Al Fajr (Fajar)
amirfath.com, Tadabur Surah Al Fajr (89), Des 2020 – Dinamai al fajr karena pada ayat pertama surat ini Allah bersumpah dengan fajar. Allah bersumpah dengannya bahwa orang-orang kafir tidak akan bisa mengelak dari azabNya sebagaimana yang terjadi pada umat terdahulu yang dibinasakanNya, seperti kaum ‘Aad, Tsamud dan Fir’aun.
Ada tiga hal yang berkaitan dengan surat sebelumnya (al Ghasyiyah); (a). Sumpah Allah diawal surat ini (1-14) merupakan dalil yang membenarkan ayat terakhir surat sebelumnya inna ilaina iyabahum, stumma inna ‘alaina hisabahum. (b). Dalam surat sebelumnya Allah menyebutkan dua kelompok manusia: asyqiya yang mempunyai wajah terhina dan su’adaa yang mempunyai wajah berseri, demikian juga dalam surat ini disebutkan kelompok-kelompok thughat (durhaka): ‘Aad, Tsamud dan Fir’aun, dan kelompok orang-orang beriman yang selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah. (c). Pengertian ayat alam taro kaifa fa’ala robbika bi ‘aad mirip gayanya dengan ayat afala yandzuruuna ilal ibili kaifa khuliqat dalam surat sebelumnya. Hanya saja yang pertama ajakan untuk belajar dari sejarah dan yang kedua ajakan untuk menyaksikan keagungan Allah dan kekuasaanNya yang terdapat di alam semesta.
Secara ringkas paling tidak ada tiga hal pokok kandungan surat ini; Pertama, penjelasan bahwa orang-orang kafir tidak akan bisa lari dari azabAllah. Kedua, kisah umat-umat terdahulu yang mendustakan utusan Allah. Ketiga, penegasan bahwa hidup merupakan ujian dari Allah. Keempat, adanya dua golongan manusia diakhirat; asyqiya’ dan su’adaa’. Untuk lebih detilnya mari kita ikuti keterangan berikut:
1.(ayat 1-5) Allah bersumpah dengan fajar (waktu subuh) sebagai waktu hilangnya gelap dari malam, lalu bersumpah dengan sepuluh malam (awal bulan dzulhijjah atau akhir ramadhan), lalu bersumpah dengan angka genap (asy syaf’u) dan angka ganjil (alwitr), lalu bersumpah dengan waktu malam ketika gelap. Semua itu sangat berkaitan dengan ciptaanNya (lihat QS. Al haqqah 69/38-39 dan al Muddastir 74/33). Setelah itu Allah kuatkan lagi sumpahNya (ayat:5), dengan pernyataan: “Apakah bersumpah dengan ini semua masih belum memuaskan orang-orang yang berakal? Orang yang cerdas pasti akan mengakui keseriusan sumpah ini.
2. (ayat 6-14) Allah menceritakan tiga kisah umat terdahulu secara singkat: Pertama, diadzabnya kaum ‘Aad (keturunan Nabi Nuh) disebut juga penduduk Iram, karena kesombongannya (lihat Fussilat 41/15). Mereka adalah kaum yang paling kuat secara fisik, berbadan bongsor, berperadaban tinggi karena telah mampu membangun rumah-rumah di atas tiang-tiang tinggi menjulang. Kedua, Kaum Tsamud (umat nabi Sholeh as.) yang mampu melubangi batu-batu untuk dijadikan rumah-rumah tempat mereka berlindung, hebatnya lagi mereka bisa membangun istana-istana megah di atas batu-batu tersebut. (lihat Asy Syu’ara’ 26/149, Al Hijr 15/82). Ketiga, Fir’aun (umat Nabi Musa) seorang Raja Mesir yang memiliki bangunan-bangunan tinggi, seperti piramid-piramid, didukung dengan tentara yang banyak untuk menyiksa manusia (awtaad). Ketiga golongan manusia ini terkenal dengan kezaliman dan permusuhannya yang melampui batas, sehingga mereka banyak membuat kerusakan di bumi ini. Maka Allah menimpakan kepada mereka cambuk azabNya yang sangat pedih sebagai balasan di dunia atas perbuatannya, dan diakhirat mereka kelak akan dimasukkan ke dalam api neraka.
