Barisan Dakwah Itu Harus Solid
amirfath.com, Opini (27), Jan 2021 – “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.”
Dalam Al Qur’an ada satu surah namanya Ash Shaf artinya barisan yang kokoh. Dalam shalat berjamaah disyaratkan barisan (shaf) harus lurus. Karena ketidak lurusan shaf akan menyebabkan hati bercerai-berai. Pada ayat di atas, kita temukan kata shaffa yang artinya barisan pasukan umat Islam harus lurus dan kokoh, Ka’annahum bunyaanun Marshush (mereka seperti bangunan yang kuat, tidak tergoyahkan).
Amal Yang Paling Dicintai Allah
Imam Al Qurthuby meriwayatkan, bahwa ayat di atas turun ketika para sahabat bertanya: “Law Na’lam Ayyul A’maali Ahabbu Ilallahi La’amilnaahu”, (seandainya kami tahu amal yang paling Allah cintai, niscaya kami akan melakukannya), lalu turunlah ayat di atas. Benar, ayat ini berkenaan dengan masalah barisan perang, tetapi pada dasarnya semua barisan sama. Baik itu barisan dalam shalat maupun barisan dalam dakwah, apalagi dalam perang, itu harus solid. Karena itu Rasulullah saw. selalumengingatkan sebelum shalat agar barisan (shaf) diluruskan. Bahkan Rasulullah saw tidak pernah memulai shalatnya sampai semua barisan (shaf) benar-benar rapi. Perhatikan betapa makna solidaritas barisan ini benar-benar sangat penting, sebagai cerminan ketaatan bagi orang-orang yang beriman.
Dari firman Allah di atas: “Innallaha Yuhibbu”, nampak bahwa Allah benar-benar sangat mencintai barisan yang solid. Artinya, sekalipun seseorang banyak melakukan ibadah ritual, seperti shalat, puasa, zakat, dan haji, tetapi jika dalam akhlaknya sehari-hari merusak persatuan umat Islam, itu semua tidak akan membuat Allah cinta kepadanya. Perhatikan Allah mengakitkan cintaNya dengan solidaritas barisan, bahwa untuk meraih cinta Allah,seorang hamba harus bersatu dengan saudaranya. Tidak boleh saling menjatuhkan, menjelekkan, karena perbedaan fikih atau jamaah, apalagi saling membunuh. Karenanya kita menemukan contoh-contoh yang sangat mengagumkan dari tradisi para ulama, bahwa mereka sekalipun berbeda mazhab fikih, mereka saling menghormati di antara mereka. Imam Ahmad mengatakan: “Aku tidak akan menjelekkan orang-orang yang mengatakan, bahwa menyentuh kemaluan tidak membatalkan wudhu’ sekalipun itu sependapat dengan aku”. Imam Syafi’ie tidak membaca qunut ketika menjadi imam di tengah masyarakat yang bermadzhab Hanafi. Ketika di tanya mengapa ia tidak membaca qunut, padahal baginya sunnah muakkadah dalam shalat subuh, Imam Syafi’ie menjawab;”Aku menghormati pendapat Imam Abu Hanifa”. Perhatikan, betapa ulama benar-benar memahami bahwa perbedaan fikih tidak boleh menyebabkan lahirnya fanatisme buta, bahkan harus saling menghormati antar satu dengan lain. Ini antara berbagai madzhab, bahwa soliditas keutamaan itu harus ditegakkan, apalagi dalam satu jamaah dakwah yang jelas-jelas semuanya berbuat untuk menegakkan ajaran Allah swt.
Mengapa solidalitas barisan ini termasuk amal yang paling dicintai Allah?
Pertama. Bahwa dari solidalitas akan lahir kekompakan. Dari kekompakan akan lahir sinergi yang berkesinambungan. Bukankah kita hidup di alam ini karena sinergi yang utuh antar seluruh unsur yang Allah ciptakan di dalamnya. Dalam ilmu biologi itu di kenal dengan istilah ekosistem. Perhatikan bahwa semua proses dalam hidup kita sehari-hari sangat membutuhkan soliditas. Dalam tubuh kita, kita temukan bahwa semua organ bekerjasama dengan soliditas sehingga kita merasakan nikmatnya. Sungguh tidak terbayang apa yang akan kita rasakan jika masing-masing organ dalam tubuh kita bekerja sendiri-sendiri dan bercerai-berai. Berdasarkan ini, nampak soliditas itu fitrah. Dan kita semua tidak akan pernah menghindarinya. Sekali menghindar kita pasti akan menderita, bahkan itu akan menyebabkan malapetaka bagi kemanusiaan. Karena itu menegakkan soliditas dalam usaha apa saja –apalagi dalam usaha dakwah- adalah suatu keniscayaan. Maka, sungguh berdosa ketika seseorang mengaku beriman kepada Allah, sementara dalam menegakkan ajaranNya tidak solid, apalagi saling membunuh antar sesamanya.
