Menggapai Haji Mabrur
amirfath.com, Artikel (149), Juli 2022
Para peziarah ke Baitullah mengharapkan haji mereka mabrur. Nabi Muhammad SAW menjamin surga bagi yang mendapatkan predikat tersebut. Wal hajjul mabrur laysa lahuu jazaa illal Jannah.(HR Ahmad). Kata mabrur satu akar kata dengan al birru(kebaikan). Allah berfirman:Lan tanaalal birra hatta tunfiquu mimmaa tuhibbuun.(Engkau tidak akan mendapatkan kebaikan, sampai engkau menginfakkan apa yang engkau cintai.) (QS Ali Imran [3]: 92). Kata mabrur adalah ismul maf’ul yang artinya diikuti kebaikan.
Maksudnya bahwa selama menjalankan ibadah haji, sang hamba telah dibersihkan dosa-dosanya sampai ia menjadi seperti bayi baru lahir:Kayaumin waladathu ummuhu.(HR Bukhari).Terutama dosa yang berkaitan dengan hak Allah.Adapun dosa sosial yang berkaitan dengan hak makhluk, tetap tidak dihapus sampai ia menyelesaikan dosanya dengan makhluk yang ia zalimi. Jika dosanya berupa utang, misalnya, Allah tidak akan mengampuni dosanya sampai utang itu dibayar.
Lalu, sekembalinya dari perjalanan haji, jika ia benar-benar menjaga kebersihan fitrahnya, ia berhak disebut mabrur. Yaitu dengan melaksanakan apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa yang dilarang-Nya. Hamba seperti ini jelas jika kelak meninggal dunia akan dimasukkan ke surga seperti yang Nabi janjikan. Sebab, dengan ibadah haji yang ia lakukan, dosanya sudah bersih. Setelah itu, ia hanya melakukan kebaikan-kebaikan dan menjauhi semua dosa sampai meninggal dunia.Apa yang harus dilakukan untuk mencapai derajat mabrur?
Pertama, pastikan niat haji ikhlas karena Allah: Wa lillaahi `alannaasi hijjul baiti man istatha’a ilaihi sabiilaa. (QS Ali Imran [3]: 97). Kata lillah mengandung pesan pentingnya ikhlas.Sebab, semua amal sebesar apa pun pasti akan ditolak jika dilakukan dengan disertai sombong.Bagi Allah, tidak penting besar kecilnya amal, sebab masing-masing hamba akan beramal sesuai dengan kemampuannya, tetapi yang harus diperhatikan adalah keikhlasan yang mengantarkannya.
Akhlak juga penting dijaga selama perjalanan haji. Jangan sampai dalam proses menuju haji, lisan berkata kotor, melukai hati orang lain, bahkan melaksanakan dosa besar. Faman faradha fiihinnal hajja falaa rafatsa wa laa fusuuqa wa laa jidaala fil hajji.(QS al-Baqarah [2]: 197).
Tidak kalah pentingnya, perhatikan harta yang digunakan untuk perjalanan haji. Jangan sampai dari sumber yang haram. Sebab, tidak mungkin ibadah haji diterima jika bekalnya haram:Innallaha thayyibun laa yaqbalu illaa thayyaban.(Allah Mahabaik dan tidak mau menerima kecuali yang baik).
Sebagian ulama menjelaskan, ketika seorang hamba berangkat haji dengan bekal haram, dan ia mengucapkanLabbaikallhumma labbaika maka penduduk langit akan menjawabnya: Laa labbaika wa laa sa’daika, wa hajjukaa ghairu mabrur(Tidak, tidak ada yang menyambut kedatanganmu, hajimu ditolak).