3.(15-20) Setelah menjelaskan bahwa segala perbuatan manusia diintai (bilmirshaad) Allah menegaskan bahwa kekayaan dan kemiskinan adalah ujian, hanya sayangnya banyak manusia salah paham: Akibatnya ketika diberikan kepadanya limpahan harta ia berkata: “Allah telah memulyakanku”. Dan ketika diberikan kemiskinan ia berkata: “Allah telah menghinaku”. Padahal tidak, itu hanyalah ujian. Jadi kekayaan bukan bukti kesuksesan seseorang, pun bukan tanda kemulyaan sebagaimana kemiskinan bukan tanda kehinaan dan kerendahan diri. Karena kemulyaan dan kehinaan disisi Allah bukan terletak pada banyak atau sedikitnya harta, tapi terletak pada ketaatan kepadaNya. Allah berfirman: inna akramakum inddallahi atqaakum (QS. Al Hujarat 49/13). Apalah arti sebuah kekayaan, tetapi Allah membencinya. Dan sungguh kemiskinan menjadi kemulyaan ketika seseorang mewarnainya dengan ketakwaan.
Allah segera menolak persepsi yang salah ini dengan firmannya “kalla” (tidak demikian pengertiannya dalam menyikapi kedua kondisi tersebut). Sebab Allah memberi harta kepada orang yang dicintai dan yang tidak, juga menyempitkan orang yang dicintai dan yang tidak. Yang diinginkan Allah adalah ketaatan padaNya baik dalam keadaan kaya maupun miskin. Lalu Allah menyebutkan perbuatan buruk mereka ketika telah dilimpahkan kepadanya keluasan harta: (a). mereka tidak memperlakukan anak yatim dengan baik, Rasulullah bersabda ” sebaik-baik rumah orang Islam yang didalamnya terdapat anak yatim yang diperlakukan dengan baik”. Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Saya akan berdekatan dengan penyantun anak yatim di surga seperti (kedua jari ini) (b). Tidak peduli kepada orang miskin dan orang yang membutuhkan bantuannya. (c). Makan harta warisan dengan rakus halal maupun haram. (d). Sangat mencintai dunia. Artinya mereka sangat mencintai dunia diatas segala-galanya dan melalaikan akhirat.
3.(21-26) Lalu Allah menyebutkan tiga kondisi menakutkan ketika hari kiamat tiba: (a). Bumi digoncangkan sehingga gunung-gunung hancur sama rata dengan bumi. (b). Allah datang untuk memasuki hari pembalasan dan para malaikat berbaris penuh ketundukan dan ketakutan. (c). Neraka ditampakkan kepada calon-calon penghuninya. Pada saat itu mereka baru menyadari dengan penuh penyesalan. Sejak itu nampak bahwa tidak ada sikaan yang lebih pedih dari pada siksaan di hari itu, dan tidak rantai pengikat yang lebih besar dari pada rantai Allah.
4.(27-30) Lalu Allah memanggil jiwa yang tenang yang selama di dunia selalu menahan diri dari hawa nafsunya, simaklah panggilanNya:”wahai jiwa-jiwa yang tenang (dengan keimanan, yang tidak ada sedikitpun keraguan dalam akidahnya), kembalilah kepada keharibaan dan keridhoan Tuhanmu, (kepada pahala yang telah diberikan kepadamu), masuklah kedalam kelompok hamba-hambaKu (yang sholeh) dan masuklah ke surgaKu”. Itulah kemulyaan yang tiada tara, yang hanya diberikan kepada penghuni surga.
Tafsir Al Hikmah
Dr. Amir Faishol Fath MA.
فضل صلاة الصبح وسنة الفجر والعصر
(keutamaan shalat shubuh, sunnah fajar dan ashar)
عن جندب بن سفيان رضي الله عنه قال : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : من صلى الصبح فهو في ذمة الله ، فانظروا يابن آدم لايطلبنك الله من ذمته بشيئ.(رواه مسلم)
Rasulullah SAW bersabda: siapa yang shalat shubuh maka ia dalam tanggungan Allah, maka waspadalah hai anak Adam, jangan sampai Allah memintamu sesuatu dari tanggunganNya.
عن عائشة رضي الله عنها، أن النبي صلى الله عليه وسلم قال: ركعتا الفجر خير من الدنيا وما فيها. (رواه مسلم)
Rasulullah SAW bersabda: dua rakaat fajar (shalat sunnah sebelum shubuh) lebih baik dari dunia dan seisinya.
