Hari Kiamat Itu Pasti
amirfath.com, Artikel (182), November 2022
Menyebutkan bukti-bukti kekuasaan-Nya dalam surah an-Naba’ adalah cara Allah meyakinkan orang- orang kafir Makkah agar beriman kepada hari kiamat. Bukti-bukti itu adalah apa yang mereka langsung merasakannya.
Seakan dikatakan: Wahai orang-orang kafir, bukankah Aku telah melakukan ini dan itu untukmu, masihkah kamu ragu akan kekuasaan-Ku untuk membangkit kanmu setelah mati? Inilah per soal an pokok Alquran yaitu mena namkan keyakinan akan kepastian alam akhirat, bahwa dunia ini bu kan tujuan dan setelah kematian akan ada kehidupan lagi, yaitu hari kiamat.
Di antara bukti-bukti itu adalah tentang penciptaan bumi yang dibuat oleh Allah terasa meng hampar: Alam naj’alil ardha mi haa da(QS 78: 6). Kata mihadsatu akar dengan kata mahdun(pang kuan ibu). Seakan dikatakan, Bu kankah Aku telah membuatmu me rasa aman di atas bumi seperti aman nya bayi di atas pangukuan ibu nya. Lalu, Allah menyebut gu nung sebagai pasak: Wal jabaala autaadaa (QS 78: 7). Kata autad(pa sak)menunjukkan makna tiang yang ditancapkan untuk membuat rumah-rumah tetap terpancang.
Ini menggambarkan betapa gunung-gunung ditancapkan untuk menjaga bumi agar tetap utuh. Karena itu setiap kali Allah men jelaskan tentang hari kiamat, sela lu menyebutkan bahwa gunung-gunung itu akan dihancurkan: Wa takuunul jibaala kal’ihnil manfush. (QS al- Qariah: 5).
Bukti lain adalah diciptakannya manusia berpasang-pasangan (laki dan perempuan): Wa khalaqnaa kum azawwaja (QS 78: 8). Ini jelas supaya hidup manusia berlan jut, sebab dari pasangan tersebut lahirlah keturunan-keturunan.
Tidurnya manusia juga bukti ke kuasaan-Nya: Wa ja’alnaa naumakum subaata (QS 78:9).
Kata subaat(terputus dari aktivitas), untuk menggambarkan betapa tidur yang terjadi setiap hari bukanlah peristiwa biasa, melainkan dengannya manusia bisa istirahat total sehingga badannya yang sangat lelah bisa segar kembali.
Pergantian siang dan malam juga bukti kekuasaan-Nya: Waja’alnalla libaasa, wa ja’lanan nahaa ra ma’aasyaa (QS 78: 10-11).
Perhatikan kata libaas(pakaian)untuk malam, dan kata ma’aasya (kehidupan) untuk siang. Artinya, malam dibuat gelap seperti pakaian supaya manusia istirahat dan siang dibuat terang supaya manusia bangkit bekerja mencari nafkah.
Tujuh lapis langit yang terpancang di angkasa dengan kokoh tan pa tiang juga bukti kekuasaan-Nya.Sampai kapan pun tidak akan per nah ada manusia yang bisa mencip ta kan hal yang sama: Wa banainaa fauqakum sab’an sidaadaa (QS 78: 12).
Demikian juga penciptaan matahari dengan dua fungsi: Wa ja’alnaan suraajaw wahhaajaa.Fungsi pertama terdapat pada kata siraaja(pelita) untuk menunjukkan bahwa terangnya bumi adalah dari cahaya matahari. Fungsi kedua terdapat pada kata wahhaajyang menunjukkan bahwa selain cahaya matahari juga mengirimkan panas.Dari panas inilah awan timbul yang darinya turun hujan: Wa anzalnaa minal mu’shiraati maa’an sajjaajaa. Lalu, dari air hujan, kehidupan di muka bumi terus berlanjut sampai hari kiamat. Masihkah Anda ragu dengan hari kiamat?