Thursday, July 17

Al Baqarah : 29

Allah Yang Maha Mengetahui

Dr. Amir Faishol Fath

هُوَ الَّذِي خَلَقَ لَكُمْ مَا فِي الْأَرْضِ جَمِيعًا ثُمَّ اسْتَوَى إِلَى السَّمَاءِ فَسَوَّاهُنَّ سَبْعَ سَمَاوَاتٍ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ (29)

Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit. Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (QS. Al Baqarah : 29)

Rahasia Urutan Ayat

Setelah menegur orang-orang kafir, mengapa mereka tidak mau beriman, padahal mereka tidak punya alasan sama sekali, baik secara akal maupun secara teks. Bahkan mereka dengan tindakannya itu akan mencelakakan diri mereka sendiri. Lalu di sini Allah menegsakan bahwa DiriNyalah yang berhak dipatuhi. Sebab Dialah yang menciptakan langit dan bumi, Dialah yang maha tinggi dan bersemayam di arasy dan Dilah yang maha mengetahui. Maka seandainya mereka mau menggunakan akalnya, niscaya mereka tidak memilih kekafiran sebagai jalan hidup.

Allah Sang Pencipta Bumi

Pertama-tama Allah menjelaskan bahwa DiriNyalah yang menciptakan bumi dan segala isinya. Allah berfirman : “Dia-lah Allah, yang menjadikan segala yang ada di bumi untuk kamu”.  Kata untukmu menunjukkan beberapa makna : (a) bahwa segala wujud di muka bumi, disediakan oleh Allah sebagai fasilitas untuk manusia. Seandainya setiap manusia menyadari makan ayat ini secara mendalam, niscaya ia akan bersungguh mematuhiNya. Tapi sayang tidak semua manusia menggunakan akal yang Allah berikan kepadanya. Sehingga mereka hidup di muka bumi tapi tidak bersungguh-sungguh patuh kepada Allah swt. Mereka lebih patuh kepada bos yang memberikan gaji, dari pada kepada Allah yang memberikan segala kebutuahan hidupnya. Jelasnya bahwa dalam ayat ini terkandung ajakan agar manusiasadar sedalam-dalamnya akan perhatian Allah kepadanya. Bahwa tidak ada sedikitpun yang dimanfaatkan manusia kecuali dari Allah swt. Benar, kita sekarang hidup di sebuah zaman tehnologi yang sangat canggih. Semua sarana komunikasi telah tersedia. Di internet anda dengan mudah bisa mendapatkan data-data ilmiah mengenai penciptaan bumi. Tapi itu baru kulit luarnya. Semua data itu tidak akan mengantarkan manusia kepada hakikat yang sebenarnya tanpa melihatnya dengan kaca mata iman. Perhatikan betapa semakin banyak manusia kini yang semakin jauh dari Allah swt.

            (b) dalam kata “untumu” ada juga makna “at taskhiir” artinya menundukkan. Maksudnya Allah telah menundukkan segala wujud di muka bumi untuk berkhidmah kepada manusia. Ini artinya bahwa semua unsur bumi siap tunduk untuk kepentingan manusia, tidak akan memprotes dan tidak akan melawan. Apa saja yang kita bangun di atasnya akan dipertahankan oleh bumi. Jika ternyata suatu saat terjadi longsor atau gempa bumi, itu untuk memperlihatkan bahwa tunduk atas perintah Allah swt. Bahwa di atas segala kekuatan manusia masih ada kekuatan Allah swt. Karena itu kita harus sadar selalu bahwa kemampuan yang kita miliki tidak akan pernah melampaui kekuatan Allah. Kita harus tetap bergantung kapadaNya Sang Pemilik Mutlak langit dan bumi.     

Lebih dalam lagi, ayat ini terletak setelah ayat : fa ahyaakum tsumma yumiitukum trumma yuhyiikum tsumma ilaihi turja’uun (maka Dialah Allah yang telah menghidupkan kalian, kemudian mematikan kalian kemudian menghidupkan lagi kalian kemudian kepadaNyalah kalian kelak akan dikembalikan). Di sini ada dua makna: (a) bahwa sebenarnya manusia bisa hidup di muka bumi karena pertolongan Allah swt. Karena itu Allah tegaskan bahwa tadinya kamu mati lalau Aku hidupkan. Ini berarti bahwa hidupnya manusia tidak akan bisa bertahan tanpa pertolonganNya. Baru setelah ia mati, berakhirlah hubungannya dengan segala nikmatkeduniaan. (b) bahwa segala yang ada di bumi adalah milik Allah secara mutlak. Dan apa yang dimiliki manusia hanyalah kepemilikan sementara. Pun perlu diketahui bahwa apa saja yang kita miliki di dunia suatu saat kelak akan jatuh ke tangan orang lain seperti ahli waris dan lain sebagainya.

