Sunday, August 10

Dakwah Untuk Semua

amirfath.com, Artikel (24), Jan 2021 – Sudahkah sampai kepadamu (ya Muhammad) kisah Musa. Tatkala Tuhannya memanggilnya di lembah suci ialah Lembah Thuwa;”Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya diatelah melampaui batas, dan katakanlah (kepada Fir’aun):”Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)”Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?” (An-Nazi’at 16-19)

Allah Maha Penyayang

                Allah swt. Sang Pencipta, tidak mungkin mencelakakan makhlukNya. Allah utus nabi-nabi untuk memberitahukan kepada semua manusia jalan keselamatan. Bahwa tidak mungkin seseorang selamat di dunia maupun di akhirat bila tidak ikut tuntunan-Nya. Silahkan cari jalan selain jalan yang diajarkan Allah, silahkan gunakan segala kecerdasan dan kecanggihan tehnologi untuk mencapai kebahagiaan, itu semua tidak akan pernah memberikan kebahagiaan hakiki jika manusia tidak mau ikut ajaranNya.

                Ayat di atas adalah gambaran bagaimana Allah swt. sangat sayang kepada makhluk-makhlukNya. Bayangkan, sampai kepada manusia sekafir Fir’aun pun Allah masih mengutus nabi Musa as. Dan nabi Harun as. Itu pun Allah mengajarkan agar memanggil Fir’aun dengan cara yang lembut. Bukan dengan kata-kata yang kasar. Dalam surah Thaha: 43-44, Allah berfirman kepada nabi Musa dan nabi Harun: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembah lembut,mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

                Disini nampak bahwa dakwah harus menyebar, menyentuh semua lapisan sosial, apapun agama mereka. Bahwa kewajiban utama setiap orang-orang beriman hendaklah menyampaikan kebenaran dengan cara-cara bijak, bukan dengan kesombongan dan kekerasan.

                Perhatikan bagaimana rasulullah saw. berdakwah di kota Makkah.sungguh sangat menakjubkan. Di tengah masyarakat yang semuanya kafir, Rasulullah saw. tetap berdakwah dengan cara yang sangat lembut. Semua masyarakat Quraisy sangat kagum dengan akhlaknya yang mulia. Rasulullah saw. tidak pernah membalas kejahatan mereka dengan kejahatan. Rasulullah saw. membalas keburukan mereka dengan kebaikan. Bila mereka sakit, Rasulullah menjadi orang yang pertama kali mengunjunginya. Tidak ada dalam diri Rasul kebencian terhadap mereka, sekalipun mereka sangat memusuhinya. Dalam didi Rasul tetap tertanam keungguhan untuk mengajak mereka kepada kebaikan. Mengajak untuk beriman kepada Allah swt.

Pelajaran Dari Sejarah

                Ayat di atas adalah hiburan bagi Rasulullah saw. hiburan karena pada waktu itu orang-orang kafir Makkah mengejeknya. Mereka mengejek karena Rasulullah saw. memberitahukan mengenai kepastian hari  kebangkitan kembali sesudah mati. Mereka tidak percaya adanya hari Kiamat. Pada ayat sebelumnya (An Nazi’at: 10-12) Allah merekam ejekan mereka yang diucapkan kepada Rasulullah saw:  “(Orang-orang kafir) berkata: “Apakah sesungguhnya kami benar-benar dikembalikan kepada kehidupan yang semula? Apakah (akan dibangkitkan juga), apabila kami telah menjadi tulang belulang yang hancur lumat?” Mereka berkata: “Kalau demikian, itu adalah suatu pengembalian yang merugikan”.

  Disini Allah menceritakan pengalaman Nabi Musa as. Ketika di utus kepada Fir’aun. Seakan Allah menjelaskan, bahwa yang mengalami ejekan bukan hanya engkau Muhammad tetapi juga Musa dan Harun ketika berdakwah kepada Fir’aun. Adalah sunnatullah memang bagi para pelaku dakwah menghadapi ejekan. Tetapi yang paling penting dalam berdakwah adalah ketabahan menghadapi semua tantangan. Tabah bertahan dalam akhlak mulia, jauh dari sikap-sikap yang merusak image terhadap dakwah. Perhatikan Rasulullah saw. dalam berdakwah, tidak pernah berkata-kata kotor. Penampilannya tetap selalu ramah dan penuh kasih sayang. Tidak pernah terkesan adanya sikap dendam dan kejam. Sejarah merekam bahwa Rasulullah saw. selalu memaafkan orang-orang yang pernah memusuhinya.

Datangilah Mereka

                Allah swt. memerintahkan Nabi Musa agar mendatangi Fir’aun. Allah berfirman memerintahkan Musa: “Pergilah kamu kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas dan katakanlah (kepada Fir’aun): “Adakah keinginan bagimu untuk membersihkan diri (dari kesesatan)” Dan kamu akan kupimpin ke jalan Tuhanmu agar supaya kamu takut kepada-Nya?”

