Kisah Seorang Pejuang Iman
amirfath.com, Artikel (66), November 2021 Seorang penduduk kampung menjadi penting, karena direkam kisahnya oleh Allah SWT dalam Alquran. Para ulama tafsir menyebutkan namanya Ibn Najjar, seka li pun Alquran hanya menyebutkan dengan istilah rajulun (seorang laki-laki) dalam bentuk nakirah (implisit) untuk menunjukkan keagungannya. Bahwa orang tersebut bukan sembarang orang, melainkan ia mempunyai kedudukan istimewa di sisi Allah SWT.
Alquran menggambarkan perjuangannya dengan sangat dramatis dalam surah Yasin: 20-27. Dikatakan bahwa ia bergegas dari ujung kota aqshal madiitanti, ini menunjukkan bahwa ia datang dari jarak yang sangat jauh dengan penuh semangat.Kata yas’aa memberikan kesan bahwa ia bersungguh-sungguh untuk mengajak kaumnya beriman kepada Allah SWT.
Ajakan yang ia serukan ittabi’ul musrasliin (ikutilah para rasul).Bahwa ia datang bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk keselamatan kaumnya agar mereka beriman kepada para rasul yang Allah utus. Ditegaskan juga, bahwa para rasul itu datang dengan penuh keikhlasan, bukan untuk menguasai harta mereka seperti yang mereka sangkakan ittabi’uu man laa yas’alukum ajran wa hum muhtaduun.
Ibn Najjar memberikan alasan bahwa para rasul itu hanya mengajak beriman kepada Allah, Pencipta seluruh manusia.Kata Ibn Najjar, `’Sudah barang tentu aku wajib ber iman kepada yang menciptakan aku.
” Katanya lagi, Wama liya laa a’budulladzii fatharani (Apa alasanku untuk tidak menyembahTuhan yang menciptakanku)?”
Apalagi aku pasti kelak akan menghadap kepada-Nya, untuk mempertanggungjawabkan semua amalku”.
Di puncak kesaksian tersebut, Ibn Najjar dengan lantang berkata kepada kaumnya: Innii aamantu birabbikum fasma’uuni (Sesungguhnya aku telah beriman kepada Tuhanmu, maka dengarkanlah)”. Namun sayang, kaumnya seketika membunuhnya.Ibn Najjar pun mati syahid.
Allah SWT langsung menyambutnya masuk surga qiilad khulil jannah(ayo masuklah surga)”. Di dalam surga Ibn Najjar melihat betapa agung kemuliaan yang Allah berikan kepadanya. Seketika ia teringat kondisi kaumnya di dunia yang masih belum beriman. Ia pun berharap agar kaumnya beriman, supaya kelak bisa bersamanya di surga. Betapa bersih hati Ibn Najjar sebagai pejuang iman.
