Monday, July 21

Tujuan Diciptakannya Manusia

amirfath.com, Artikel (50), Agustus 2021 Imam Ibn Katsir dalam kitabnya “al bidayah wan nihayah” menyebutkan bahwa dua ribu tahun sebelum diciptakannya manusia Allah SWT. telah menciptakan makhluk jin. Namun makhluk jin ini tidak berhasil dalam mengelola bumi. Direkam dalam Al-Quran bahwa setelah beranak-pinak makhluk jin tersebut hanya saling bertumpah darah satu sama lain. Inilah maksud yang disebutkan malaikat “ataj’alu fiiha man yufsidu fiiha wa yasfikud dimaa’” (QS. Al-Baqarah: 30). Pertanyaan malaikat ini terjadi setelah Allah SWT. mengumumkan bahwa akan menciptakan makhluk baru yang akan menglola bumi yaitu manusia. Allah berfirman di ayat yang sama: “innii jaa’ilun fil ardhi khalifah”. Pasalnya memang level intektual jin jauh di bawah level intektual manusia. Dalam riwayat disebutkan “a’qaluhum bi ‘aqli shabiyyuin bi asyri siniin” (paling cerdasnya jin hanya selevel anak manusia umum sepuluh tahun).

Jadi, jelas bahwa tujuan diciptakannya manusia adalah untuk mengelola bumi. Karena itu Allah SWT. meng-upgrade kecerdasan manusia di atas kecerdasan jin. Di saat yang sama Allah SWT. mengawal jangan sampai manusia tersebut salah jalan. Sebab kemampuan manusia untuk berionovasi jauh di atas kemampuan jin. Maka, jika manusia membuat kerusakan otomatis level kerusakan yang diperbuat di atas level keruskan yang diperbuat jin. Bahkan Allah SWT. menggambarkan bila manusia menusia rusak maka kerusakan yang ia lakukan bisa jadi melebihi kerusakan yang diperbuat binatang: “ulaaika kal an’aam bal hum adhallu” (mereka seperti binatang bahkan lebih sesat lagi) (QS. Al-A’raf 179).

Allah maha mengetahui tabiat manusia yang diciptakanNya “alaa ya’lamu man khalaqa wa huwall lathiiful khabiir” (QS. Al-Mulk: 14). Karena itu Allah SWT. menjaganya dan memberitahukan bahwa ada makhluk yang akan memususuhinya namanya setan “innahu lakum aduwwun mubin” (QS. Al-Baqarah: 168). Memang, dari segi penciptaan manusia adalah “ahsanu taqwiim” (paling baiknya penciptaan), namun tidak mustahil ia akan dihinakan karena kebejatannya “tsumma radadnaahu asfala saafiliin” (QS. At-Tin: 4-5). 

Sungguh penjagaanNya sangat ketat. Itulah mengapa manusia pertama Nabi Adam as. langsung Allah pilih sebagai pemimpin, sekaligus nabi. Kepemimpinan ini dilanjutkan kemudian oleh keturunannya, Syits dan Nabi Idris. Selama itu masih belum muncul fenomena kemusyrikan. Sekalipun tidak bisa dipungkiri adanya manusia yang berbuat dosa, seperti yang diperbuat Qabil dan pengikutnya. Sejalan dengan perkembangan jumlah manusia Allah menambah jumlah para nabi.  Nabi terakhir adalah Rasulullah SAW. Artinya, bahwa manusia di manapun dan sampai kapanpun, dalam mengelola bumi tidak bisa tidak harus ikut panduan kenabian.      

 

Sumber : Republika, Jum’at, 06/08/2021. hal. 12

About Post Author