Agar Tidak Berguguran Di Jalan Dakwah
amirfath.com, Artikel (22), Jan 2021 – Nuh kepada kaumnya (dengan memerintahkan): “Berilah kaummu peringatan sebelum datang kepadanya azab yang pedih”. Nuh berkata: “Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu, (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan ta’atlah kepadaku”. (QS. Nuh 2-3)
Ayat ini menceritakan alasan mengapa Allah swt. mengutus nabi Nuh alaihissalam? Pertama: an nadzir qawmaka (untuk memberikan peringatan kepada kaumnya), peringatan agar kaumnya kembali kepada Allah Sang Pencipta. Peringatan agar mereka tidak terus-menerus hidup dalam gelimang dosa, sebab Allah menciptakan semua wujud di alam ini mempunyai tujuan yang mulia. Yaitu ani’ budullaha wattaquuhu wa athi ‘uuni (menyembah kepada Allah, bertakwa kepadaNya dan mentaati tuntunan RasulNya). Kedua, min qobli ayya ‘tiyahum adzaabun aliim (sebelum datangnya adzab Allah sangat pedih). Bahwa diutusnya Nabi Nuh untuk menyelamatkan kaumnya agar tidak di adzab oleh Allah swt. Adalah sunnatullah bila suatu kaum tidak mau ikut tuntunanNya mereka pasti akan mengalami adzab yang tidak mungkin bisa dihalangi oleh siapapun.
Inilah pemahaman yang dibawa Nabi Nuh alaihissalam, karenanya ia langsung berdakwah: qaala yaa qawmi innii lakum nadziirun mubiin (Hai kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan kepada kamu), Pemahaman bahwa tugas dakwah adalah untuk mengembalikan manusia kepada Allah Sang Pencipta. Bahwa manusia diciptakan bukan untuk menandingi Allah, melainkan sebagai khalifah (pelaksana ajaran-ajaranNya) yang tidak boleh sama sekali bersebrangan dengan tuntunanNya. Karena itulah semangat Nabi Nuh menceritakan: qaala rabbi inni da’ watu qawmii laylan wa nahara (ya Allah aku telah mengajak kaumku malam dan siang).
Perhatikan spirit Nabi Nuh yang tidak pernah padam. Spirit bahwa tugas dakwah adalah tugas menyelamatkan kemanusiaan. Bahwa dakwah bukan menghakimi, melainkan mengajak kepada kebaikan. Mengajak kepada ketaatan kepada Allah swt. supaya Allah tidak murka dan tidak menurunkan adzabNya. Banyak orang salah paham tentang dakwah. Dianggapnya dakwah itu hanyalah pekerjaan pilihan, siapa yang mau silahkan, dan siapa yang tidak mau silahkan? Disangkanya berdakwah itu hanya tugas para ustadz saja? Disangkanya dakwah itu berceramah saja? Tidak, tidak demikian dakwah harus dipahami. Dakwah adalah tugas setiap orang yang beriman. Di zaman Nabi Shalallahu alaihi wa sallam, yang berjalan untuk berdakwahbukan hanya Nabi, melainkan semua sahabat radiyallahu anhum. Sama juga sekarang, yang harus berdakwah bukan hanya seorang ustadz, melainkan semua orang yang mengaku beriman kepada Allah dan RasulNya. Itulah rahasia mengapa Allah dalam surah Al Ashr tidak hanya berfirman illalladziina aamanuu wa amilush shaalihaat lalu berhenti, melainkan menambah dengan watawashaw bil haqqi watawasshaw bishshbri. Perhatikan kandungan surah Al Ashr tersebut, ini menunjukkan dua hal: (a) Bahwa tidak cukup seseorang setelah beriman ia hanya melakukan ‘amilush shaalihaat, melainkan ia harus melakukan tawashi (baca: dakwah). (b) Bahwa tugas tawashi bukan optional, melainkan juga kewajiban. Perhatikan Allah swt. mengulang kata watashi sampai dua kali watawashaw bil haqq watawashaw bishssbri. Ini artinya bahwa kewajiban melakukan tawashi bukan masalah spele, melainkan masalah besar yang dispelekan oleh banyak umat Islam.
Jelasnya bahwa tugas berdakwah adalah tugas yang sangat mulia. Sungguh tidak pantas seorang beriman menganggap bahwa dakwah adalah optional, sehingga ia mengundurkan diri atau meninggalkannya. Perjalanan Nabi Nuh yang Allah ceritakan dalam surah Nuh, adalah contoh keistiqamahannya dalam berdakwah, sekalipun harus melakukannya selama 950 tahun, dan sekalipun pengikutnya tidak banyak, Nabi Nuh tetap istiqamah, tidak pernah terlintas dalam benaknya pikiran ingin istirahat atau pensiun atau berhenti. Nabi Nuh terus maju, tanpa kenal lelah. Nabi Nuh terus menjalankan tugasnya sampai ia menghadap Allah swt. berdasarkan pengalaman Nabi Nuh ini, para da’i harus mengambil beberapa pelajaran sebagai bekal supaya tetap Istiqomah dan tidak berguguran di jalan dakwah:
- Benar-benar Paham Hakikat Dakwah (al Fahmud daqiiq)
Paham bahwa dakwah ini kewajiban setiap orang beriman, karena di zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wa sallam, tidak ada yang mengatakan bahwa dakwah ini hanya tugas Nabi. Begitu para sahabat beriman, di saat yang sama mereka langsung menyebarkan imannya. Mereka langsung mengajak orang lain beriman. bedanya dengan orang Islam sekarang, adalah bahwa banyak orang Islam beranggapan bahwa dakwah itu hanya kewajiban para ustadz. Akibatnya mereka tidak tahu menahu tentang dakwah. Tidak sedikit dari orang Islam yang justru memusuhi orang Islam yang berwakwah. Padahal seharusnya sesama muslim saling mendukung, bersinergi dan saling melengkapi.