Kedua. Soliditas barisan adalah bagian dari iman. Perhatikan ayat sebelumnya, Allah memanggil orang-orang yang beriman untuk berfirman: “Limaa Taquuluuna Maa Laa Taf’aluun”, artinya (wahai orang-orang yang beriman, mengapa kalian mengatakan apayang tidak kalian lakukan). Maksudnya, mengapa kalian mengaku beriman jika kalian tidak mau bersatu dalam barisan yang kokoh. Ini menarik untuk kita tekankan. Sebab, fenomena perpecahan di kalangan umat Islam kini di anggap biasa. Padahal menurut ayat di atas menegakkan persatuan yang solid adalah ciri utama keimanan. Dengan kata lain, bahwa tidak ada artinya iman yang dimiliki seseorang jika kemudian saling bermusuhan sesama mu’min. Bahkan dalam surah Al Hujurat: ayat ke 10, Allah berfirman: “Innamal Mu’minuuna Ikhawatun”, kata innama dalam pandangan ulama tafsir bermakna lilhashr maksudnya “identifikasi”. Artinya, bahwa orang yang beriman identik dengan persaudaraan. Maksudnya, tidak pantas seseorang mengaku beriman jika kemudian tidak bersaudara satu dengan lainnya. Sama dengan ayat dia atas, bahwa tidak pantas seseorang mengatakan bahwa dirinya beriman jika dalam prakteknya tidak bersatu dalam barisan yang kokoh.
Ketiga. Bahwa tidak solid dalam barisan dakwah adalah perbuatan dosa. Perhatkan, Allah berfirman pada ayat sebelumnya:”Amat dibenci oleh Allah bahwa kamu mengatakan apa-apayang tidak kamu kerjakan”. Lalu Allah menegaskan bahwa sanagt suka kepada orang-orang yang berjuang di jalanNya dengan barisan yang solid. Artinya, bahwa syarat untuk mendapatkan cinta Allah, bukan hanya semata berjuang di jalanNya, tetapi juga harus bersatu dalamsatu barisan yang solid. Ini pemahaman yang banyak disalah pahami oleh umat Islam, sehingga mereka tidakmau bersatu dengan umat Islam lainnya,. Padahal shalatnya masih sama, kiblatnya juga masih sama, Allah yang disembahpun juga masih sama. Akibatnya mereka mudah di adu domba. Tidak sedikit dari nyawa orang Islam yang melayang hanya karena perang saudara.
Bagai Satu Bangunan Yang Kokoh
Pada ayat berikutnya Allah berfirman: “Ka’annahum Bunyaanun Marshush”, (mereka seperti bangunan yang kokoh). Apa artinya:
Pertama. Bahwa masing-masing bahan bangunan itu berkualitas baik. Tidak mungkin bangunan itu tegak kokoh jika batu batanya rapuh atau kualitas pasir dan semennya tidak baik. Begitu juga dalam dakwah,bahwa masing-masing individu harus mempunyai iman dan keikhlasan yang benar-benar berkualitas. Di sini peran tarbiyah harus dioptimalkan.
Kedua, bahwa bahan-bahan bangunan itu bukan hanya baik secara individual, melainkan harus bisa disinergikan dengan bahan-bahan lainnya. Artinya, bahwa kualitas masing-masing aktifis dakwah hendaknya bukan hanya baik secara individu, melainkan ia mampu bersinergi dengan orang lain. Itulah rahasia mengapa Allah mengumpamakan dengan bangunan. Bahwa seorang muslim tidak cukup hanya menjadi soleh sendirian, melainkan ia harus bersinergi untuk membuat orang lain beramal saleh. Dalam rangka ini sangat dibutuhkan soliditas barisan dakwah.
Ketiga. Bahwa bangunan dikatakan kokoh bila bertahan lama, dan tidak mengalami kerapuhan di tengah musim apapun, baik panas ataupun hujan.begitu juga barisan dakwah dikatakan solid bila ia tetap utuh, tidak terpengaruh dengan rayuan dan godaan apapun. Pun juga tetap istiqamah memegang prinsip sekalipun situasi dan kondisi memaksanya harus berubah. Ia tidak pernah bubar barisan. Itulah rahsia mengapa Allah Swt mengumpamakan dengan bangunan yang kokoh. Karena bangunan akan melindungi dan bisa memberikan rasa aman kepada penghuninya bila ia kokoh dan solid.
Wallahu A’alam Bisshawab