Membangun Pola Pikir Kepemimpinan
amirfath.com, Artikel (152), Juli 2022
Surah kedua setelah al-Fatihah adalah al-Ba qarah.Salah satu tema pokok surah yang ber arti sapi betina itu adalah kepemimpinan. Sede mi kian pentingnya surah ini sampai-sampai Rasulullah menyebutnya sebagai sanaamul Quran(induk Alquran).
Syekh Said Hawa telah berhasil membuktikan dalam tafsirnya al-Asaasbahwa semua surah setelah al-Baqarah adalah penjabaran dari apa yang disebutkan di dalam surah al-Baqarah. Ini menggambarkan bahwa pola pikir yang ingin ditanamkan Alquran adalah kepemimpinan.
Jelas sekali bahwa pembukaan surah al-Baqarah langsung masuk ke pembahasan tentang tiga model manusia yang akan bertarung sepanjang sejarah dalam merebut kepemimpinan. Pertama, muttaquun(QS al- Baqarah: 1-5), yaitu orang-orang yang menyadari makna kehambaan kepada Allah, maka baginya kepemimpinan adalah sarana untuk mengabdi kepada Allah, dengan mendistribusikan kekayaan-Nya di muka bumi kepada manusia secara adil dan jujur.
Kedua, kaafiruun(QS al-Baqarah: 6-7), yaitu orang- orang yang tidak beriman kepada Allah dan tidak mau mengikuti panduan-Nya dalam kepemimpinan. Ketiga, munafiquun(QS al-Baqarah: 8-20) yaitu orang-orang yang pura-pura menampakkan diri sebagai seorang Muslim tetapi ia berbuat zalim dalam mengemban amanah kepemimpinan.
Semakin kontras benang merah kepemimpinan ini dalam al-Baqarah, ketika kita melihat alur pembahasan di dalamnya mengungkap pertama-tema kisah Nabi Adam sebagai pemimpin pertama manusia di muka bumi: “Innii jaailun fil ardhi khaliifah”(QS al-Baqarah: 30). Kata khalifah maksudnya adalah seorang pemimpin atau wakil Allah di muka bumi atau maknanya yakhlufu ba’dhahuu ba’dhaa (saling bergantian secara estafeta). Artinya, kepemimpinan ini harus selalu ada, dan tidak boleh kosong sedikit pun.
Setelah kisah Nabi Adam, Allah menceritakan tentang kepemimpinan Bani Israil yang gagal, dengan memanggil mereka: “Yaa banii israaiiladz kuruu ni’matiyallatii an’amtu alaikum.”(Wahai banii Israil ingatlah akan nikmat yang telah Aku berikan kepadamu) (QS al-Baqarah: 40). Di antara nikmat tersebut adalah bahwa Allah telah memberikan kepada mereka kesempatan memimpin, dengan memilih dari kalangan mereka nabi-nabi, tetapi mereka tidak mengikutinya, bahkan membunuhnya.
Lalu kisah Nabi Ibrahim sebagai contoh pemimpin yang sukses: Wa idzibtalaa ibraahiima rabbuhuu bikalimaatin fa tammahunna.(Ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan) lalu Ibrahim berhasil menyempurnakannya) (QS al-Baqarah:124).
Pada bagian akhir surah, disebutkan kepemimpinan Thalut, sebagai seorang yang berhasil dari kalangan bani Israil: “Innaallah qad ba’atsa lakum thaaluuta malikaa”(sesungguhnya Allah telah memilih buat kamu Thalut sebagai pemimpin) (QS al-Baqarah: 247). Berdasarkan gambaran di atas, seakan Allah mengatakan wahai hamba-hamba-Ku, tugas kamu jangan hanya disempitkan dalam wilayah ritual, tetapi harus lebih dari itu, yaitu melebar kepada wilayah sosial, di antaranya yang paling pokok adalah kepemimpinan. Inilah makna perintah Allah agar hamba-Nya masuk Islam secara utuh: “Udkhuluu fissilmi kaafaah.”(QS al-Baqarah: 208).