. Syeikh Fathy Yakan dalam bukunya al isti’aab fii hayatid da’wah wad daa’iyah, h.28, pernah menggambarkan sikap seorang da’i yang tidak menjiwai makna ini: “Saya tahu sebagian aktifis dakwah tidak mau menerima tamu kecuali setelah membuat perjanjian sebelumnya. Jika ada yang datang menemuinya tanpa ada perjanjian sebelumnya, ia menolaknya, atau menyuruh keluarganya agar bilang tidak ada, padahal ia ada. Bisa anda bayangkan apa yang akan terjadi jika semua aktifis dakwah bertindak demikian. Saya juga tahu sebagian yang lain mematikan telponnya saat tidur siang, ia tidak mau pusing dengan apa yang terjadi. Sebagian yang lain tidak mau menerima sama sekali orang-orang yang dianggap bermasalah dan mencapekkan. Boleh jadi alasan mereka bisa diterima sedikit atau banyak. Tetapi yang pasti mereka telah gagal dalam berdakwah dan masyarakat akan menjauh dari mereka”.
Benar, mereka telah gagal, karena mereka tidak mengerti tabiat dakwah. Mereka megira bahwa jalan dakwah jalan bersenang-senang. Dan kisah Nabi Nuh di atas setidaknya telah menolak presepsi ini, sekaligus memberikan contoh bahwa dakwah bukan pekerjaan sampingan, melainkan tugas utama yang menuntut seluruh waktu dan seluruh usia. Imam Hasan Al Banna mengatakan: alwajibaatu aktsar minal awqaat (kewajiban lebih banyak dari pada waktu). Artinya sekalipun seorang da’i menggunakan waktunya untuk kegiatan berdakwah, itu berarti kegiatan tersebut akan menjadi habis, me;ainkan akan semakin bertambah. Apalagi banyak waktu bolongnya, tentu akan semakin jauh dari keberkahan dakwah yang harus diraih. Disinilah rahasia mengapa Nabi Nuh mengajarkan kepada kita untuk berdakwah diseluruh waktu malam dan siang tanpa merasa lelah.
2.Tidak Mudah Menyerah
Pada pernyataan selanjutnya nampak bahwa Nabi Nuh menghadapi tantangan yang sangat berat. Nabi Nuh berkata: “Maka seruanku itu hanyalah menambah mereka lari (dari kebenaran). Dan sesungguhnya setiap kali aku menyeru mereka (kepada iman) agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan jemari mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya (ke mukanya) dan mereka tetap (mengingkari) dan menyombongkan diri dengan sangat”. Disini nampak bahwa Nabi Nuh menyadari secara mendalam bahwa tabiat kekafiran adalah menentang kebenaran. Maka seorang aktifis dakwah tidak boleh mudah menyerah. Segala ejekan dan penghinaan dihadapinya dengan tenang dan lapang dada. Ibarat sebuah pohon berbuah, sekalipun orang melemparinya dengan batu ia membalasnya dengan melempar buah-buahan.
Nabi Nuh, memang menghadapi tantangan yang sangat berat dari kaumnya: (a) mereka menjauh dan lari dari kebenaran (firara). (b) Mereka menutup telinga supaya tidak mendengar seruan. (c) Mereka menutup muka mereka dengan pakaian supaya tidak terpengaruh. (d) Mereka bertindak sombong dan bangga dengan dosa-dosa. Tetapi semua itu tidak membuat Nabi Nuh emosi. Nabi tetap mengajak ke jalan yang penuh dengan ampunan Allah yaitu: jalan keimanan, ketaatan dan ketakwaan.
Bandingkan dengan perjuangan Rasulullah SAW di Makkah, di saat kaum Quraisy menantangnya, mengejeknya, bahkan melemparkan kotoran binatang ke atas kepalanya yang mulia. Tetapi itu semua tidak membuat Rasulullah putus asa. Melainkan kian membuat semangatnya membara. Rasulullah tidak kehabisan akal, ia mengajak orang-orang yang datang ke kota Makkah untuk melaksanakan ibadah haji. Sampai kemudian bertemu dengan sekelompok pendatang dari kota Madinah (waktu itu disebut Yastrib). Dan dari merekalah kemudian kota Madinah kemudian menjadi basis utamanya umat Islam bangkit menaklukkan basik kaum kafir Makkah, kaum Yahudi di Khaibar, Kerajaan Romawi dan Persia. Semua ini menggambarkan betapa sukses dakwah Rasulullah SAW yang demikian gemilang adalah karena kegigihannya dalam mempertahankan risalah Islam, dan sikapnya yang tidak mudah menyerah terhadap berbagai tantangan dan cobaan yang dihadapinya.
3.Menempuh Cara-cara Yang Bijak
Nabi Nuh ternyata tidak mencukupkan dengan hanya satu cara, perhatikan ceritanya: “Kemudian sungguh aku menyeru mereka (kepada iman) dengan cara terang-terangan. Setelah itu sungguh aku (menyeru) mereka (lagi) dengan terang-terangan dan dengan diam-diam”. Artinya setelah Nabi Nuh menyeru kaumnya dengan cara diam-diam beberapa lama, ia lalu menyeru mereka dengan terang-terangan. Tetapi dengan itupun mereka tetap tidak mau mendengar kebenaran. Nabi Nuh pun tidak segera menyerah. Ia segera mengambil cara yang ketiga, menggabung antara cara rahasia dan terang-terangan. Namun semua cara itu tidak bermanfaat bagi mereka. Hati mereka tertutup dan keras, lebih keras dari batu. Batu saja masih mungkin memancarkan air. Tetapi hati jika hati telah mencapai puncak kekerasan ia akan menolak segala kebenaran.
