Asy Syams (Matahari)
amirfath.com, Tadabur Surah Asy Syams (91), Des 2020 – Allah bersumpah dengan tujuh macam ciptaanNya dalam surat ini, diawali sumpah dengan Asy Syams. Oleh karena itu surat ini diberi nama Asy Syams (matahari) satu-satunya ciptaan yang mampu menerangi alam semesta pada siang hari.
Adapun hubungan surat ini dengan surat sebelumnya: (a) Dalam surat Al Balad diakhiri dengan mengenalkan ashabul maimanah (golongan kanan) dan ashabul masy amah (golongan kiri), kemudian dalam surat ini Allah menjelaskan maksud dua golongan manusia tersebut dengan amalnya masing-masing dalam firmanNya qod aflaha man zakkahaa, wa qod khoba man dassaha. (b) Di akhir surat terdahulu Allah menggambarkan apa yang akan dialami orang-orang kafir di akhirat yaitu mereka akan dimasukkan neraka, dan di akhir surat ini Allah menggambarkan apa yang akan dialami sebagian orang-orang kafir seperti kaum Tsamud di dunia yaitu Allah menurunkan adzabNya dengan menghancurkan mereka.
Sumpah-sumpah Allah (1-8)
Allah membuka surat ini dengan bersumpah atas tujuh ciptaannya: (a) Matahari yang menerangi alam semesta di waktu duha. (b) Bulan yang datang mengikuti matahari setelah tenggelam. (c) Siang ketika sempurna terangnya dengan cahaya matahari. (d) Malam ketika gelapnya menutupi matahari. (e) Langit yang dipancangkan dengan kokoh tanpa tiang menunjukkan kemahakuasaan Penciptanya. (f) Bumi yang menghampar membuat penghuninya merasa aman. (g) Jiwa manusia yang mapan dan dibekali dengan fitrah untuk membedakan mana yang baik dan mana yang buruk. Rasulullah saw. setiap kali membaca ayat (wanafsiwwama sawwahaa, faalhamahaa fujuuraha wataqwaahaa) membaca do’a: Ya Allah berilah kepada jiwaku ketakwaan, Engkaulah yang mengawasi dan membimbingnya, dan Engkaulah paling baiknya siapa yang mensucikannya”.
Orang-orang Yang Bahagia dan Sengsara (9-10)
Lalu Allah menegaskan dengan sumpahnya bahwa semua manusia akan bahagia bila membersihkan jiwanya. Membersihakn dengan iman yang kokoh. Karena tidak ada pembersiha jiwa kecuali iman kepada kepada Allah dan bersungguh-sungguh mentaatiNya. Pun juga menegaskan bahwa orang-oranga yang celaka adalah yang mengotori jiwanya dengan kekafiran, dosa-dosa dan kemakiatan. Sebab tidak mungkin seseorang menjadi bahagia dengan jiwa yang kotor. Allah yang menciptakan jiwa, Dialah yang lebih tahu, kebutuhan pokok jiwa tersebut. Kebahagiaan jiwa tidak terletak pada kemagahan dunia, melainkan terletak pada ketundukan yang sempurna terhadap Allahs swt. Karena itu orang-orang yang bergelimang dosa sekalipun secara keduniaan mereka behasil, tetapi secara kejiawan ia pasti sengsara.
Hancurnya Kaum Tsamud (11-14)
Allah menceritakan kaum Tsamud (umatnya Nabi Saleh as) yang durhaka kepada Allah dan rasulNya dengan melampaui batas. Salah seorang yang paling celaka (asyqaa) melakukan pembunuhan terhadap unta Allah (naqatullah). Padahal Nabi Saleh telah memperingati sebelumnya dua hal: Pertama, janganlah sekali-kali membunuh unta Allah tersebut. Kedua, janganlah mengambil airnya kecuali bergantian, sehari untuk unta dan sehari untuk mereka. Tapi itu sangat menyulitkan bagi mereka. Namun mereka harus menerima kenyatan tersebut, karena itu adalah syarat yang harus mereka terima sebelum Allah memunculkan unta dari padang sahara sebagaimana yang mereka inginkan. Namun ternyata mereka tidak mau memenuhi janjinya. Mereka tetap mendustakannya. Bahkan unta itu kemudian dibunuh oleh seorang yang paling celaka dari mareka. Allah berfirman: “Lalu mereka mendustakannya dan menyembelih unta itu, Itulah akibatnya, Allah setelah itu menurunkan azdabNya untuk seluruh kaum Tsamud. Allah berfirman: maka Tuhan mereka membinasakan mereka disebabkan dosa mereka, lalu Allah menyama-ratakan mereka (dengan tanah). Dalam ayat lain: “Adapun kaum Tsamud maka mereka telah dibinasakan dengan kejadian yang luar biasa ( QS. Al haqqah 69:5).
Allah Maha Perkasa (15)
Dia akhir surat ditegaskan bahwa Allah tidak takut akan akibat yang akan terjadi setelah menurunkan adzabNya kepada kaum Tsamud tersebut. Allah tidak takut ancaman siapaun. Allah tidak takut dampak apapun dari segala apa yang Ia tentutkan. Dialah fa’aalul limaa yriid (mempunyai kemauan mutlak apa yang Ia kehendaki). Dialah Allah yang maha bijak dan maha mengetahui atas apa yang akan terjadi.
Tafsir Al Hikmah
Dr. Amir Faishol Fath