Wednesday, August 20

Alquran Muliakan Perempuan

amirfath.com, Artikel (97), Januri 2022 Pada masa jahiliah, kaum perempuan dihinakan. Alquran merekam kisah pembunuhan terhadap anak-anak perempuan tanpa dosa dengan istilah al mau’uudah: Wa idzal mau’uudatu suilat (Ketika anak-anak perempuan yang dibunuh hidup-hidup itu kelak ditanyakan, mengapa mereka dibunuh?) (QS at-Takwir: 8- 9).

Berbagai kondisi yang mendorong perbuatan keji tersebut, di antaranya karena mereka hidup dalam peperangan antarsuku. Sementara kaum perempuan dianggap tidak bisa diajak perang. Dalam surah an-Nahl ayat 58, disebutkan bahwa wajah mereka tampak sedih dan sinis ketika dibe ritahukan bahwa anaknya yang lahir adalah bayi pe rempuan: Wa idzaa busy syira ahaduhum bil untsaa zhalla wajhuhu muswad daan wa huwa kazhiim.

Alquran hadir membawa rahmat bagi seluruh alam, Wamaa arslanaaka illaa rahmatan lil’aalamiin. (QS al- Anbiya: 107), termasuk bagi kaum perempuan. Ada satu surah dengan nama an-Nisa (perempuan). Pesan pokoknya adalah perintah agar berbuat adil kepada yang lemah, terutama kaum perempuan. Tidak boleh kaum laki-laki memperlakukan perempuan seenak nafsunya seperti yang terjadi pada zaman jahiliah.

Karena itu, beberapa ayat dalam surah tersebut merupakan pembelaan terhadap anak-anak perempuan yatim, yang pada zaman jahiliah mereka dinikahi tanpa dibayar maharnya. Termasuk dalam ayat tentang poligami, ditekankan secara kuat bahwa jika kamu tidak sanggup berbuat adil antara istri- istrimu maka cukuplah satu istri saja: Fain khiftum alla ta’diluu fa waahidah. (QS an-Nisa’: 3). Di sini ada penegasan bahwa poligami tidak boleh bagi mereka yang tidak bisa berbuat adil.

Surah Ali Imran yang tema pokoknya adalah tentang pentingnya keteguhan prinsip dalam menghadapi berbagai tantangan hidup, baik secara eksternal maupun internal, sejatinya mengangkat dua perempuan yang agung. Pertama, istri Imran yang bernadzar untuk mewakafkan anaknya kepada Masjidil Aqsha. Allah berfirman: Idz qaalatimra’tu `imraana rabbi inni nadzartu laka maa fii bathnii miharraran fataqabbal minnii. (QS Ali Imran: 35). Kedua, putrinya Maryam yang suci, darinya lahir seorang nabi yang mulia, yaitu Nabi Isa. Allah berfirman: Wa idz qaalatil malaaikatu yaa maryamu innallaahas thafaaki wa thahharaki washthafaaki `alaa nisaail `aalamiin. (QS Ali Imran: 42).

Dalam surah an-Nahl ayat 7-13, direkam tiga kisah perempuan penegak peradaban kenabian. Pertama, seorang ibu yang dengan penuh tawakal, telah melahirkan bayi Nabi Musa, di mana saat itu situasi sangat menegangkan. Fir’aun dengan kesombongannya sedang melakukan sweeping pembunuhan terhadap semua bayi laki-laki yang lahir dari kalangan bani Israil. Kedua, ibunda Asiah istri Fir’aun yang telah melindungi bayi Nabi Musa dari pembunuhan Fir’aun di dalam istana. Ketiga, saudari kandung Nabi Musa yang terus memantau perjalanan bayi Nabi Musa, lalu memberikan usulan agar disusukan kepada seorang ibu yang ternyata itu adalah ibunya sendiri.

“Poligami tidak boleh bagi mereka yang tidak bisa berbuat adil.

Sumber : Republika Senin, 24/01/2022. hal. 16

About Post Author