Perhatikan Nabi berdakwah secara terus-menerus, selama sembilan ratus lima puluh tahun, namun kaumnya tetap tidak peduli dengan risalah yang dibawanya. Dari sini nampak bahws seorang aktifis da’wah harus benar-benar mampu menjiwai dan merasakan kelezatannya dakwah. Sebab jika tidak ia akan tergolong –menurut istilah Fathy Yakan- almutasaquhuun fii thariiqid da’wah (orang-orang yang berguguran di jalan dakwah). Mengapa? Sebab lama kelamaan dakwah hanya akan menjadi beban yang memberatkan perasaan dan pikirannya. Ketika beban dakwah terasa semakin berat hatinya akan semakin sempit.
Dari sini keharusan merasakan lezatnya dakwah menjadi sebuah keniscayaan. Orang yang merasakan lezatnya dakwah, akan mampu membuat yang pahit menjadi manis, dan yang berat menjadi ringan. Segala tantangan dihadapinya dengan tenang, bijak dan tidak terburu-buru. Baginya sebuah keberhasilan bukan banyaknya pengikut tetapi bagaimana ini utama risalah tetap tegak sekaligus mayoritas menolaknya.
Suatu hakikat yang tergambar dalam perjuangan Nabi dan pada akhir-akhir ini mulai terabaikan.
4 .Selalu Mengajak Beristighfar
Istighfar artinya memohon ampunan Allah SWT. pada ayat selanjutnya Nabi Nuh berkata: faqultus taghfiruu rabbakum innahuu kaana ghaffara (Maka Aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun). Istighfar adalah inti kehambaan kepada Allah. Seorang hamba yang selalu beristighfar ia akan bersih jiwanya. Tidak ada yang mematuhi hatinya kecuali kecintaan kepada Allah. Seluruh gerak dan perbuatannya hanyalah mencerminkan ketundukan total kepadaNya.
Didalam Al Qur’an Allah SWT selalu merangkai istighfar dan ketundukkan kepada Allah (baca:taqwa) dengan kesejahteraan, kemudahan jalan hidup dan sebagainya. Dalam surat Hud: 3 Allah berfirman: “Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Rabbmu dan bertaubat kepada-Nya. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus-menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang telah ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya”. Dalam ayat lain: “Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada meeka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS. 7:96). Lalu perhatikan rentetan ayat di atas dengan ayat sesudahnya: “Maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah ampun kepada Rabbmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun. Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat. Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai”.
Sengan demikian menyeru kepada Istighfar adalah masalh yang sangat fundamental dalam dakwah. Ustadz Sayed Quthub mengatakan: bahwa hal yagng demikian adalah kaidah yang ditetapkan Al Qur’an dan sudah terbukti dalam sejarah umat terdahulu. Artinya siapa yang tidak mensucikan diri dan jauh dari ketaatan kepada Allah ia pasti celaka, tidak saja di dunia, melainkan juga di akhirat. Dan hanya dengan mentaati Allah kebahagiaan dunia dan akhirat akan tercapai. Kuncinya adalah istighfar. Abu Hurairah ra. Berkata: Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Demi Allah, sesungguhnya aku membaca istighfar lebih dari tujuh puluh kali” (HR. Bukhari). Dalam riwayat lain: “seratus kali” (HR. Muslim). Perhatikan pentingnya istighfar. Dalam surat At Tahrim: 8, Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kamu kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya, mudah-mudahan Rabb kamu akan menutupi kesalahan-kesalahanmu dan memasukkan kamu ke dalam surga yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, pada hari ketika Allah tidak menghinakan Nabi dan orang-orang yang beriman bersama dengan dia; sedang cahaya mereka memancar di hadapan dan di sebelah kanan mereka, sambil mereka mengatakan: “Ya Rabb kami, sempurnakanlah bagi kami cahaya kami dan ampunilah kami; sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu”.
Dalam hadits riwayat Imam Bukhari dan Muslim Rasululullah bersabda: “Allah lebih gembira terhadap taubat hambaNya dari pada seseorang diantara kamu yang mendapatkan untanya yang telah hilang di gurun sahara”. Bahkan dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda: Allah membentangkan tanganNya di malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat maksiat di siang hari, dan membentangkan tangan-Nya di siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang berbuat maksiat di malam hari. Dari sini nampak betapa taubat yang tercermin dalam istighfar adalah solusi segala persoalan kemanusiaan. Artinya bila manusia kembali ke jalan Allah engan bertaubat (baca: beristighfar) segalanya akan menjadi berkah. Dan sungguh karena keangkuhan dan kesombongan manusialah yang selama ini membuat kehancuran dan malapetaka terhadap kemanusiaan.
Seorang aktifis dakwah yang benar-benar merasakan kelezatannya ia pasti akan menjiwai semua makna tersebut di atas, dan menjadikannya sebgai pijakan.
Wallahu a’lam bishshawab.