عن جرير بن عبد الله البجلي رضي الله عنه قال: كنا عند النبي صلى الله عليه وسلم فنظر إلى القمر ليلة البدر، فقال : إنكم سترون ربكم كما ترون هذا القمر لا تضامون في رؤيته ، فإن استطعتم أن لاتغلبوا على صلاة قبل طلوع الشمس وقبل غروبها فافعلوا. (متفق عليه)
Jarir bin Abdullah berkata: kami bersama rasulullah SAW, ia melihat bulan purnama pada malam lailatul qadr sambil berkata: kamu akan melihat kepada Tuhanmu sebagaimana kamu melihat bulan purnama ini
Tidak silau melihatnya, maka jika kamu mampu janganlah kamu mengalahkan shalat sebelum terbit matahari (fajar subuh) dan sebelum terbenamnya (ashar), maka lakukanlah.
فضل جماعة الصبح والعشاء
(keutamaan shalat berjama’ah shubuh dan Isya)
عن عثمان بن عفان رضي الله عنه قال: سمعت رسول الله صلى الله عليه وسلم يقول: من صلى العشاء في جماعة فكأنما قام نصف الليل، ومن صلى الصبح في جماعة فكأنما صلى الليل كله. (رواه مسلم)
Usman bi ‘Affan ra. Berkata : aku mendengar Rasulullah Saw bersabda: siapa yang sembahyang berjama’ah isya baginya seperti shalat tengah malam dan siapa yang shalat shubuh berjama’ah maka baginya seperti shalat satu malam penuh.
عن أبي هريرة رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: ليس صلاة أثقل على المنافقين من صلاة الفجر والعشاء، ولو يعلمون ما فيهما لأتوها ولو حبوا (متفق عليه)
Rasulullah Saw bersabda: tidak ada shalat yang lebih berat bagi orang-orang munafiq dari pada shalat fajar dan isya, kalaulah mereka mengetahui pahala didalam kedua shalat tersebut, mereka pasti mendatanginya meskipun dengan merangkak.
فضل الرأفة باليتيم والضعفاء
(keutamaan belas kasih pada anak yatim dan orang lemah)
عن سهل بن سعد رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا، وأشار بالسبابة والوسطى وفرج بينهما. (رواه البخاري)
Rasulullah SAW bersabda: saya dan orang yang menjaga anak yatim dengan baik disorga seperti ini, dan menunjuk dekatnya jari telunjuk dan jari tengah.
عن أبي هريرة قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم : بئس الطعام طعام الوليمة يدعى إليها الأغنياء ويترك الفقراء. (رواه البخاري)
Rasulullah bersabda: sebusuk-busuknya makanan, makanan walimah yang hanya mengundang orang kaya dan meninggalkan orang miskin.
عن عائشة رضي الله عنها قالت: دخلت علي امرأة ومعها ابنتان لها تسأل فلم تجد عندي شيئا غير تمرة واحدة فأعطيتها إياها، فقسمتها بين ابنتيها ولم تأكل منها ثم قامت فخرجت، فدخل النبي صلى الله عليه وسلم علينا فأخبرته، فقال: من ابتلي من هذه البنات بشيئ فأحسن إليها كن لها سترا من النار (متفق عليه)
Aisyah ra. Berkata: seorang wanita peminta datang kerumahku bersama dua putrinya, aku tidak punya apa-apa kecuali satu biji kurma maka aku berikan padanya, lalu dibagikan kepada kedua anaknya dan ia tidak kebagian. Ketika Rasulullah Saw masuk aku ceritakan padanya, beliau bersabda: siapa yang diuji dengan dua anak perempuan, lalu mendidiknya dengan baik, kelak mereka menjadi dinding penutup api neraka.
عن أبي شريح بن عمروالخزاعي رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: اللهم إني أحرج حق الضعيفين : اليتيم والمرأة (رواه النسائي)
Rasulullah Saw bersabda: ya Allah , aku menganggap dosa bagi orang yang mengabaikan hak dua manusia yang lemah; anak yatim dan wanita.
عن مصعب بن سعد بن ابي وقاص رضي الله عنهما قال: رأى سعد أن له فضلا على من دونه ، فقال النبي صلى الله عليه وسلم: هل تنصرون وترزقون إلا بضعفائكم . (متفق عليه)
Mus’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash berkata: Sa’ad merasa dirinya mempunyai keutamaan dibanding orang yang lebih rendah darinya. Maka Rasulullah SAW bersabda: tidaklah kamu akan mendapat kemenangan dan rizki kecuali karena bantuan orang-orang rendah (lemah).