     Dalam surah Tha Ha: 43-44 Allah berfirman: “Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas; maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lembah lembut,mudah-mudahan ia ingat atau takut”.

Dari ayat tersebut ada beberapa pelajaran:

  • Bahwa dakwah merupakan dasar utama dalam mengajak orang lain kepada Islam. karenanya ia harus menjangkau semua lapisan masyarakat. Siapapun dia, termasuk manusia yang paling kafir sekalipun seperti Fir’aun. Dakwah tidak boleh dibatasi hanya kepada orang-orang tertentu. Dakwah disampaikan supaya kelak di hari Kiamat tidak ada alasan bagi mereka yang masih kafir.

   Bahwa mereka memilih kekafiran atau kedurhakaan bukan karena tidak tahu, melainkan atas pilihan mereka sendiri secara sadar. Dari sini nampak bahwa Allah swt. tidak pernah menginginkan manusia sesat jalan. Allah maha pengasih dan penyayang. Dalam sebuah hadits riwayat Imam Bukhari dan Abu Hurairah ra bahwa Allah swt. ketika memutuskan penciptaan makhlukNya menulis di atas arasyNya: “inna rahmatii sabaqat gha dhabii (sesungguhnya kasih sayangKu lebih besar dari kemarahanKu) (Shahih Bukhari 6/2700).

  • Bahwa tema pokok dakwah adalah mengajak manusia kepada taubat dan pembersihan diri. Itulah makna ayat: faqul hal laka ilaa an tazakka. Kata tazakka menunjukkan makna pembersihan diri. Dalam Al Qur’an pembersihan diri, ketika diaitkan dengan istighfar atau taubat. Karenanya Nabi Nuh as. Ketika bersakwah kepada kaumnya ia mengatakan: faqultus taghfiruu rabbakum innahuu kaana ghaffaara (maka aku katakan kepada mereka: “Mohonlah mapun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun) (QS. Nuh:10). Dari sini nampak bahwa misi utama dakwah adalah mengajak taubat kepada Allah. Memohon ampunanNya. Sebab hanya dengan kembali kepada Allah, kebahagiaan akan dicapai. tidak mungkin bahagian manusia yang jauh dari Allah. Merekahanya cape-cape hidup di dunia, sementara ujung-ujungnya menjadi bahan bakar neraka. Allah swt. sangat menyayangkan manusia yang salah jalan. Mengapa mereka tidak mau mendengarkan tuntunan-Nya? Mengapa mereka tidak mau melihat nikmat-nikmatNya? Akibatnya mereka sombong. Karena kesombongan itulah mereka kemudian tidak mau menerima kebenaran risalah dakwah yang dibawa para nabi.
  • Bahwa dakwah itu hendaklah selalu lembut dan bijak. Bukan dengan bahasa yang kasar dan keras. Perhatikan ayat di atas, sampaipun kepada Fir’aun Allah swt. menyuruh nabi Musa as. Dan nabi Harun agar berusaha menyampaikan ajakannya dengan cara yang lembut. Artinya, bahwa dakwah itu tidak memaksa. Dakwah hanyalah mengajak dan membantu orang lain agar kembali kepada Allah.

Dalam surah Al Ghasiyyah: 21-22 Allah berfirman: “fadzakkir innamaa anta mudzakkir lasta ‘alaihim bimusaithir” (Maka berilah peringatan, karena sesungguhnya kamu hanyalah orang yang memberi peringatan. Kamu bukanlah orang yang berkuasa atas mereka).

   Para ulama tafsir menerangkan ayat ini sebagai penegasan bahwa dakwah tidak boleh memaksa. Dakwah harus dilakukan dengan penuh hikmah dan memberikan pemahaman yang benar. Ingat, bahwa masing-masing manusia mempunyai daya serap dan tingkat keimanan yang berbeda-beda. Orang yang pincang tidak bisa dipaksa untuk berlari kencang. Orang yang buta tidak bisa dipaksa untuk melihat dengan mata. Maka dakwah harus selalu melihat kondisi masing-masing mad’u (objek dakwah). Maksudnya bahwa cara dan metodologi dakwah harus selalu fleksibel, berkembang dan penuh dengan daya tarik, sesuai dengan kondisi dan situasi dengan catatan: (a) Segala yang ditempuhnya sesuai dengan tuntunan Islam.

(b) Tidak sampai mengorbankan inti risalah dakwah yaitu mengajak manusia menyucikan diri dan kembali kepada Allah swt. inilah makna ayat: faqul hal laka ilaa an tazakka

(c) Mengajak manusia takut kepada Allah, seperti Allah firmankan: wa ahdiyaka ilaa rabbika fatakhsyaa

Wallahu a’lam bishshawwab

About Post Author