Friday, July 18

Memahami Makna Tartil

amirfath.com, Artikel (239), April 2023 Sebagian kaum muslimin mengatakan bahwa apa gunanya membaca Alquran jika tidak paham maknanya. Pengaruh pemahaman ini menyebabkan sebagian orang yang menyibukkan diri membaca Alquran melalui teks dan terjemahannya secara bersamaan. Tentu cara seperti ini menuntut banyak waktu untuk mengkhatamkannya.

Sebagian yang lain hanya mencukupkan kepada membaca teksnya saja, tanpa melihat maknanya. Sebab membaca Alquran sekalipun tidak paham, ia tetap mendapatkan pahala per huruf seperti yang Nabi SAW gambarkan dalam hadisnya, “Man qaraa harfan min kitaabillah falahu hasanatun wal hasantu bi’asyri amtsaalihaa” (Siapa membaca satu huruf dari Alquran akan dihitung satu kebaikan dan dilipatgandakan sampai sepuluh kali lipat) (HR Turmidzi).

Berdasarkan hadis ini pahala membaca Alquran bukan hanya per huruf satu kebaikan, tetapi dilipatgandakan menjadi sepuluh kali lipat.

Surah al-Muzzammil yang secara khusus membahas tentang shalat malam memberikan tips bagaimana cara menikmati membaca Alquran dalam shalat malam. Allah SWT berfirman, “Wa rattilil quraana tartiilaa” (Bacalah Alquran dengan tartil) (QS al-Muzzammil [73]: 4).

Dengan ayat ini seakan Allah SWT mengatakan, jika kamu ingin merasakan indahnya shalat malam, bacalah Alquran dalam shalatmu dengan tartil. Para ulama tafsir menjelaskan bahwa maksud tartil adalah membacanya dengan pelan, tidak tergesa-gesa, sehingga masing-masing huruf ditampilkan pada posisinya, sesuai dengan kaidah makharijaul huruf, serta menjaga dengung dan panjang pendeknya sesuai dengan kaidah ilmu tajwid.

Di saat yang sama bacalah dengan irama sesuai dengan kemapuan masing-masing (Laisa minna man lam yataghanna bil quraan) (HR Ibn Hibban). Hadis ini menjelaskan bahwa tidak termasuk umat Rasulullah SAW yang membaca Alquran tanpa irama.

Dalam hal ini cukuplah dengan irama sendiri, tidak harus meniru irama orang lain dan tidak perlu takalluf (memaksakan diri secara berlebihan). Allah SWT tidak memaksa hamba-Nya untuk melakukan suatu ibadah di luar kemampuannya (Laa yukallifullahu nafsan illaa wus’ahaa) (QS al-Baqarah [2]: 286).

Berdasarkan ini dalam membaca Alquran dengan tartil tidak disyaratkan memahami kandungannya. Bila Anda telah belajar dengan benar bagaimana cara mempraktikkan bacaan Alquran, cukuplah itu menjadi bekal dalam membacanya.

Adapun ketidaksempurnaan dalam melafalkan huruf atau memahami kandungannya itu memang hampir dialami setiap orang. Tugas kita bukan memaksakan diri mencapai kesempurnaan –karena tidak ada manusia yang sempurna– tetapi tugas kita adalah belajar membacanya dengan benar, lalu mempraktikkanya dengan maksimal.

Tugas kita adalah belajar membacanya dengan benar, lalu mempraktikkanya dengan maksimal.

Pernah seorang murid bertanya kepada gurunya bahwa ia merasa kurang yakin dengan bacaannya dan takut ditolak karena tidak mampu memahami kandungannya. Gurunya menjawab, “Lakukan apa yang kamu mampu, fattaqullaha mastatha’tum (bertakwalah kepada Allah semaksimal kemampuanmu) (QS at-Taghabun [64]: 16).

Sejak itu murid tersebut menjadi tenang, setelah tadinya ia selalu dihantui kekhawatiran takut salah.

Dari apa yang kita bahas di atas, jelas bahwa tartil dalam membaca Alquran memang sangat penting. Sebab dengannya seorang hamba tidak saja merasakan indahnya Alquran, tetapi ia akan merasakan khusyuk dalam shalatnya. Lebih dari itu, Alquran akan hadir dalam jiwanya dengan penuh makna.

Adapun disusunnya ilmu tajwid sejatinya untuk membantu praktik membaca Alquran dengan tartil di saat sulit menemukan guru yang bersanad. Memang sebaiknya ber-talaqqi kepada guru untuk memastikan benar tidaknya pelafalan huruf yang kita lakukan.

Namun yang paling penting adalah benarnya bacaan. Bila seseorang mampu membaca Alquran dengan benar sekalipun belum bersanad, itu sudah cukup. Adapun pencapaian sanad dalam membaca Alquran bisa dikatakan lebih afdhal untuk lebih meyakinkan secara akademis.

sumber : https://www.republika.id/posts/39247/memahami-makna-tartil

About Post Author