Kemudian perhatikan kata “jamii’aa” (semuanya). Maksudnya bahwa semua wujud di bumi telah diciptakan Allah. Jadi manusia tidak akan pernah bisa menciptakan hal yang baru. Manusia hanya bisa mebuat sesuatu dari apa yang telah tersedia dan telah Allah ciptakan. Manusia hanya bisa membuat mobil, pesawat terbang dan lain sebaginya dari besi yang telah ada. Dan manusia tidak akan pernah bisa membuat besi. Contoh lain, buah-buahan. Manusia tidak akan pernah bisa membuat buah-buahan atau membuat pohonan yang memberikan buahan tersebut. Semua pohon yang menumbuhkan adalah Allah dan manusia hanya menanamnya. Contoh lain lagi biji-bijian, itu juga bukan buatan manusia. Biji jagung misalnya itu benar hasil dari panen tahun lalu, tetapi hakikatnya itu dari Allah swt. Begitu juga manusia ujung-ujungnya adalah ciptaan Allah langsung, yaitu Nabi Adam as. dan Hawwa. Jadi tidak ada sama sekali di alam ini yang diciptakan manusia secara independen tanpa menggunakan bahan yang Allah ciptakan. Inilah makna kata “jami’aa”. Sungguh dalam dan luar biasa dalamnya istilah ini. Menunjukkan betapa Al Qura, setiap kata adalah mukjizat.

Allah Bersemayam di Langit

Allah berfriman : “dan Dia berkehendak menuju langit, lalu dijadikan-Nya tujuh langit”. Dalam ayat ini kita temukan istilah “istawa” (bersemayam). Untuk memahami ayat ini tanmakan dulu dalam benak anda bahwa Allah swt. tidak ada satupun makhluk yang menyerupainya “laisa kamitslihii syai’un” (QS. Asy Syura : 11). Pun hilangkan dulu dari persepsi anda bayangan mengenai kemakhlukan, sebab segala apa yang terlintas dalam benak anda mengenai segala sifat kemahlukanj itu tidak akan pernah sama dengan sifat-sifat Allah swt. Bila ini sudah anda lakukan, baru anda membaca ayat ini bahwa Allah bersemayam di langit. Maka anda akan paham bahwa semayamnya Allah tentu tidak akan pernah dengan semayamnya seorang raja, atau semayamnya anda di rumah anda.

Mengapa demikian? Sebab Allah Sang Pencipta, makan tidak mungkin sama antara Pencipta dan ciptaanNya. Pembuat HP tidak akan sama dengan Hp-nya. Pembuat mobil tidak akan sama dengan mobilnya. Pembuat robot sekalipun, tidak akan sama dengan robotnya, Maka sungguh salah orang yang mempersepsikan Allah dengan sifat-sifat kemakhlukan. Sebab Allah swt. jauh di atas makhlukNya. Benar anda punya kemampuan, tetapi kemapuan anda tidak akan pernah selevel dengan kemapuan Allah swt. Pun benar, anda punya ilmu, tetapi keluasan ilmu anda tidak akan pernah mencapai level luasnya ilmu Allah swt.

Jadi ketika anda membaca ayat ini bahwa Allah swt, bersemayam di langit, cukuplah anda memahami bahwa itu untuk menunjukkan kemaha-tinggianNya, kemaha-agunganNya dan kemahaluasan-ilmuNya. Karena itu Allah swt. menggunakan istilah “ilas samaa’” (tempat yang tinggi). Sekaliipun dalam ayat lain Allah swt. menggunakan kata “arsy” itu juga untuk menggambarkan ketinggian. Makna ini semakin kuat ketika dihubungkan dengan ayat berikutnya bahwa Allah kemudian menciptakan tujuh lapis langit. Ini menggambarkan bahwa Allah swt. benar-benar maha agung dan maha tinggi. Sebab pencipataan langit adalah salah satu bukti penting kemahatinggian dan kemahaagungan Allah swt.

Allah Maha Mengetahui

                Bila kita renungkan secara mendalam ayat di atas, kita akan dapat kesimpulan bahwa semua penjelasan sebelumnya adalah untuk mengesakan sebuah hakikta penting yaitu bahwa Allah Maha mengetahui. Karena itu dalam penutup ayat Allah swt. berfriman :  “Dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu”. Artinya bahwa Allah swt. setelah menciptakan bumi termasuk segala wujud di dalamnya, dan setelah menciptakan langit, lalu menegaskan bahwa Ia mengetahui segala sesuatu, itu untuk menunjukkan bahwa tidak satu atompun di alam ini kecuali dalam pengetahuanNya. Makna ini akan semakin jelas nila dibandingkan dengan ayat lain dalam surah Al An’am : 59 : “Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang ghaib; tak ada yang mengetahuinya kecuali Dia sendiri, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daunpun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula), dan tidak jatuh sebutir bijipun dalam kegelapan bumi dan tidak sesuatu yang basah atau yang kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfuzh)”.

            Dengan perbandingan ini jelaslah bahwa segala yang tumbuh dari pohon itu parti dalam pengetahuan Allah swt. Segala yang basah dan kering dalam bumi itu juga dalam pengetahuanNya. Bahkan segala daun yang jatuh berapapun julanya di selurh dunia itu juga dalam pengetahuanNya. Bila ternyata pohon-pohon saja yang tidak akan dimintai pertanggungjwaban masuk dalam pengetrahuan Allah swt. apalagi manusia yang kelak pasti akan dihisab. Tapi sayang banyak manusia yang tidak menggunakan akalnya sehingga benayk dari mereka yang meresa tidak diawasi oleh Allah., Sehingga mereka berani berbuat dosa tanpa batas. Wallahu a’lam bishshawab.

About Post Author