Merancang Hidup Bermakna dengan Kompas Ilahi
amirfath.com, Artikel (288), Agustus 2025 –Bismillahirrahmanirrahim. Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Sebuah pertanyaan fundamental seringkali menggema dalam benak manusia, terutama di tengah gelombang ujian dan kesulitan hidup: “Mengapa aku hidup? Untuk apa semua jerih payah dan penderitaan ini?” Pertanyaan eksistensial ini bukanlah hal sepele. Ia adalah pangkal dari segala pencarian makna dan tujuan hidup manusia. Sebuah penelitian di Amerika Serikat bahkan mengungkapkan fakta yang mencengangkan: sekitar 80% dari kasus ketergantungan alkohol berawal dari kegelisahan eksistensial dan ketidakmampuan menemukan jawaban atas pertanyaan mendasar tentang hakikat kehidupan.
Fenomena ini menunjukkan betapa manusia modern, dengan segala kecanggihan teknologinya, justru mengalami krisis makna yang parah. Mereka yang tidak memiliki pegangan iman yang kokoh seringkali menjalani hidup seperti musafir yang tersesat di padang luas tanpa kompas atau GPS. Mereka berjalan tanpa arah yang jelas, tanpa tahu dari mana datangnya, untuk apa berada di sini, dan ke mana tujuan akhir perjalanan hidup. Hidup pun direduksi menjadi sekadar rutinitas biologis dan materi belaka: makan, minum, tidur, bekerja, dan menghasilkan keturunan. Dalam keadaan seperti ini, kehidupan kehilangan dimensi spiritualnya dan menjadi datar tanpa roh.
Di sinilah letak keutamaan dan keberkahan menjadi seorang Muslim. Kita patut bersyukur kepada Allah SWT karena dikaruniai iman dan diberikan pedoman hidup yang jelas berupa Al-Qur’anul Karim. Kitab suci ini bukanlah sekadar kitab yang dibacakan untuk orang yang telah meninggal, meskipun memang terdapat keutamaan dalam membacakannya untuk mayit dan dapat meringankan siksa kubur. Namun, hakikat utama diturunkannya Al-Qur’an adalah sebagai petunjuk hidup (hudan lin-nas) bagi orang-orang yang masih hidup. Ia berfungsi sebagai GPS ilahi yang menunjukkan jalan lurus menuju kebahagiaan dunia dan akhirat.
Allah SWT berfirman:
إِنَّا نَحْنُ نَزَّلْنَا ٱلذِّكْرَ وَإِنَّا لَهُۥ لَحَـٰفِظُونَ
“Sesungguhnya Kamilah yang menurunkan Al-Qur’an, dan pasti Kami (pula) yang memeliharanya.” (QS. Al-Hijr: 9)
Ayat ini mengingatkan kita bahwa sumber petunjuk kita berasal dari Yang Maha Mengetahui segala sesuatu. Seolah-olah Allah berkata, “Wahai manusia, Akulah yang menciptakanmu. Maka hanya Aku-lah yang paling tahu untuk apa engkau diciptakan dan bagaimana seharusnya engkau menjalani hidup.”
Esensi dari kehidupan ini sesungguhnya terletak pada upaya kita untuk senantiasa menjaga dan memperkuat hubungan dengan Sang Pencipta (hablum minallah). Sedikit saja hubungan ini terputus atau melemah, kehidupan bisa kehilangan maknanya dan menjadi sia-sia. Allah SWT mengingatkan kita dalam firman-Nya bahwa ketika manusia tidak lagi menggunakan akal dan hati nuraninya untuk mengenal dan menyembah Penciptanya, derajat mereka bisa jatuh lebih rendah daripada binatang.
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ ٱلْجِنِّ وَٱلْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ ءَاذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ كَٱلْأَنْعَـٰمِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُو۟لَـٰٓئِكَ هُمُ ٱلْغَـٰفِلُونَ
“Dan sungguh, akan Kami isi neraka Jahannam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah), mereka mempunyai mata tetapi tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga tetapi tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka seperti binatang ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai.” (QS. Al-A’raf: 179)
Karena kasih sayang-Nya yang tak terbatas, Allah tidak membiarkan manusia tersesat tanpa petunjuk. Di setiap zaman, Allah mengutus nabi dan rasul dari kalangan manusia sendiri untuk membimbing umatnya kembali ke jalan yang lurus. Dalam peristiwa agung Isra’ dan Mi’raj, Nabi Muhammad SAW shalat mengimami semua nabi di Masjidil Aqsa. Ini adalah simbol nyata dari kesinambungan risalah langit yang bertujuan mengawal perjalanan hidup manusia agar tidak menyimpang dari rel yang telah ditetapkan Allah.
Masjidil Aqsa, yang saat ini masih dalam cengkeraman penjajahan, memiliki keutamaan yang sangat besar. Rasulullah SAW bersabda:
لاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِ الرَّسُولِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، وَمَسْجِدِ الأَقْصَ
“Tidak boleh melakukan perjalanan (untuk ibadah) kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasulullah SAW, dan Masjidil Aqsa.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Keutamaan ini menunjukkan betapa Allah menjaga tempat-tempat suci tersebut sebagai pusat spiritualitas umat manusia. Doa kita senantiasa menyertai saudara-saudara kita di Palestina yang dengan heroik mempertahankan kesucian Masjidil Aqsa.
Pada hakikatnya, kehidupan dunia ini adalah ujian (ibtila’) sebagaimana firman Allah:
ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلْمَوْتَ وَٱلْحَيَوٰةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا ۚ وَهُوَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْغَفُورُ
“Yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa, Maha Pengampun.” (QS. Al-Mulk: 2)
Ujian hidup bukanlah bentuk hukuman atau kesia-siaan. Sebaliknya, ia adalah mekanisme untuk meninggikan derajat hamba di sisi Allah. Analoginya seperti pohon yang semakin tinggi maka akan semakin kencang angin yang menerpanya. Semakin tinggi derajat yang Allah kehendaki untuk seorang hamba, semakin besar pula ujian yang akan dihadapinya. Kunci untuk lulus dari ujian ini adalah kesabaran, ketakwaan, keteguhan hati, dan konsistensi dalam menuntut ilmu melalui majelis-majelis kajian keislaman.
Marilah kita senantiasa bersyukur telah dikaruniai kompas hidup yang jelas berupa Al-Qur’an dan Sunnah. Jangan sia-siakan anugerah agung ini dengan menjalani hidup tanpa arah dan tujuan. Hadirilah majelis-majelis ilmu, perdalam pemahaman agama, dan praktikkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan sehari-hari. Hanya dengan demikian kita dapat menjalani hidup dengan penuh makna, karena kita tahu dengan pasti untuk apa kita diciptakan dan ke mana tujuan akhir perjalanan hidup kita. Wallahu a’lam bish-shawwab.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. (Dr. Amir Faishol Fath, pakar Tafsir Al Quran )