Akibat selanjutnya dari pemahaman yang sempit ini, banyak orang Islam yang menegakkan shalat, puasa, zakat, dan haji. Tetapi rajin berbuat maksiat, seperti korupsi, berzina dan lain sebagainya. Mengapa? Karena mereka merasa tidak mempunyai kewajiban berdakwah. Mereka paham bahwa berdakwah itu hanya tugas para ulama. Padahal tidak demikian sebenarnya. Ingat bahwa ancaman Allah dipembukaan surat Nuh di atas adalah jika tidak ada yang berdakwah, adzab Allah pasti akan turun. Ingat juga kandungan surat Al Ashr, bahwa Allah menegaskan orang-orang yang selama bukan karena mereka hanya beriman dan beramal saleh, melainkan lebih dari itu mereka melakukan tawashi. Dan tawashi itu adalah dakwah.
Bila pemahaman seperti ini tidak mendalam, dan hanya sekilas saja terlintas di benar orang-orang Islam, maka otomatis mereka tidak akan bersungguh-sungguh berdakwah. Mereka akan acuh tak acuh terhadap dakwah. Mereka akan mudah meninggalkannya. Mereka akan berkata, ah masih banyak amal saleh yang lain selain dakwah. Coba bayangkan, apa yang terjadi jika setiap sahabat Nabi berkata: ah itu kan tugas Nabi, ah masih banyak amal saleh yang lain dsb? Hari ini kita tidak akan mengenal Allah, dan todak akan beriman kepadaNya. Bayangkan apa yang dialami manusia di muka bumi ini jika semua tidak beriman kepada Allah? Pasti malapetaka seperti yang pernah Allah turunkan kepada kaum Asd, Tsamud dan Fir’aun.
- Iman Yang Kokoh (al imaanul ‘amiiq)
Iman yang kokoh artinya beriman seperti imannya Nabi Nuh yang tidak pernah goyah, sekalipun semua orang menolak dakwahnya selama 950 tahun. Nabi Nuh selam itu tetap yakin bahwa jalan yang ia tempuh adalah benar. Karenanya kemudian Allah mengadzab kaumnya sekalipun mereka mayoritas, dan menyelamatkan Nabi Nuh dan pengikutnya sekalipun mereka minoritas. Nabi Nuh yakin bahwa jalan yang ia tempuh benar menuju Allah swt. sekalipun harus menghadapi cacian dan cercaan dari kaumnya. Allah berfirman: Dan mulailah Nuh membuat bahtera. Dan setiap kali pemimpin kaumnya berjalan melewati Nuh, mereka mengejeknya. Berkatalah Nuh: “jika kamu mengejek kami, maka sesungguhnya kami (pun) mengejekmu sebagaimana kamu sekalian mengejek (kami) (QS. Hud: 38).
Nabi Nuh yakin bahwa kemenangan pasti akan dicapai selama ia istiqamah di jalan dakwah. Sebab Allah berjanji: (yaitu) sembahlah olehmu Allah, bertakwalah kepada-Nya dan taatlah kepadaku, niscaya Allah akan mengampuni sebagian dosa-dosamu dan menangguhkan kamu sampai kepada waktu yang ditentukan. Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui” (QS. Nuh: 3-4). Keyakinan yang matang seperti keyakinan Nabi Nuh tidak akan mudah digoyah oleh kepentingan sesaat. Pun juga tidak akan mudah digoyah oleh syubhat-syubhat, yang lahir dari prasangka buruk, tuduhan-tuduhan dan lain sebagainya. Bila ini yang di miliki seorang da’i, maka ia tetap tegar berdakwah dimanapun ia berada.
- Selalu Dekat Kepada Allah (al ittishaalul watsiiq)
Seorang da’i pekerjaan utamanya adalah mengajak kepada Allah. Maka ia harus dekat kepada Allah. Karena tidak mungkin seseorang yang jauh dari Allah mengajak kepadaNya. Seorang Jubir kepresidenan ia harus benar-benar dekat dengan Presiden. Lebih berbahaya ia akan menyampaikan sesuatu yang bertentangan dengan keinginan Presiden tersebut. Itulah sebabnya mengapa Allah swt. memerintahkan Rasulullah saw. tidak hanya menegakkan shalat fardhu melainkan juga shalat malam. Simaklah Allah berfirman dalam surah Al Muzzamil:1-5 : Hai orang-orang yang berselimut (Muhammad),bangunlah (untuk sembahyang) di malam hari, kecuali sedikit (daripadanya), (yaitu) seperduanya atau kurangilah dari seperdua itu sedikit, atau lebih dari seperdua itu. Dan bacalah Al Qur’an itu dengan perlahan-lahan. Sesungguhnya Kami akan menurunka kepadamu perkataan yang berat.
Jelasnya bahwa tidak mungkin seorang yang jauh dari Allah bisa berdakwah. Tidak mungkin seorang yang tidak paham kemauan Allah, bisa istiqamah menyebarkan ajaranNya. Tidak mungkin seorang yang tidak ada hubungan dengan Allah kenal apa yang Allah ajarkan. Ibarat “marketer” seorang da’i harus benar-benar kenal produk yang akan dipasarkan. Jika tidak ia akan seenaknya menyampaikan kemauannya, lalu memorang da’i model ini tidak akan pernah bertahan lama dijalan dakwah.